Category Archives: fiksi pendek

Perempuan yang Selalu Tersenyum

Perempuan itu membawa tiket bus dengan nomor kursi 7C, tepat di sampingku yang membawa tiket bernomor 7D. Diantar oleh seorang laki-laki, berusia sekitar 50-an.

Beberapa menit suasana hening, tak ada inisiatif dari kami untuk membuka percakapan walau hanya sekadar basa-basi. Terlebih aku, kuacuhkan saja mengingat pengalaman sebelumnya dengan kondisi yang sama, teman duduk perempuan, berakhir dengan hilangnya dompetku.
“Nanti turun mana Mas?” tanya perempuan itu basa-basi.
“Ciputat,” kataku tanpa memandang wajahnya.
“oh…”

Selesai. Suasana kembali sepi. Beberapa saat kemudian ia kembali berkata, “Pergi ke Makassar, aku malah ke Jakarta, ke tempat kakakku, soalnya di Solo sendirian.”
“Oh, keluarga, orang tua semuanya ke Makassar?” iseng kutanggapi.
“Nggak, orang tua malah di Solo semua, yang tadi nganter aku yang ke Makassar.”
“Emang tadi siapa, bukan ayahmu tho?” kataku masih tanpa memandang wajahnya.
“Bukan, itu tadi suamiku, baru aja nikah,” jawabnya.

Spontan aku memandang wajahnya, menatap lekat bola matanya, berusaha mencari jawab pada binar wajahnya dengan harapan menemukan tanda bahwa ia hanya bercanda. Tapi tak kutemukan jawab itu. Ia memandangku dengan sesungging senyum di bibirnya. Tampak mengerti akan kebingunganku, ia meneruskan ceritanya, “Iya, dia memang suamiku, kami baru menikah dua minggu yang lalu. Kami menikah siri, karena dia tidak ingin istri keduanya tahu,” jelasnya. Continue reading

Advertisements

asap rokok

smoke“Sudahlah Pak… berhenti”

“Memangnya kenapa, wong ini uangku sendiri”

“Daripada dibakar tak berguna, lebih baik kan buat yang lain tho

“Tak berguna bagaimana, apa kamu tak lihat aku menikmatinya”

“Hah… ya sudahlah. Terserah Bapak saja…”

Sang istri meletakkan secangkir kopi di meja depan suaminya. Di sampingnya, sepiring singkong goreng yang masih kepul-kepul turut menemani hembusan asap yang berkali-kali keluar dari mulut Sang suami. Laki-laki itu terlihat sangat menikmati hembusan demi hembusan yang ditawarkan kenikmatan rokoknya. Dia hirup rokok itu dalam-dalam dengan sangat perlahan, hingga keluar bunyi kretek-kretek dari ujung rokoknya yang terbakar. Setelah asapnya terkumpul di mulut, tak lekas-lekas dikeluarkannya. Dia buka mulutnya sedikit untuk membiarkan sebagian asap rokok keluar, kemudian dia hirup kembali sisanya dengan mengatupkan kedua giginya. Baru setelah itu dihembuskannya sisa asap rokok itu melalui mulut dan hidungnya. Ah, nikmat sekali tampaknya.

Sang istri sudah mulai jengah dengan kebiasaan suaminya. Rokok itu telah beberapa kali membuat dirinya harus menginap di rumah sakit, menemani sang suami yang terkapar tak berdaya karena setengah dari paru-parunya telah di amputasi karena hitam dan membusuk. Tidak jarang pula uang yang seharusnya menjadi jatah perut mereka hari ini, di rampas oleh racun nikotin yang menjalari tubuh sang suami. Ya, nikotin itu rupanya telah membuat sang suami tak mampu melepaskan diri dari cengkeraman candu yang melilitnya. Nikotin itu telah membuatnya kecanduan.

“Bapak kan sudah tidak muda lagi”

“Memangnya kenapa, apa aku salah kalau sudah tua”

Mbok yao, rokoknya dikurangi sedikit”

“Sudah, jangan mengurusi rokokku terus” satu batang rokok kembali dinyalakan oleh sang suami.

