Category Archives: catatan perjalanan

Aksara Cinta

Seperti halnya, saat kita berdua berjalan berdampingan. Aku terus bicara berharap ada timbal balik dari apa yang kubicarakan, tetapi saat aku melihatmu yang kudapati hanyalah dirimu yang terpaku menatap apa yang di depanmu tanpa menatapku. Maka saat itu aku akan mengatur langkahku untuk mundur dan berjalan di belakangmu, membiarkanmu menikmati duniamu dan aku hanya akan memandangimu dari jarak pandangku. Menikmati punggungmu tanpa kamu tahu, dan terus terjaga. Jika kamu memanggilku, aku akan dengan cepat melangkah berada di sampingmu.

Aku akan diam dan menunggumu.

Saat kamu berbalik dan memanggilku, aku maju berada di sampingmu. Kamu akan menoleh padaku begitu juga aku. Nanti kita akan berbincang, tertawa atau main parampaa dan kau akan menertawakanku karena aku malas berpikir, tak bisa kreatif dan kamu akan bilang, “ayo, kreatiflah…” [CRH]

Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar. Atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu –entah kapan dan kenapa–. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, marekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan. Karena cinta adalah mengalami.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud. [Dee]

A’rifuka biannii uhibbuka hubban syadiidan,
wa annanii syauq ma’aka syauqan syadiidan
. [CRH]

Advertisements

NIKA(H)

Dalam ‘Aliran Darah’ ada Bulan, Perjalanan, Kita.

Segala senyum mengembang, sepasang tangan berhias, dan aku akhirnya tersenyum dalam hati.
“Senyumlah, biar lengkap doa terpatri”, kataku sendiri.

Aku hanya ingin memujimu,
Menyejajari langkahmu.

Akan kurangkai sepenuhnya, kata yang kemarin terserak.
Kata itu telah terangkai, tentu dengan koma, titik, seru dan tanya.
Pandang saja…
Indah…

cover depanisi1isi2denahcover belakang

Kawan Lama, Apa Kabar?

08/09/2012. Yogyakarta-Ngawi. Beberapa minggu belakangan ini aku lebih suka menempuh perjalanan Ngawi-Jogja, Jogja-Ngawi dengan menggunakan jasa angkutan kereta Madiun Jaya alih-alih tetap memakai jasa Sumber Kencono, Mira atau Eka seperti yang sudah-sudah. Tidak terlalu capek kalau naik kereta, itu alasan utamanya.

Luas stasiun yang relatif kecil dibanding terminal ditambah jadwal keberangkatan kereta yang sudah pasti memungkinkanku bertemu dengan kawan-kawan lama asal Ngawi yang tengah belajar di Jogja. Ketika kereta melewati stasiun Solo Balapan, kadang tambah lagi ketemu kawan yang tengah belajar di Solo. Seperti yang terjadi sabtu kemarin. Tengah asyik membaca tabloid BOLA yang kubeli di stasiun Lempuyangan, tiba-tiba ada orang yang duduk di depanku.

“Nugroho ya..?!” sapanya mengagetkanku.

“Owh…, kamu to..”, kataku sembari mengingat-ingat, siapa nama orang ini.

Bayangan yang muncul dalam ingatanku adalah, dia memang teman satu kelasku ketika SMA kelas satu dulu. Masalahnya, kita sudah berpisah sejak kelas dua SMA karena program prnjurusan. Aku di IPA 5 dia di IPA 6 (ini pun aku tahu belakangan).

Belum kelar aku menebak-nebak namanya, dia sudah memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan standar ketika bertemu kawan lama: sekarang di mana? Kamu udah lulus kan? Kos di mana?, dan pertanyaan-pertanyaan standar lain.

Aku jawab pertanyannya satu-satu, hingga tuntas dan sekarang giliranku mengajukan pertanyaan yang tak jauh beda dengan yang dia ajukan, lebih ngirit pertanyaan malah, karena setiap dia bertanya tentang diriku, di akhir jawabanku akan aku tambahi dengan pertanyaan: “Kalau kamu?” Haha, praktis dan tidak kehilangan bahan obrolan.

