Kau Mencintaiku?

“Kau mencintaiku?”

“Kenapa?”

“Hanya ingin tahu.”

“Haruskah aku mengatakannya?”

“Mungkin.”

“Kau hanya main-main?”

“Tidak.”

“Lantas?”

“Lupakan saja.”

“Kau tak ingin tahu?”

“Mungkin tidak.”

“Katanya kau ingin tahu apakah aku mencintaimu.”

“Aku tahu kalau kau mencintaiku.”

“Lalu kenapa kau bertanya seperti itu?”

Terdiam…

Hening, ramai hanya di pikiran masing-masing.

“Tanyalah.”

“Apa yang mesti aku tanyakan?”

“Apa saja.”

“Misalnya?”

“Terserah.”

“Hmm.”

“Ayo, jangan diam.”

“Kenapa kau minta aku bertanya?”

“Aku hanya ingin ngobrol.”

Ngawi, 7 Oktober 2011

Terinspirasi dari salah satu cerpen Agus Noor dalam buku kumpulan cerpennya: Potongan Cerita di Kartu Pos

Merantau

Merantaulah!

Tanpa berpisah rumah, singa tak mungkin memangsa

Tanpa berpisah busur, panah tak mungkin mengena

Mentari jika berdiam saja di ufuk, dari Arab hingga ‘Ajam tentu mengutuk

Emas pun serupa debu saat di tanahnya

Gaharu pun sepadan kayu di hutannya

Kau berkelana ke sana, kau mulia dipuja-puja

Kau merantau ke sini, kau semulia emas murni

Syi’ir Imam Syafi’i

Cerita Tentang Sebuah Geng

Ini cerita tentang sebuah geng, geng remaja yang ada di sekitarku. Sebuah geng yang menyerupai geng-geng remaja kebanyakan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, geng adalah sekelompok remaja yang terkumpul karena kesamaan latar belakang, bisa juga diartikan sebagai sebuah gerombolan. Geng kami juga hadir dengan kesamaan latar belakang, dan kami juga sering bergerombol dalam sebuah lingkaran-lingkaran kecil, entah, apapun yang diperbincangkan.

Geng kami juga memiliki base camp atau semacam markas, tempat kami biasa mangkal. Di sinilah yang membedakan kami dengan geng-geng yang lain. Tempat mangkal kami adalah musala-musala dan masjid yang tersebar di beberapa titik di dusunku.

Siklus yang terjadi pada geng-geng kami hampir sama dan cenderung statis dari generasi ke generasi. Ketika masih kecil, kira-kira seumuran anak SD dan awal SMP, selepas magrib, tempat nongkrong kami adalah musala-musala itu. Kalau anak-anak kecil itu tidak mau berangkat, siap-siap saja dapat jiwitan dari Simbok. Nongkrong dalam arti yang sebenarnya, karena tidak semua anak yang ada ‘nongkrong’ juga di depan Mbah Yai, nyorog kalau istilah pondoknya.

Musala dan masjid kami, menjadi semacam pusat peradaban dan ajang perencanaan. Tidak jarang, apapun kegiatan yang akan kami lakukan selalu dimulai dengan obrolan-obrolan ringan di ‘markas’ geng ini, tentu karena memang para anak-anak ngumpulnya ya disini.

Bergulirnya waktu, dan usia kami ikut bertambah tahun demi tahun. Mulai terjadi penokohan dan pencarian identitas. Mulai tampak siapa-siapa yang akan menggantikan peran Kang Katirin sebagai ‘juru’ ngajar TPA, atau peran Kang Jiyo sebagai ‘juru’ adzan tetap. Sebaliknya, semakin kelihatan pula siapa-siapa yang mulai mbalelo. Mulai meninggalkan geng, untuk mencari geng lain yang bermarkas di perempatan kampung, atau di rumah salah satu pentolan geng mereka.

Terjadi seleksi alam, anggota geng kami makin lama makin sedikit. Tapi tak perlu dikhawatirkan Kawan, karena yang namanya siklus, pasti akan berputar-putar. Hilang satu, tumbuh yang lain. Para balita mulai menginjak bangku SD, dan secara otomatis mereka akan direkrut menjadi anggota geng kami yang baru. Murid-murid SD sudah memakai seragam biru putih, dan sudah ada yang bersiap-siap menggantikan peran Kang Katirin atau Kang Jiyo lagi. Begitu seterusnya.

Tapi tampaknya, siklus itu akan terhenti suatu saat nanti atau minimal menjadi kacau. Anak-anak SMP sudah mulai ‘keluar kampung’, mencari hal dan kesenangan baru di tempat yang lebih ramai. Tak sulit lagi, karena motor-motor keluaran terbaru maupun jenis motor yang baru dijual pemilik lawasnya sudah menjadi tunggangan resmi, menggantikan sepeda onthel. Para juniornya tak mau kalah, lepas magrib lebih suka nongkrongin serial Bernard Bear daripada nongkrongin a-ba-ta di musala. Simbok? Siapa peduli, wong sekarang sudah sayang anaknya kok,udah gak tega njiwit-njiwit lagi. Markas kami tak lagi menjadi ajang perencanaan, karena kami sudah bisa ‘ketemu’ tanpa harus ngumpul. Tinggal kirim sms, sampai juga maksud hati diutarakan.

Nasib…! Nasib…!

Kalau begini terus, siapa nanti yang akan menggantikan Mbah Yai jadi imam subuh. Kalau beliau ‘dipanggil’, tinggal dua yang rutin jadi jamaah, tiang musala dan tiang mic.

Anggota Geng

.::anggota geng yang masih SD. inilah rutinitas pokok dari geng kami::.

