Category Archives: mari berbagi

Trilogi Insiden: Fakta dari Sebuah Fiksi

“Ketika jurnalisme dibungkam , sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, tapi kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri.”

IMG_20130221_172250Buku Trilogi Insiden sebenarnya merupakan tiga buah buku yang diterbitkan berbeda dan pada tahun yang berbeda pula, lantas digabungkan menjadi satu oleh penerbit Bentang Pustaka pada tahun 2010. Ketiga buku yang digabung dalam Trilogi Insiden ini adalah Saksi Mata, Jazz, Parfum & Insiden, dan Ketika Jurnalisme dibungkan Sastra Harus Bicara.

Buku pertama, Saksi Mata adalah buku yang berisi kumpulan cerpen, terbit pada tahun 1994. Buku kedua yang berjudul Jazz, Parfum & Insiden merupakan sebuah novel –Seno Gumira Ajidarma selaku pengarang menyebutnya dengan Roman Metropolitan– terbit pertama kali pada tahun 1996. Sedang buku ketiga, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara merupakan buku yang berisi kumpulan esai, terbit pertama pada tahun 1997.

Pembungkaman Fakta?

Kesamaan latar belakang merupakan kata yang menurut saya pas untuk menggambarkan kenapa ketiga buku ini digabungkan, walaupun SGA sendiri dalam buku ini menentang korelasi antara karya sastra dengan latar belakang penulisannya. Continue reading

Prof. Djokosantoso Moeljono: Jawa itu Disiplin

Jamak diketahui dalam pandangan masyarakat awam bahwa orang jawa itu kesannya klemar-klemer, ragu-ragu, ewuh pakewuh, lamban, tidak tegas dan kata-kata yang berkonotasi semacamnya. Anggapan seperti ini muncul bisa jadi disebabkan karena kita, atau saya memang melihatnya demikian. Lihatlah Solo yang masih begitu kental –selain Jogja– dengan adat istiadat dan budaya jawa telah menjelma menjadi perlambang ‘kelemah-lembutan’ tersebut. Bahkan ada sebuah guyonan yang menyebut perempuan asal Solo dengan sebutan Putri Slow yang merupakan plesetan dari Putri Solo.

Pro. Djokosantoso Moeljono, guru besar UGM dan mantan Dirut BRI dalam suatu wawancara sungguh menolak pandangan kebanyakan orang terhadap kepribadian orang jawa yang seperti ini.

“Itu Jawa yang terjajah. Jawa yang sesungguhnya itu Mataram.” Katanya merujuk nama sebuah kerajaan besar yang pernah bercokol di Pulau Jawa dengan Jogja sebagai pusatnya.

sumber: wikimedia

Sultan Agung Hanyokrokusumo
sumber: wikimedia

Salah satu raja terbesar yang pernah memerintah kerajaan Mataram adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo, beliau mempunyai salah satu value yang berbunyi, lamun sliro assoring jurit ing ngaloko ojo wani mulih-mulih ning Jowo luwih becik sliro mati. Jadi kalau kamu kalah bertempur, jangan pulang, lebih baik mati. Itu persis sama dengan nilai-nilai yang tumbuh di Jepang. Bedanya kalau Jepang itu seppuku atau harakiri, kalau kita (jawa) dipenggal di leher. You have to achieve your target, your task.

Ada sebuah kisah menarik yang terjadi ketika bangsa ini masih dijajah Belanda. Pada tahun 1627, Sultan Agung Hanyokrokusumo memimpin Mataran menyerbu Batavia. Pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Mandurarejo didampingi Adipati Ukur dan Banaspati. Dalam pertempuran selama 4 bulan itu, ternyata mereka kalah. Mandurarejo sebagai manggoloyudho, pulang menghadap Sultan. Ia melapor, “Kanjeng Sultan, maaf, saya kalah. Saya mohon ampun, mohon keringanan hukuman: jangan keluarga saya ditumpas.” Ia (Mandurarejo) kemudian pulang, berendam, mandi di rumah, melaksanakan salat zuhur, pakai baju ihram kemudian berangkat menuju alun-alun dan lehernya dipenggal. “Ini real.” Kata si profesor.