Beberapa menit berbincang, aku tahu kalau dia sudah lulus S1 dari Pendidikan Biologi UNS (jurusan yang sama denganku sebelum aku berganti jurusan karena pindah ke STAN) dan katanya sekarang masih di UNS, masih ingin belajar lebih lagi di UNS. Aku yang kurang paham dengan pilihan kata yang ia pakai –belajar lebih lagi–, mengejar lebih jauh, “nglanjutin S2?” Dengan senyum malu-malu dia menjawab, “Alhamdulillah, iya”.

Aku terdiam sejenak, seperti biasa mencoba menyalurkan imaji dengan bermain-main dengan pikiranku sendiri. Dia, kawanku ini yang ketika SMA –mohon maaf– tidak terlalu menonjol dalam akademis maupun organisasi sehingga untuk mengingat namanya aku perlu mencarinya yang mungkin terselip dalam file-file lama pada ingatanku.

Entah, bagaimana mengatakannya, tapi aku kagum dan salut akan komitmennya pada ilmu dan pendidikan, mengingat jejak rekam di SMA yang kalah mentereng dengan nama-nama yang jadi langganan juara kelas dan lomba olimpiade. Bahkan seringkali ketika di kelas dengan muka polosnya kerap kebingungan karena gak nyambung dengan penjelasan bapak/ ibu guru. Namun, ketika teman-teman seangkatan lain banyak yang masih berkutat dengan skripsi, persiapan wisuda, atau bahkan masih adem ayem di ruang kuliah karena target SKS yang belum terpenuhi, ia mengejutkanku karena sudah kembali lagi ke ruang kuliah dengan santapan ilmu yang berbeda; S2 Mikro Biologi UNS. Selamat kawan.

“Semoga sukses”, kataku sebelum kami berpisah karena aku akan turun di stasiun Paron dan ia melanjutkan perjalanan sampai stasiun Geneng, sambil menatap diriku sendiri yang masih lulusan D3. Tak apa, ia memotivasi untuk tak cepat puas akan ilmu. Suatu saat dengan izin Allah, aku akan melampauinya.

#respect

*eh, sudahkah kutulis bahwa kawanku ini seorang perempuan?

Medial Collateral Ligament

09/04/2012. Medial Collateral Ligament (MCL) adalah urat yang menghubungkan (medial) permukaan bagian dalam tulang paha dengan tibia (tulang kering). Cedera pada MCL ini sering terjadi ketika lutut tertarik dengan cukup keras atau karena sobek pada beberapa serat urat akibat benturan (sumber: mbah gugel).

Nah, sekarang, apa hubungannya segala tetek bengek tentang MCL tadi denganku? Ada. Sabtu, 7 April kemarin, aku berkunjung ke rumah sakit Ngawi, mencoba ngecek kondisi lutut yang masih terasa nyeri setelah seminggu pasca senggolan dengan pantat bus. Tahu kan apa yang terjadi dengan bahasa isyarat semacam itu?! Lanjut, setelah konsultasi dengan dokter di poli orthopedi, sang dokter memberi kesimpulan kalau ‘cuma’ urat ligamenku yang bermasalah, lebih tepatnya urat MCL tadi. Disarankan minggu depan datang lagi untuk menjalani fisioterapi. Dalam satu atau dua minggu kedepan, kakiku dilarang untuk terlalu aktif bergerak atau olahraga yang berlebihan.

Pagi tadi, mencoba tanya kepada mbah gugel dengan key word cedera ligamen. Kaget, penjelasan yang muncul mengesankan kalau cedera ini tergolong parah dan perlu pemulihan dalam jangka waktu yang lama, mencapai 12 bulan (kasusnya Nemanja Vidic) bahkan sulit untuk pulih seperti sedia kala (kasusnya Marek Jankulovski).