“Kata orang rokok bisa memendekkan umur!” sang istri agak ketus.

Tak disangka, laki-laki itu malah tertawa lebar, disertai batuk yang terdengar menderu-deru.

“Hebat benar, Tuhan bisa dikalahkan oleh rokok” dan gelak tawanya makin nyaring di senja yang hangat itu. Sinting, dia membawa-bawa nama Tuhan demi sebatang rokok sialan itu. Continue reading

di atas bus 44

“Bak bulus…! Bak bulus…!

“Blok M…! Blok M…!

Silih berganti, kondektur bus dan metromini berteriak-teriak di jalan depanku, sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku hanya menggeleng pelan, mengacuhkan mereka. Sedari tadi aku menunggu bus no 44, jurusan Ciledug-Senen. Sudah hampir lima belas menit aku menunggu, namun bus yang kumaksud belum juga melintas. Aku mendesah maklum. Bus itu memang terhitung jarang jumlahnya.

Lima menit kemudian, waktu masih kupakai untuk berdiri di depan Supermarket Giant. Tetap dalam kebosanan menunggu. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku pelan, aku menoleh, dia tersenyum padaku.

“Eh, kamu Rid, Assalamu’alaikum”, Sapaku kepadanya, sembari tanganku menjabat erat tangannya.

“Wa’alaikumussalam, mau ke mana Akh”, Jawabnya, sambil tangannya menyambut jabatan tanganku.

“Ini, mau ke Senen, mengunjungi saudara. Mumpung lagi liburan, itung-itung silaturrahim juga. Kamu sendiri mau ke mana?”

“Saya juga mau ke Senen, beli tiket kereta. Mau pulang ke Jogja, mumpung lagi liburan kan!”, Jawabnya sambil tersenyum. Continue reading

Mbah Syam*

siluet pak guruPagi masih buta, gelap seadanya. Cahaya fajar di ufuk timur masih terasa samar untuk dirasakan. Jalan ini masih lengang. Untuk beberapa saat kelengangan itu bertahan. Tak lama sesudahnya, suara gemeretak besi tua terdengar memecah kesunyian. Semakin jelas terdengar ketika roda sepeda kumbang itu beradu dengan jalanan desa Jaten yang tidak rata. Dari jauh, sepeda kumbang itu masih tertelan pekatnya kabut. Belum nampak siapa pengendara di atasnya. Semakin lama semakin jelaslah sosok itu. Dengan pakaian berwarna pudar, rambut yang tersisir seadanya, dan tas hitam terjepit rapat di belakangnya. Sosok itu mengayuh sepeda kumbangnya dengan mantap.

Pagi memang masih buta. Tapi tidak demikian dengan mbah Syam, begitulah sosok itu biasa disapa oleh anak-anak didiknya. Jarak rumah mbah Syam dengan SMA 2 Ngawi, tidak bisa dibilang dekat untuk sebuah sepeda kumbang. 20 kilometer, 45 menit, setiap pagi dan sore dia kayuh sepeda itu. Satu alasan yang membuatnya tak pernah berpikir untuk berhenti dari rutinitas melelahkan itu. Anak didik. Ya… anak didik. Mbah Syam sangat mencintai anak didiknya, dia begitu cinta akan dunia pendidikan. Tak pernah dihiraukannya keluhan dari rekan pengajarnya mengenai rendahnya gaji guru. Tetap, setiap hari dia begitu bersemangat mengayuh sepeda kumbang pemberian bapaknya, hanya dengan satu alasan sederhana, anak didik.

Pagi sudah semakin terang. Matahari yang menyembul perlahan seakan memberikan sebuah senyuman ramah kepada mbah Syam. Gerbang sekolah yang tegak, kaku berdiri, turut pula memberikan sambutan hangat kepada mbah Syam. Dia turun dari sepedanya, menatap papan nama yang tergantung di atas gerbang. Lekat matanya menatap papan nama itu. Telah 35 tahun lamanya dia mengabdi sebagai tenaga pendidik dengan gaji tak seberapa di sekolah itu. Dan tak sekalipun terlintas dalam pikirannya untuk berhenti.