Real javanesse juga punya nilai-nilai disiplin tinggi. Jer basuki mowo bea, supaya kamu maju harus berlatih dengan disiplin tinggi. Prof. Djokosantoso lantas menceritakan pengalaman masa kecilnya di Mangkunegaran, Kasunan. Sebelum akil baliq kami (Prof. Djokosantoso dan teman-temannya) dikumpulkan, setelah akil baliq dipisahkan keputran dan keputren. Kami dilatih: ilmu kesusasteraan dan agama, ilmu kenegaraan, dan ilmu kanuragan (silat, naik kuda). Untuk berhasil, baik laki maupun perempuan harus mempunyai disiplin tinggi. Mereka juga dididik dengan nilai-nilai kehormatan jawa.

Sedangkan operational values-nya adalah hangroso handarbeni, wajib melu ngopeni, dan ngulat saliro hangroso wani. Hangroso handarbeni itu adalah sense of belonging, tapi hanya sense (rasa), bukan menguasai atau mengambil paksa. Wajib melu hangopeni, sense of maintaining, memelihara baik-baik segala sesuatu dengan kesungguhan. Mulat sariro hangroso wani, introspeksi diri berani dan berkata apa yang benar. Sebaiknya manusia itu bersama-sama menyuarakan kebenaran. Namun saat ini kita bersama-sama membenarkan sesuatu.

“Darah itu merah Jenderal, Jawa itu disiplin Kapten,” said someone.

disarikan dari buku Cracking Values karya Rhenald Kasali, Ph.D

Tetiba Memperdebatkan Gegara

Masih menyambung tulisan sebelumnya tentang penggunaan kata tetiba yang menurutku agak aneh karena tidak ditemukan dalam KBBI, maka untuk tulisan kali ini aku akan sedikit menyinggung bagaimana sebenarnya kata tersebut bisa muncul.

Hal ini bermula karena masih ada rasa penasaranku tentang penggunaan kata tersebut –tetiba, dan aku menemukan satu lagi yaitu gegara–. Akhirnya dengan sedikit googling ketemu juga asal muasal dari pembentukan kata-kata itu. Dulu ketika awal kemunculannya, aku sudah pernah surfing di internet, tapi belum menemukan artikel yang menjelaskan hal tersebut, tapi belakangan ketika surfing lagi, sudah dapat ditemukan beberapa artikel yang menyinggung tentang pembentukan kata tersebut.

Pembentukan kata yang dimaksud disebut dengan reduplikasi dwipurwa atau dapat juga dikatakan sebagai reduplikasi parsial, hal ini dikenal dalam ilmu pembentukan bahasa (morfologi). Proses ini mengulang bagian depan atau suku kata awal dari sebuah kata dasar. Pengulangan ini biasanya diikuti dengan pelemahan vokal pertama. Contohnya, lelaki dari laki-laki dan beberapa dari berapa-berapa. Contoh dari reduplikasi dwipurwa yang mendapat kombinasi akhiran -an, seperti pepohonan, rerumputan, dan bebatuan. Proses ini tidak dapat mencakup semua kata ulang, misalnya tidak ditemukan bentuk rerumahan yang berasal dari kata rumah-rumahan (gegara dan tetiba termasuk yang tidak ditemukan).

Pemakaian bentuk gegara dan tetiba tidak menyalahi kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Hal ini diungkapkan Totok Suhardijanto, pengajar Program Studi Indonesia FIB UI. Hanya saja ia belum masuk dalam kata baku yang tercantum dalam KBBI.

Masih menurut Totok, salah satu fungsi pengulangan dwipurwa adalah menciptakan kata baru yang dapat mewakili konsep tertentu. Misalnya, jejaring dari jaring dan tetikus dari tikus. Atau, fungsi lainnya adalah memendekkan bentuk ulang. Misalnya, laki-laki menjadi lelaki atau pohon-pohonan menjadi pepohonan.

