Category Archives: puisi

NIKA(H)

Dalam ‘Aliran Darah’ ada Bulan, Perjalanan, Kita.

Segala senyum mengembang, sepasang tangan berhias, dan aku akhirnya tersenyum dalam hati.
“Senyumlah, biar lengkap doa terpatri”, kataku sendiri.

Aku hanya ingin memujimu,
Menyejajari langkahmu.

Akan kurangkai sepenuhnya, kata yang kemarin terserak.
Kata itu telah terangkai, tentu dengan koma, titik, seru dan tanya.
Pandang saja…
Indah…

cover depanisi1isi2denahcover belakang

Advertisements

Aku dan Siapa?

Aku dan gula-gula ketika kecil/

Manis, manis, mengais cinta yang tak pernah habis//

Aku dan madu kala kanak-kanak/

Manis, manis, pekatnya manis yang tak kunjung habis//

Aku dan anggur saat remaja/

Manis, ih asam, sabarnya anggur dituai manis//

Aku dan kurma lepas remaja/

Manis, ah keras, biji tergigit keras pula di dalam hati//

Aku dan siapa/

Dan siapa lagi nanti/

Terpaut hari menanti-nanti, masih banyak belum tercicipi//

Aku dan, hihihi/

Cinta Diri berseri-seri//

Berdamai dengan Takdir

Aku harus menyalahkan siapa. Diriku, dia, atau mereka. Atau mungkin –memang harusnya– tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Ah, bukannya takdir itu memang sudah tak bisa diganggu gugat. Logika remeh-temeh semacam ini pun masih saja bukan reaksi spontan yang muncul pertama kali.

Dan bagaimana dengan hati, kukira gampang mengucap ikhlas, tapi dalam hati siapa sangka. Hanya angin meniup saja, lalu terbang hilang tak ada. Apa aku juga perlu untuk lari ke hutan, belok ke pantai?

Muspro, disana pun tak ada siapa dan tentu tak ada apa. Tak kutemukan ia di sana.

Segala senyum mengembang, sepasang tangan berhias, dan aku hanya bisa merutuk dalam hati. “Senyumlah, biar lengkap doa terpatri”, kataku sendiri.

inpirasi: Rako Prijanto

Maharindu

Lamat-lamat, terdengar suara.

Risik yang mengusik, seperti denting jam di keheningan.

Seperti hujan yang menambah tragis.

Dan hanya kematian yang membuat manusia ingat pada Tuhan.

Segenggam saja,

hanya butuh secuil untuk membuatnya menyingkir.

Hanya butuh setitik hitam, yang membuat putih tak lagi jernih.

Dan ada kerlip cahaya yang masih ada kau rindu.

Pada satu tanda, ada hitam yang tersaput putih.

Angin yang mendesir, air yang mengalir.

Ada kalanya akan berakhir  –mati–.

Kau Mencintaiku?

“Kau mencintaiku?”

“Kenapa?”

“Hanya ingin tahu.”

“Haruskah aku mengatakannya?”

“Mungkin.”

“Kau hanya main-main?”

“Tidak.”

“Lantas?”

“Lupakan saja.”

“Kau tak ingin tahu?”

“Mungkin tidak.”

“Katanya kau ingin tahu apakah aku mencintaimu.”

“Aku tahu kalau kau mencintaiku.”

“Lalu kenapa kau bertanya seperti itu?”

Terdiam…

Hening, ramai hanya di pikiran masing-masing.

“Tanyalah.”

“Apa yang mesti aku tanyakan?”

“Apa saja.”

“Misalnya?”

“Terserah.”

“Hmm.”

“Ayo, jangan diam.”

“Kenapa kau minta aku bertanya?”

“Aku hanya ingin ngobrol.”

Ngawi, 7 Oktober 2011

Terinspirasi dari salah satu cerpen Agus Noor dalam buku kumpulan cerpennya: Potongan Cerita di Kartu Pos

Merantau

Merantaulah!

Tanpa berpisah rumah, singa tak mungkin memangsa

Tanpa berpisah busur, panah tak mungkin mengena

Mentari jika berdiam saja di ufuk, dari Arab hingga ‘Ajam tentu mengutuk

Emas pun serupa debu saat di tanahnya

Gaharu pun sepadan kayu di hutannya

Kau berkelana ke sana, kau mulia dipuja-puja

Kau merantau ke sini, kau semulia emas murni

Syi’ir Imam Syafi’i

Hujan Pasir

Di luar, kau memekik,

Membangunkan dari tidur lelapku.

: “Hujan badai akan turun,

lihatlah di luar begitu pekat!”

: “Itu bukan hujan, itu pasir.

Hujan tidak akan pernah turun di sini.

Itu badai pasir yang tiap hari hadir.

Lebih baik badai hujan datang,

kalau perlu banjir dengan halilintar menyambar.

Daripada pasir, pasir, dan pasir.

Tersamar bagaikan hujan, namun kandas lebih kasar.”

Jurangmangu, 6 Ramadhan 1431 H