Oke, tenang, mencoba realistis, lututku tidak terlalu sakit, memang agak sakit kalau ditekuk tapi masak harus setahun untuk bisa pulih. Searching lebih jauh tentang urat ligamen lutut, ternyata cedera yang tergolong parah adalah apabila urat ACL (Anterior Cruciate Ligament) yang kena. ACL adalah urat di dalam sendi yang menjaga kestabilan sendi lutut, menghubungkan tulang paha dengan tulang kering (tibia).Hampir sama pengertiannya dengan MCL tapi letaknya beda. Cedera semacam ini perlu dilakukan operasi untuk pemulihan (Ronaldo Brasil dan Michael owen pernah mengalami cedera ini, terbukti sampai sekarang masih berkutat dengan cedera). Sedangkan kalau ‘cuma’ MCL, tidak memerlukan operasi, cukup dengan terapi sesuai dengan tingkat keparahan cedera. Cedera ACL merupakan tipe cedera yang bisa sembuh dengan sendirinya.

Hufft…, lega. Semoga lekas pulih, sebentar lagi ada kompetisi futsal antar bidang di kantor.

Tidur atau Mimpi?

31 Oktober 2009. Mabit IMMP. Sebuah cerita lawas yang membekas. Palaksanaan acara mabit tidak ada yang istimewa, sesuai standar dan SOP mabit kebanyakan. Acara dimula lepas sholat isya, dimulai dengan Daurah Al-Qur’an (keren banget kan namanya!), dengan akh Abdul Haris Faqih dari IMMP sendiri sebagai pemateri dengan sedikit berbagi mengenai materi tahsin. Temen-temen tampak antusias menikmati suguhan materi dari akh Haris. Nuansanya bener-bener tampak seperti sharing ketimbang materi, karena banyak pula yang saling memberi masukan. Sharing dan sedikit eyel-eyelan tahsin, tampaknya lebih seru dari belajar tahsin itu sendiri, hingga tak terasa sudah hampir pukul 9 malam, dan acara tahsin sudah harus diakhiri, karena sebentar lagi ustadz Jumharudin dari Pondok Safari akan datang menyampaikan taujihnya kepada peserta mabit.

Ditunggu beberapa lama, ustadz yang dijemput akh Fajri belum juga datang. Datang sms, mengabarkan kalau agak terlambat datang, karena sedang hujan. Temen-temen saling berpandangan, heran, soalnya di luar sama sekali gak ada tanda-tanda kehadiran hujan, walaupun gerimis sekalipun. Tak apa lah, nunggu sejenak sambil tiduran.

Finally, ustadz Jumharudin datang, kajian pun dimulai. Materi yang beliau sampaikan malam ini adalah Ma’rifatul Insan. Seperti biasanya, khas dari ustadz Jumharudin, gaya penyampaian yang sangat saya sukai adalah, beliau pandai melihat dari sisi lain dari tema yang materi yang akan disampaikan. Dan kali ini, cara ma’rifatul insan atau mengenal manusia yang beliau sampaikan adalah mengenai betapa kecilnya manusia di hadapan Rabbnya, menilik dari proses penciptaan yang terjadi ketika manusia masih dalam rahim seorang ibu. Ketika manusia sadar, akan betapa kecilnya mereka, maka tidak ada gunanya sombong, angkuh, dan bangga diri dengan segala kelebihan yang manusia miliki. Sehingga, apabila manusia menyadari hal ini, sulit sekali kita menyaksikan, masih ada manusia yang dengan sombongnya memamerkan harta, ilmu, dan segala kelebihan yang dia miliki. Ketika kesombongan telah luluh dalam kesadaran manusia akan posisinya di dunia ini, maka besar kemungkinan rasa toleransi antara sesama manusia dpat ditingkatkan frekuensinya, dan puncaknya adalah makna ma’rifatul insan pun telah bisa diimplementasikan dalam tindakan nyata. Dahsyat coy!

Dalam taujihnya, ustadz Jumharudin juga sedikit menyinggung mengenai makna hidup di dunia ini, yang beliau ibaratkan dengan kegiatan tidur. Beliau membandingkan antara tidur dan mimpi. Seperti yang jamak, telah kita ketahui bahwa mimpi adalah bunga tidur, dan intinya adalah tidur itu sendiri. Waktu yang digunakan untuk bermimpi pun cenderug lebih singkat dibandingkan kegiatan tidur itu sendiri. Kemudian beliau menanyakan kepada kami, yang rata-rata masih berusia 19-20 tahun.

