Berdamai dengan Takdir

Aku harus menyalahkan siapa. Diriku, dia, atau mereka. Atau mungkin –memang harusnya– tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Ah, bukannya takdir itu memang sudah tak bisa diganggu gugat. Logika remeh-temeh semacam ini pun masih saja bukan reaksi spontan yang muncul pertama kali.

Dan bagaimana dengan hati, kukira gampang mengucap ikhlas, tapi dalam hati siapa sangka. Hanya angin meniup saja, lalu terbang hilang tak ada. Apa aku juga perlu untuk lari ke hutan, belok ke pantai?

Muspro, disana pun tak ada siapa dan tentu tak ada apa. Tak kutemukan ia di sana.

Segala senyum mengembang, sepasang tangan berhias, dan aku hanya bisa merutuk dalam hati. “Senyumlah, biar lengkap doa terpatri”, kataku sendiri.

inpirasi: Rako Prijanto

Advertisements

One response to “Berdamai dengan Takdir

  1. pemimpikecil

    tos dulu dong (^.^)/ \(^.^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s