 

.::geng kecil, beberapa diantaranya akan siap menggantikan tugas Kang Katirin atau Kang Jiyo::.

 

.::geng remaja yang masih betah nongkrong di markas::.

 

.::calon ummahat, anggota geng yang baru tamat SD dari golongan akhwat::.

 

.::keseluruhan anggota geng::.

Merapi#1112010

Alam dengan sangar menampakkan taringnya. Kini Merapi, dan kita melongo menanti giliran.

Ide “MAMA Loundry”

Sebagai mahasiswa yang sok sibuk, kadang masalah nyuci baju sering tidak tersentuh, kadang karena banyak kerjaan dan tugas, tapi seringnya karena malas…

Solusi yang biasa dilakukan, pergi ke tempat loundry, yang beruntungnya tepat berada di samping kosku. Namun, sering aku mempertimbangkan masalah kesucian pakaian yang aku loundry-kan. Penting kan, kalau nggak suci nanti jadi masalah kalau dipakai untuk salat. Jadi sebisa mungkin, kalau bener-bener memang nggak sempat, baru aku loundry-kan baju-bajuku.

Berkaitan dengan masalah suci di tempat laundry ini, barusan aku nemu  postingan yang menjawab kegundahan dari para pelanggan laundry yang mempertimbangkan masalah ini.

Posting-nya ada di sini, sekaligus ngasih iklan gratis buat Mbah Jiwo sebagai pemilik usaha, dan bagi temen-temen yang kebetulan berdomisili di Malang.

Laundry dengan ide memberikan jaminan kesucian dari baju-baju yang dilaundry. Bagus, selain memberikan ketenangan batin, adalah ide cemerlang untuk menarik pelanggan yang memang mempertimbangkan masalah kesucian, terutama pada pakaian yang dikenakannya.

Menunggu ide-ide seragam pada laundry-laundry di Kalimongso.

Atau dimulai saja. Ayo, siapa yang tertarik bisnis laundry…?

Banner MedCen

Hari ke dua belas Ramadhan, bagaimana semangat teman-teman? Semoga makin asyik aja… (TPI?)

Sambil ngabuburit, iseng bikin banner untuk website-nya Media Center. Aku bikin dua pilihan warna latar, ada yang transparan dan ada yang hitam, silakan pilih, tergantung selera masing-masing.

Ini contoh bannernya,

kalau ada yang berminat, terutama para MaBeng, silakan kirim e-mail, nanti aku kasih HTML code-nya.

Salam Pers Mahasiswa!

Hujan Pasir

Di luar, kau memekik,

Membangunkan dari tidur lelapku.

: “Hujan badai akan turun,

lihatlah di luar begitu pekat!”

: “Itu bukan hujan, itu pasir.

Hujan tidak akan pernah turun di sini.

Itu badai pasir yang tiap hari hadir.

Lebih baik badai hujan datang,

kalau perlu banjir dengan halilintar menyambar.

Daripada pasir, pasir, dan pasir.

Tersamar bagaikan hujan, namun kandas lebih kasar.”

Jurangmangu, 6 Ramadhan 1431 H

Demonstrasi, Mahasiswa Aktif atau Mahasiswa Eksis?

Perbandingan persamaan pada judul di atas memang mengundang cukup kontroversi. Banyak yang mempertanyakan esensi dari berbagai tindakan mahasiswa yang sering turun ke jalan. Banyak pula yang mempertanyakan letak identitas kemahasiswaan ketika mereka berdemonstrasi, atau lebih dikenal dengan sebutan turun ke jalan. Apakah tidak sama saja dengan pemuda-pemuda lain, toh mereka yang tidak menyanadang status mahasiswa pun bisa melakukan yang seperti itu.

Walaupun ada sebagian kalangan masyarakat yang mendukung aksi seperti itu, namun tetap saja tidak dapat dipungkiri, ada banyak masyarakat yang mengecam tindakan mahasiswa tersebut. Banyak yang menganggap aksi mereka sia-sia dan hanya membuat kacau jalanan, meresahkan pedagang kecil di sekitar, dan masih banyak pembenaran-pembenaran lain yang mendukung pendapat mereka. Dan yang membuat kita semakin mempertanyakan esensi dari aksi para mahasiswa ini adalah, sebagian yang mengecam aksi mereka ini adalah masyarakat yang juga skeptis, dalam artian memang tidak percaya dengan kinerja pemerintah, tapi juga tidak setuju dengan cara mahasiswa menentang pemerintah.

Hal ini diperparah dengan beragam fakta di lapangan yang memang pada kenyataannya menyudutkan mereka (mahasiwa). Berita-berita di televisi dan beragam media cetak semakin menguatkan pendapat bahwa aksi mahasiswa dengan turun ke jalan adalah sia-sia. Berita-berita yang tersaji besar kemungkinan berisi sekelompok mahasiswa yang berusaha memblokade jalan, baku hantam dengan aparat kepolisian dan akhirnya merusak fasilitas umum, bahkan membuang-buang sampah dan menambah kotor lingkungan kota yang semakin menambah berat tugas ‘pasukan kuning’ yang relatif tidak mendapat bayaran tambahan untuk membersihkan sisa-sisa demonstrasi para mahasiswa. Perilaku-perilaku tersebut belum menggambarkan cermin mahasiswa yang intelek dan berpendidikan. Seperti yang tertulis pada paragraf awal, orang yang bukan mahasiswa pun dapat melakukan hal yang sama. Lalu, apa bedanya? Continue reading

Tarian Ombak

Menari di atas ombak.

Bertikai dengan gelombang pekat.

Menggelinjang ditingkahi jahilnya lidah ombak.

Tarianku tak butuh dirimu.

Segera menyingkir dariku.

Enyah purna dari hadapanku.