“Dimanakah kalian 25 tahun yang lalu? Dimanakah kalian 1000 tahun yang lalu? Dimanakah kalian jutaan tahun yang lalu? Dan dimanakah kalian jutaan tahun yang akan datang?”

Kami semua terdiam, lebih merenungi esensi dari sekadar jawaban atas pertanyaan tersebut. Ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, manusia berada dalam ketiadaan, pun jutaan tahun yang akan datang, manusia akan kembali berpulang dalam ketiadaan. ‘Ada’nya manusia yang nyata bisa dirasakan adalah ketika manusia berada di alam dunia, yang ‘hanya’ menghabiskan waktu rata-rata 60-70 tahun. Bandingkan 60-70 tahun dalam ‘ada’ dengan jutaan tahun dalam ketiadaan. Lebih bermakna mana, ditilik dari durasi waktu yang dihabiskan, ada atau tiada-kah?

Ibarat tidur, hidup hanyalah nampak seperti mimpi: bunga tidur, dan kematian adalah kata lain dari tidur. Jadi lebih bermakna mana, tidur atau mimpi?

Setan Itu Bernama Wanita

Liburan yang telah usai mengharuskanku kembali ke ibu kota, demi sail my hopes. Bus Rosalia Indah langgananku menjadi pilihan. Sendiri dalam perjalanan, hal yang sudah biasa bagiku, toh aku pun memang lebih suka dalam kesendirian.

Kamis(31/12), perjalanan Ngawi-Solo kulalui dalam kesendirian, belum ada orang yang mengisi tempat duduk 7C di sebelahku. Kutaksir, di Palur nanti pastilah aku akan menemui teman seperjalananku. Benar saja, sekembalinya dari kamar mandi, aku melihat seorang perempuan telah duduk di bangku 7C, sebelahku. Perempuan itu diantar seorang bapak-bapak berusia sekitar 50-an yang kupikir adalah ayahnya.

Lebih jauh, perjalanan kali ini ternyata jauh lebih tidak terduga dan sangat tidak biasa dari perjalananku sebelumnya. Akan ada beragam peristiwa yang membuatku gugup bukan main, dan sekaligus tersadar bahwa hidup memang beraneka warna. Tidak hanya pemahaman cetek disekitar kita saja, masih banyak cerita-cerita kehidupan yang semakin melengkapi kuasa Tuhan untuk membuat kita semakin memahami warna-warni dunia.

Cerita detail mengenai perempuan yang baru berumur 19 tahun yang menjadi teman perjalananku ini akan kuceritakan pada tulisan lain. Pada tulisan ini akan kuperlihatkan padamu kawan, bahwa wanita disamping merupakan perhiasan dunia yang paling indah dengan keshalihahan-nya, juga merupakan setan yang sangat berbahaya, terutama bagi kaum adam. Jauh lebih bahaya dari setan kuburan.

Singkat cerita, beberapa jam telah berlalu. Aku yang tak terlalu bisa akrab, terutama dengan perempuan yang baru dikenal, terpaksa melayani obrolannya yang tampaknya adalah tipe wanita yang senang bercerita. Pada tulisan lain akan kuceritakan lebih detail kenapa aku menjadi cukup akrab dengan perempuan satu ini.

Kembali pada setan kuburan, eh, maksudku pada wanita. Sepanjang perjalanan, perempuan ini banyak bercerita mengenai kehidupannya dan masa lalunya, tanpa kuminta. Mungkin perempuan ini memang butuh teman untuk bercerita, melampiaskan segala beban hidup yang selama ini menghimpitnya. Walau pun ia berkilah cukup nyaman dengan segala apa yang didapatnya selama ini, tapi aku yakin, dari sorot matanya ia tidak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya. Ketenangan hati sama sekali tidak tampak pada raut wajahnya. Masa lalunya yang tidak bisa dibilang bagus, walaupun ia adalah lulusan SMA berbasic keagamaan, yang mewajibkan siswinya memakai jilbab, tidak menjamin ia tak akan terkotori sisi lain dunia gelap kota Solo.