Mbah Syam melangkahkan kakinya memasuki halaman sekolah dengan penuh harapan. Harapan besar untuk para anak didiknya. Seperti biasa, layaknya pagi yang sudah-sudah dia tetap menyunggingkan senyuman setiap kali bertemu dengan anak didiknya, bagaimanapun suasana hatinya. Baginya, tak ada alasan untuk tidak bangga mengabdi sebagai pendidik.

Mbah Syam terus melangkah dengan gagah, memasuki pelataran parkir untuk para guru. Memarkir sepeda kumbangnya diantara jejeran sepeda motor dan mobil yang telah terparkir rapi. Sesaat matanya memandang deretan sepeda motor dan mobil di areal pelataran itu. Kembali, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Gaji yang diterima mbah Syam tidak bisa dibilang rendah dibanding rekan seprofesinya. Hampir sama, tak terlalu jauh perbedaannya. Mbah Syam hanya kalah lihai dibandingkan dengan guru-guru ‘penguasa’ untuk mencari omzet tambahan. Ditambah, anak bungsu mbah Syam yang menderita talasemia sejak lahir, membuatnya harus berpikir ulang untuk mencoba kredit sepeda motor. Hampir dua per tiga dari gajinya perbulan, habis untuk biaya pengobatan anaknya. Pergi ke dokter, terapi gen, akupunktur, pengobatan alternatif, sampai mencoba ramuan jamu gendong pernah dilakukan mbah Syam. Yah… namanya juga ikhtiar, siapa tahu saja bisa sembuh. Toh gak ada yang tahu, dan gak ada yang bisa meramalkan, kecuali Sang Penguasa. Ya rabbul arsyil ‘adziim, ya kariim, ya ghafururrahiim… Continue reading

Bentangan Dua Sajadah

sujudpanjang

Aku suka melompati jendela kamar ketika datang malam dan kemudian tidur telentang di belakang rumah. Di situ aku bisa berpikir apa saja tanpa rasa takut bahwa gaung pikiranku akan tertangkap oleh pendengaran ibu.

Aku sering berpikir, seharusnya ibu tak perlu membenciku. Seharusnya dia mencintaiku, sama seperti ibu-ibu lain yang mencintai anaknya. Tetapi tidak. Rupanya ibu lebih suka membenciku.

Bukan hanya ibu, tetapi juga ayah. Sejak peristiwa itu, ayah terlihat lebih banyak diam dari biasanya. Ayah tak lagi menyapaku ketika berpapasan di ruang tamu, di dapur, atau di manapun di rumah ini. Dia hanya memandangku dengan sorot mata tajam, yang susah aku terjemahkan artinya, ketika bertemu. Tetapi, dari tatapan mata merah ayahku itu, aku tahu kalau dia ingin sekali melumat habis tubuhku.

Malam itu aku merasa sudah cukup dewasa. Sudah bisa untuk menentukan pilihan hidupku. Kuutarakan keinginanku untuk menikah pada ayah dan ibu. Pertama mereka senang sekali dengan keinginanku, tetapi kesenangan itu mendadak pudar. Amblas begitu saja seperti ditelan bumi, ketika kuperlihatkan foto calon menantu mereka.

Ayah diam, meresapi setiap belaian angin malam yang berhembus halus, tetapi tampak keras wajahnya, seperti menahan sesuatu yang ingin meledak di kepalanya. Sedangkan ibu, dia marah luar biasa. Dimakinya diriku habis-habisan. Tak sedikitpun dia mau mendengar penjelasanku.

“Kupikir kau sudah dewasa, sudah bisa mengatur hidup. Tetapi ternyata kau tidak becus sama sekali. Pakai otakmu!”