Kiranya, berdasarkan teori di atas kata tetiba muncul dari kata tiba-tiba dan gegara muncul dari kata gara-gara yang berfungsi untuk memendekkan bentuk ulang. Bisa jadi, ini adalah fenomena bahasa yang muncul. Bisa jadi, ikut dibakukan semacam kata bini yang berasal dari bahasa percakapan, tetapi sekarang masuk ke dalam lema Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Sampai saat ini kata-kata yang disebutkan di atas sama levelnya dengan kata-kata sebangsa ciyus, enelan yang tidak (belum) diakui sebagai kata baku bahasa Indonesia, bedanya kata tetiba dan gegara lebih intelek karena ada teori bahasa yang melatarbelakanginya. Masalah kebakuan kata dalam prosesnya sebagi kata baku yang diakui oleh KBBI memang cukup debatable. Bisa jadi kata yang dianggap aneh saat ini bisa dibakukan dan masuk dalam KBBI atau mungkin akan hilang dengan sendirinya karena pamornya sudah mulai hilang dan pengguna bahasa sudah menemukan ‘mainan’ baru yang bisa digunakan sebagai fashion dalam berbahasa.

referensi: intisari & Fitria Sis Nariswari

Ikhlas

Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik. Yang disebut ikhlas adalah ketika Allah menjagamu dari keduanya
(Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah)

Tema khotbah Jumat hari ini adalah tentang “ikhlas”

*aku gak tidur kan.. 😀

Keukenhof, ingin sekali pergi ke sana…

Quote

Ketika seseorang bertemu …

Ketika seseorang bertemu dengan orang yang mengetahui aibnya dan menyimpannya, perumpamaanya adalah seperti syetan bertemu dengan orang beriman. Ada rasa takut, sungkan, gemetar, dan merasa kerdil di hadapannya.

Ketika seseorang bertemu dengan orang yang mengetahui aibnya dan telah menyebarkan serta menggosipkan aib tersebut, perumpamaannya adalah seperti segolongan umat yang ingkar kepada nabinya. Ada perasaan marah, sedikit takut, benci, namun Ia tidak mampu berbuat apa-apa

:D, quote yang lucu

Isbat Lancar, Bercermin ke Mesir

SAAT bermukim di Kairo, Mesir, saya sempat merasakan datangnya awal Ramadan, awal Syawal, dan Lebaran Haji pada 2010. Penetapan awal puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha di sana sangat ”lancar, aman, dan terkendali”.

Karena itu, saya kira sangat pantas kalau kita belajar dari mereka. Apalagi, kita tahu, Mesir dengan Al Azhar-nya menjadi salah satu kiblat dunia dalam keilmuan Islam. Siapa tahu, kita bisa memperoleh inspirasi dalam menyelesaikan ”masalah abadi” yang sangat khas Indonesia ini.

Hampir setiap terdengar perbedaan penetapan waktu ibadah di Indonesia, sejumlah kalangan di Mesir menanggapi dengan ”senyuman aneh”. Mereka, rupanya, tidak bisa mengerti kenapa persoalan yang di Mesir sangat simpel tersebut menjadi ”hiruk pikuk” di Indonesia. Di mana letak masalahnya?

Menyongsong Ramadan, di Kairo suasananya sangat hangat. Tidak hangat oleh isu penetapan permulaan puasa, melainkan oleh semangat menyambut datangnya bulan mulia. Hampir di setiap jalan dan gang-gang mereka menyambutnya dengan lampu tradisional berwarna-warni yang dikenal dengan sebutan Fanus. Jauh-jauh hari mereka sudah tahu bahwa Ramadan akan jatuh tanggal sekian karena sistem kalendernya memang sudah mapan.

Meski demikian, pemerintah memang juga mengadakan sidang isbat untuk menetapkan awal puasa. Namun, sidang itu berjalan sangat lancar, hampir-hampir tak ada masalah berarti. Pengumuman penetapan awal puasa di Mesir, tampaknya, hanya menjadi ritual atau ”selebrasi” bagi permulaan ibadah bersama. Bukan ”perjuangan hidup dan mati” ala sidang isbat di Indonesia, yang sampai ada walk-out segala.

Sore itu, saya sedang bertamu di rumah Minister Counselor KBRI Pak Burhanuddin Badruzzaman. Obrolan kami, salah satunya, adalah tentang penetapan awal ibadah di Mesir. Dengan tertawa dia mengatakan bahwa di Mesir tak pernah ada ribut-ribut soal hilal. Juga, tidak ada ribut-ribut soal perbedaan awal puasa maupun Idul Fitri. Apalagi soal Lebaran Haji. ”Orang sini memandang kejadian di Indonesia itu sebagai kejadian aneh bin ajaib,” ujarnya lantas tertawa.