Solo, lebih terkenal dengan masyarakatnya yang halus tutur katanya, sama sekali tidak kuduga masih menyimpan sisi gelap yang tidak membedakannya dengan kota Jakarta, misalnya. Lebih parah lagi, gambaran itu jelas terpampang di depanku melalui perantara perempuan ini.

Sisi gelap kota Solo telah membentuk karakter “kebebasan” dari perempuan ini. Dunia malam, clubbing, free sex menjadi hal yang tidak asing lagi baginya. Materi di atas segalanya. Mending jika ia hanya merusak dirinya saja. Akan jauh lebih buruk akibatnya jika ia turut menyeret orang-orang di sekitarnya untuk lebih merasakan “kebebasan” yang ia lakukan. Ada satu moment yang membuatku gugup dan tergagap. Perhatikan saja permintaan perempuan ini pada laki-laki yang baru dikenalnya.

Perempuan : Mas, mbok yo neng Jakarta mengko aku di jak jalan-jalan, muter-muter Jakarta.
Aku : (???!!!) Aku senin wes ujian
Perempuan : Nek sabtu bengi, malem minggu piye? Bisa?
Aku : (?*#@??*^, dengan tergugup aku menjawab) Belajar mbak…

What the hell..! Wanita ini lebih berbahaya dari setan kuburan tipe manapun. Rasa kantuk yang menyergapku hilang seketika. Sempat terpikir, apakah aku nanti bisa sampai Jakarta dengan selamat tanpa ‘dimakan’ setan? Segera kukirim sms pada sahabat: Nyet, nek aku gak teko Jakarta, katakan pada bapak-ibu, aku sayang mereka. Kampret, ia malah tertawa ketika tahu duduk masalahnya.

Rintik hujan di luar sana, tak mampu membuatku terpesona.

“Tiada kutinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah perempuan (Mutafaq’alaih)

Mas, mbok yo neng Jakarta mengko aku di jak jalan-jalan, muter-muter Jakarta. (Mas, kalau di Jakarta nanti, aku diajak jalan-jalan, putar-putar Jakarta)
Aku senin wes ujian (Aku senin sudah ujian)
Nek sabtu bengi, malem minggu piye? (Kalau sabtu malam, malam minggu gimana?)

Perempuan yang Selalu Tersenyum

Perempuan itu membawa tiket bus dengan nomor kursi 7C, tepat di sampingku yang membawa tiket bernomor 7D. Diantar oleh seorang laki-laki, berusia sekitar 50-an.

Beberapa menit suasana hening, tak ada inisiatif dari kami untuk membuka percakapan walau hanya sekadar basa-basi. Terlebih aku, kuacuhkan saja mengingat pengalaman sebelumnya dengan kondisi yang sama, teman duduk perempuan, berakhir dengan hilangnya dompetku.
“Nanti turun mana Mas?” tanya perempuan itu basa-basi.
“Ciputat,” kataku tanpa memandang wajahnya.
“oh…”

Selesai. Suasana kembali sepi. Beberapa saat kemudian ia kembali berkata, “Pergi ke Makassar, aku malah ke Jakarta, ke tempat kakakku, soalnya di Solo sendirian.”
“Oh, keluarga, orang tua semuanya ke Makassar?” iseng kutanggapi.
“Nggak, orang tua malah di Solo semua, yang tadi nganter aku yang ke Makassar.”
“Emang tadi siapa, bukan ayahmu tho?” kataku masih tanpa memandang wajahnya.
“Bukan, itu tadi suamiku, baru aja nikah,” jawabnya.

Spontan aku memandang wajahnya, menatap lekat bola matanya, berusaha mencari jawab pada binar wajahnya dengan harapan menemukan tanda bahwa ia hanya bercanda. Tapi tak kutemukan jawab itu. Ia memandangku dengan sesungging senyum di bibirnya. Tampak mengerti akan kebingunganku, ia meneruskan ceritanya, “Iya, dia memang suamiku, kami baru menikah dua minggu yang lalu. Kami menikah siri, karena dia tidak ingin istri keduanya tahu,” jelasnya. Continue reading