Kira-kira seperti itulah makian ibuku yang kuingat ketika kutunjukkan foto Salman padanya. Ayah dan ibu tak bertanya lebih jauh lagi tantang Salman padaku. Pemuda itu telah lebih dari dua tahun ini bekerja sebagai penjaga toko kelontong, tepat di samping toko kelontong milik ayahku. Mereka sudah mengetahui bagaimana sikap dan tingkah laku pemuda itu. Tetapi kupikir, mereka terlalu berlebihan menilai Salman. Memang penjaga toko kelontong tidak bisa dibilang sebagai profesi yang menjanjikan untuk masa depan, tetapi kami bisa bekerja bersama-sama nantinya. Kupikir gajiku sebagai penjaga sebuah toko swalayan, cukup untuk membantu menutupi kebutuhan-kebutuhan kami. Sedangkan sikap dan perangai Salman tampaknya tidak terlalu binal menurutkua. Dia tidak suka mabuk-mabukan atau kongkow di pos ronda seperti pemuda-pemuda lain. Merokok pun, kulihat jarang dilakukannya. Memang, dia juga tidak bisa dibilang seorang pemuda yang sholeh. Sholatnya juga masih bolong-bolong. Tetapi, bukankah semua orang bisa berubah, dan kupikir aku bisa membuatnya berubah jika kami menikah nanti. Continue reading

untuk kata: ISTIQOMAH

Kulangkahkan kakiku dengan ringan di jalanan berdebu depan Plaza Ambarukmo. Tanganku masih menggenggam erat secarik kertas berwarna hijau muda, selebaran tentang pemberitahuan akan sebuah seminar dengan tema yang cukup klise sebenarnya; ‘antisipasi pemanasan global’. Tetapi, hal yang membuatku tertarik untuk datang ke seminar, di tengah cuaca panas seperti ini bukan pada isi seminarnya.

wanita-berjilbab2Tempo hari, iseng aku membaca papan pengumuman di loby gedung fakultas MIPA, Universitas Amad Dahlan, Yogyakarta. Universitas yang telah dua tahun ini telah menjadi ladang amalku, sebagai pengajar pada mata kuliah mikro biologi. Aku begitu terkejut membaca nama narasumbernya : Fidia Karmila Wintari, alumnus Wesleyan University, Delaware, Ohio, USA. Nama itu begitu familiar di telingaku. Tidak salah lagi, dialah salah satu sosok yang telah membuatku seperti ini, membuatku kuat menapaki jalan dakwah ini, dengan segenap keistiqomahan yang aku miliki.

Rasanya baru kemarin Mbak Fidia tinggal satu kos denganku. Tidak bosan-bosannya mengingatkanku untuk selalu istiqomah dalam setiap aktivitasku. Rasanya baru kemarin aku mendengar teriakan mbak Fidia yang tidak bosan-bosannya mengingatkanku manakala waktu sholat telah tiba. Ah, mendadak aku jadi rindu akan sosok yang selalu berjilbab lebar itu. Ingatanku menerawang jauh, menelusuri lorong-lorong dan sekat-sekat dalam memori otakku. Delapan tahun lalu, ketika kami masih SMA di salah satu SMA favorit di Yogyakarta, dalam satu rumah kos. Seperti kejadian sore itu, sore hari yang hangat, waktu telah menjelang petang, ketika aku masih tenggelam dalam novel yang kubaca ketika terdengar suaranya,

“Vi, sholat dulu, jama’ah yuk!”

Suaranya sudah sangat kukenal. Hampir setiap hari, terutama ketika datang waktu sholat, Mbak Fidia pasti terdengar. Selalu mengingatkanku. Awalnya, aku suka diingatkan seperti itu, tetapi lama-kelamaan bosan juga mendengar teriakannya, apalagi ketika saat-saat seperti ini. Nanggung sekali kupikir, novel yang kubaca sebentar lagi juga kelar.

“Ya mbak, sebentar. Duluan aja, ntar aku nyusul”

Akhirnya, kuputuskan untuk meneruskan baca novel sebentar. Tetapi rupanya, Mbak Fidia juga tak kurang akal. Dia menghampiriku, dan duduk di bangku sampingku.

“Mbak tungguin deh.” Katanya kemudian. Continue reading

“383”

Di dalam sebuah gubug reot, di bawah jembatan Kalisoro cerita ini bermula. Tampak Tarja duduk di belakang sebuah meja usang, menatap tumpukan kertas di depannya, di bawah keremangan cahaya pagi yang belum begitu sempurna. Lagaknya sudah seperti pebisnis handal. Mengutak-atik angka di depannya, sesekali dia gigit ujung pulpen, nampak sedang berpikir. Dari arah dapur, Jamingan, anak lelakinya berlari menuju pintu. Di belakangnya, Tumiyah, istri Tarja, berjalan tergopoh-gopoh, sambil tangannya mengacung-acungkan sothil.