Kenapa di Mesir soal tersebut bisa sedemikian mapan? Ada tiga hal yang mendasari. Yang pertama, mereka menyerahkan persoalan kepada ahlinya. Masalah penyaksian hilal diserahkan kepada lembaga astronomi yang berkompeten. Hasil perhitungan mereka sudah dipakai dasar untuk menyusun kalender Hijriah Mesir. Karena itu, penguasaan terhadap masalah hilal tersebut memang sudah menjadi ”makanan sehari-hari” mereka.

Meski demikian, menjelang akhir Syakban, lembaga astronomi Mesir tetap melakukan pengamatan di beberapa lokasi, termasuk observatorium terbesar di pinggiran Kota Kairo: Helwan. Tak ada masyarakat awam yang boleh melakukan hal itu karena bisa menimbulkan keraguan atas hasilnya. Berbeda dari di Indonesia yang siapa saja boleh melakukannya, asalkan di bawah sumpah. Karena itu, ketika hal tersebut benar-benar terjadi -ada penduduk yang mengaku melihat hilal dan masyarakat di kawasan tersebut memutuskan tarawih malam itu juga-, malah muncul masalah tambahan.

Yang kedua, lembaga Darul Ifta’ di Mesir sangatlah berwibawa. Itu adalah lembaga fatwa semacam MUI di Indonesia. Isinya para ulama fikih Al Azhar yang ketika itu diketuai Dr Ali Jum’ah. Dia digelari Mufti Agung Mesir. Fatwanya sangat didengar umat. Dengan berdasar pada hasil pantauan para ahli astronomi itulah Darul Ifta’ memberikan fatwa tentang kapan puasa mestinya dimulai. Dengan demikian, tidak ada perbedaan tafsir atas data astronomi yang dihasilkan.

Sidang isbat dilakukan di kantor Darul Ifta’ dengan dihadiri sejumlah tokoh pengambil keputusan. Prosesnya berlangsung sangat singkat dan tidak bertele-tele. Hampir-hampir seperti seremonial belaka. Tidak ada adu argumentasi yang berlangsung sengit seperti di sini.

Setelah mendengarkan lantunan ayat suci Alquran, grand mufti langsung membacakan pengumuman lebih dulu menyebutkan landasan keputusan tersebut. Yakni, berdasar pada data hilal dari lembaga astronomi yang diterima serta sejumlah ayat dan hadis yang menjadi rujukan. Acara pun selesai. Kemudian ditutup dengan lantunan ayat suci Alquran kembali.

Hadir dalam sidang isbat tersebut, antara lain, adalah grand syekh Mesir yang diposisikan sebagai sesepuh umat Islam, gubernur Kairo yang mewakili presiden Mesir, menteri kehakiman terkait dengan ketetapan tersebut sebagai produk hukum, dan menteri agama yang membawahkan bidang itu. Selebihnya adalah para ulama dan duta besar wakil dari berbagai negara sahabat. Semua undangan tersebut hanya menjadi saksi atas penetapan awal Ramadan.

Faktor ketiga yang membuat pengumuman penetapan itu sedemikian lancar adalah kepemimpinan serta pemerintahan yang kuat. Dalam kondisi normal, pengumuman itu dilakukan lembaga fatwa Darul Ifta’. Tetapi, jika terjadi perbedaan, pemerintah akan turun tangan untuk menyatukan segala perbedaan. Sebab, selain ibadah personal, puasa Ramadan dan Idul Fitri merupakan ibadah yang bersifat sosial secara kolektif. Pemerintah berkepentingan untuk mengatur masyarakat agar suasana tetap kondusif.

Saya dan Pak Burhanuddin waktu itu sempat berandai-andai, membayangkan betapa indahnya ya jika proses seperti itu bisa terjadi di Indonesia. Kita bakal benar-benar bisa beribadah Ramadan dengan hati yang bersih. Dan menikmati indah Idul Fitri dengan hati yang suci…! Insya Allah.

oleh Agus Mustofa; Penulis buku Serial Tasawuf Modern

dimuat oleh Harian Jawa Pos tanggal 25 Juli 2012