Tetiba Memperdebatkan Gegara

Masih menyambung tulisan sebelumnya tentang penggunaan kata tetiba yang menurutku agak aneh karena tidak ditemukan dalam KBBI, maka untuk tulisan kali ini aku akan sedikit menyinggung bagaimana sebenarnya kata tersebut bisa muncul.

Hal ini bermula karena masih ada rasa penasaranku tentang penggunaan kata tersebut –tetiba, dan aku menemukan satu lagi yaitu gegara–. Akhirnya dengan sedikit googling ketemu juga asal muasal dari pembentukan kata-kata itu. Dulu ketika awal kemunculannya, aku sudah pernah surfing di internet, tapi belum menemukan artikel yang menjelaskan hal tersebut, tapi belakangan ketika surfing lagi, sudah dapat ditemukan beberapa artikel yang menyinggung tentang pembentukan kata tersebut.

Pembentukan kata yang dimaksud disebut dengan reduplikasi dwipurwa atau dapat juga dikatakan sebagai reduplikasi parsial, hal ini dikenal dalam ilmu pembentukan bahasa (morfologi). Proses ini mengulang bagian depan atau suku kata awal dari sebuah kata dasar. Pengulangan ini biasanya diikuti dengan pelemahan vokal pertama. Contohnya, lelaki dari laki-laki dan beberapa dari berapa-berapa. Contoh dari reduplikasi dwipurwa yang mendapat kombinasi akhiran -an, seperti pepohonan, rerumputan, dan bebatuan. Proses ini tidak dapat mencakup semua kata ulang, misalnya tidak ditemukan bentuk rerumahan yang berasal dari kata rumah-rumahan (gegara dan tetiba termasuk yang tidak ditemukan).

Pemakaian bentuk gegara dan tetiba tidak menyalahi kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Hal ini diungkapkan Totok Suhardijanto, pengajar Program Studi Indonesia FIB UI. Hanya saja ia belum masuk dalam kata baku yang tercantum dalam KBBI.

Masih menurut Totok, salah satu fungsi pengulangan dwipurwa adalah menciptakan kata baru yang dapat mewakili konsep tertentu. Misalnya, jejaring dari jaring dan tetikus dari tikus. Atau, fungsi lainnya adalah memendekkan bentuk ulang. Misalnya, laki-laki menjadi lelaki atau pohon-pohonan menjadi pepohonan.

Kiranya, berdasarkan teori di atas kata tetiba muncul dari kata tiba-tiba dan gegara muncul dari kata gara-gara yang berfungsi untuk memendekkan bentuk ulang. Bisa jadi, ini adalah fenomena bahasa yang muncul. Bisa jadi, ikut dibakukan semacam kata bini yang berasal dari bahasa percakapan, tetapi sekarang masuk ke dalam lema Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Sampai saat ini kata-kata yang disebutkan di atas sama levelnya dengan kata-kata sebangsa ciyus, enelan yang tidak (belum) diakui sebagai kata baku bahasa Indonesia, bedanya kata tetiba dan gegara lebih intelek karena ada teori bahasa yang melatarbelakanginya. Masalah kebakuan kata dalam prosesnya sebagi kata baku yang diakui oleh KBBI memang cukup debatable. Bisa jadi kata yang dianggap aneh saat ini bisa dibakukan dan masuk dalam KBBI atau mungkin akan hilang dengan sendirinya karena pamornya sudah mulai hilang dan pengguna bahasa sudah menemukan ‘mainan’ baru yang bisa digunakan sebagai fashion dalam berbahasa.

referensi: intisari & Fitria Sis Nariswari

Advertisements

7 responses to “Tetiba Memperdebatkan Gegara

  1. masukin kolom bahasa Kompas, Nug 🙂

  2. Kalo nyari di lampung susah, cari di gramedia matraman ja nug..
    :sikut

  3. Hesti Dinna Amalia

    Tks Sharing ilmunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s