“Kurang ajar…!, anak setan…!, uang 3000 perak buat beli minyak diambilnya”. Maki Tumiyah keras-keras.

Tumiyah mengalihkan pandangannya ke arah Tarja.

“Kamu nggak lihat anakmu itu pak Tua…! uangku, 3000 perak, dicurinya, entah buat apa. Mana didikanmu pak Tua…!”

“Tenang saja Tum, nanti sore kita bakal kaya, aku yakin itu. Delima ini bakal jadi duit. Nanti sore, si Kontan akan ku buat bangkrut” Tarja berkata penuh keyakinan, sembari matanya tak pernah lepas dari angka-angka di depannya.

“Kaya apa…! Sudah berpuluh kali kau bilang begitu, nyatanya, uang kita ludes kau buat delima.”

Tarja tak mempedulikan umpatan istrinya. Dia masih yakin tebakannya kali ini nggak bakal meleset. Tadi malam dia mimpi aneh, mimpi itu terus berulang sampai 3 kali, dalam satu malam. Ketemu ular kepala 3. Setelah diutak-atik tak karuan, akhirnya ketemu angka 383. 3 untuk kepala ular, 83 untuk untuk simbol ular. Dia sangat yakin malam ini bakal kaya. Dia sangat yakin malam ini dia bisa bercinta dengan istrinya di Griya Arta, perumahan mewah itu.

Tarja masih asyik dengan angka-angka di depannya, ketika Jamingan masuk ke dalam rumah dengan baju yang basah kuyup. Konsentrasinya sedikit terusik.

sumpek“Dari mana saja kau heh…! Pulang-pulang baju basah kuyup begitu. Pasti kau habis mengintip janda sebelah mandi heh..! Dasar anak jaddah …” Tarja mengumpat anaknya dengan kesal. Pagi ini pikirannya sedang pusing tak menentu, memikirkan uang untuk beli delima nanti sore. Jamingan tidak mempedulikan bapaknya, dia terus saja ngeloyor ke dapur mencari makanan. Perutnya lapar, dari kemarin malam belum makan. Tarja memandangi punggung anaknya dengan kesal. Sebentar kemudian dia sudah kembali asyik dengan angka-angka di depannya.

Gubrak… Prang… Klontang….

“Dasar anak haram, masih berani pulang kau. Kau kemanakan uangku, buat beli minyak itu heh…, mana uangku…, dasar anak bejat!”

Dari arah dapur terdengar teriakan dan makian Tumiyah, diiringi suara barang-barang dilemparkan. Sejurus kemudian Jamingan berlari dari arah dapur menuju pintu keluar, masih dengan baju yang basah kuyup, ditambah wajah hitam, penuh arang terkena pukulan kayu dapur ibunya. Kembali Tumiyah berjalan tergopoh-gopoh ke ruang depan, sambil tangannya menggenggam kayu, dari tungku dapur.

“Lihat itu pak tua. Anakmu sudah tak punya moral lagi. Pagi-pagi sudah mencuri uang orang” Tumiyah kembali mengumpat pada Tarja.

“Jangan banyak bacot kau …, tutup mulutmu. Sekarang uang simpananmu pasti masih ada. Serahkan lekas padaku, barang 5 atau 10 ribu, besok kuganti dengan rumah di Griya Arta. Aku janji itu”

“Uang gundulmu, uangku buat beli minyak, tinggal 3000 perak, habis dicuri anakmu. Pergi ke pasar sana, cari uang. Jangan Cuma ngurusi delima sialan itu.”

“Delima sialan katamu…! Kamu yang sialan…! Kau tidak tahu heh. Si Karmin bisa beli tiger buat anaknya, itu juga karena delima, dan sebentar lagi aku bakal tinggal di Griya Arta, menikmati hidup”

Mimpi terus saja pak tua, terserah apa katamu. Delima sialan…!” Continue reading