Dongeng Cakil

18/04/2012. Kali ini aku ingin bercerita tantang tokoh pewayangan yang bernama Gendir Penjalin atau Dityakala Marica atau terkenal dengan sebutan Cakil. Tokoh Cakil dalam pewayangan sangat mudah dikenali karena ia mempunyai ciri yang sangat khas yaitu bagian bawah rahangnya yang lebih panjang dari rahang bagian atasnya serta bentuk giginya yang crongah alias panjang lancip-lancip.

Tokoh ini tidak dikenal dalam kitab asli Mahabarata maupun Ramayana. Tokoh ini memang produk lokal Jawa (Nusantara) layaknya tokoh wayang Gareng, Petruk, Bagong. Barangkali butuh penelitian untuk mengetahui siapa pembuat tokoh ini. Kalau penulis wayang RM Sayid menyebut wayang muncul pertama kali seputaran abad 15-16, tokoh Cakil itu sudah muncul di seputaran kurun waktu itu (sukolaras).

Dalam kemunculannya dalam pentas wayang, Cakil selalu dipersonifikasikan sebagai sosok yang buruk rupa dan jelek, wajahnya maupun perangainya. Tingkahnya selalu seenaknya sendiri, pethakilan, pecicilan kesana kemari. Walaupun begitu, tokoh Cakil selalu muncul dalam cerita pewayangan manapun entah itu Mahabarata ataupun Ramayana, yang seringkali hanya sebagai bumbu cerita karena kemunculannya yang sebentar dan lantas langsung mati. Kemunculannya yang Cuma sebentar itu tentu mengindikasikan bahwa Cakil bukanlah tokoh utama yang menentukan jalan cerita. Ada atau tidak ada Cakil, show must go on!

Dalam sebuah pertunjukan wayang, Cakil selalu berhadapan dengan Arjuna ataupun tokoh satria yang baru turun gunung dalam adegan Perang Kembang. Tokoh ini hanya merupakan tokoh humoristis saja yang tidak serius, dan biasanya Cakil akan selalu tewas karena kerisnya sendiri.

Dalam sebuah obrolan dengan Kawan semasa SMA, sambil boncengan motor, ia bercerita bahwa ia menemukan letak pentingnya Cakil selalu dimunculkan dalam setiap pementasan wayang. Seperti yang telah diuraikan di atas, kemunculan Cakil yang cuma sebentar dan akhirnya mati menjadikan kesan bahwa Cakil tidak terlalu penting dalam memengaruhi isi cerita. Namun sebenarnya filosofi yang terkandung dalam seorang tokoh bernama Cakil amatlah penting dan tidak bisa diremehkan.

Baik, mari kita simak hasil obrolan yang telah dirangkum dalam tulisan berikut.

Pertama, Cakil adalah perlambang hawa nafsu manusia. Hawa nafsu manusia membawa pengaruh buruk pada manusia bila ia tidak dapat menguasainya. Cocok kan, Cakil adalah tokoh wayang yang mempunyai sifat dan wajah yang buruk bin jelek. Gak pantes kan kalau diumpamakan sebagai Arjuna yang ganteng dan gagah prakoso.

Kedua, Hawa nafsu manusia akan muncul tanpa kenal kompromi, dimana saja dan pada siapa saja yang tidak kuat iman. Demikian juga Cakil digambarkan, ia akan selalu menghiasi panggung wayang apapun cerita yang diangkat. Cakil ‘hanya’ sebagai perlambang, maka kehadirannya dibuat sebentar saja karena sedikit banyak tidak akan mempengaruhi isi cerita secara garis besar.

Ketiga, tingkah Cakil dalam pementasan wayang sangat enerjik bahkan cenderung pethakilan (aku susah menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia). Siapapun dalang yang pegang kendali atas cerita wayangnya, Cakil akan selalu dipentaskan dengan karakteristik demikian. Karakter Cakil yang pethakilan seperti ini melambangkan karakter hawa nafsu manusia yang cepat sekali menguasai pikiran dan energi gerak untuk bertindak. Manusia yang sudah dikuasai hawa nafsunya akan cenderung agresif (ehem), grusa-grusu, dan tidak hati-hati.

Keempat, kematian Cakil dalam satu cerita wayang tidak berpengaruh pada cerita wayang yang lain. Pada cerita wayang lain Cakil akan dimunculkan dan dihidupkan kembali walaupun nantinya toh akan mati lagi. Hawa nafsu manusia pun demikian, ia tidak bisa dibunuh atau dimatikan, akan terus muncul dan terus hidup. Mungkin ketika satu hari dalam puasa Ramadhan misalnya, manusia bisa membunuh hawa nafsunya, tidak ada jaminan bahwa nafsu itu akan dikubur dalam-dalam. Tetap ada potensi bagi hawa nafsu itu untuk hidup lagi.

Kelima, ini bagian yang paling menarik. Di bagian ini kita akan membahas bagaimana Cakil mati. Aneh, ketika kematian Cakil selalu disebabkan oleh kerisnya sendiri. Entah karena ia terlalu pethakilan hingga ceroboh dengan gamannya sendiri atau karena ketika bertarung tidak sengaja senjatanya mengenai tubuhnya sendiri, yang jelas Cakil akan selalu diceritakan mati oleh senjatanya (dalam hal ini keris) sendiri. Disinilah sebenarnya kunci yang diberikan oleh pencipta tokoh Cakil. Cara Cakil mati adalah cara untuk membuat hawa nafsu juga mati. Cakil mati oleh kerisnya sendiri. Hawa nafsu manusia pun akan mampu dimatikan secara efektif jika ‘pembunuh’nya adalah manusia itu sendiri. Aku menyebutnya intern killer, lawannya adalah extern killer. Manusia harus mampu membunuh hawa nafsunya dari dalam diri sendiri. Secara sadar memang ingin membunuh hawa nafsu tersebut. Contohnya begini, extern killer akan berperan ketika kita ingin marah (karena suatu hal) namun tidak jadi marah karena sedang berada di tempat umum yang tentunya akan tidak enak kalau menjadi tontonan publik. Sedangkan intern killer akan berperan ketika kita mampu untuk menahan kemarahan dan memutuskan untuk bicara baik-baik dan mau berkompromi dengan masalah baik sedang di tempat umum maupun sedang di tempat sepi

Fantastis kan, mengingat tokoh Cakil ini adalah murni produk dari budaya jawa, karena tidak ditemukan tokoh Cakil pada cerita aslinya yang berasal dari India. Mari lebih dalam menyelami budaya Indonesia, karena pasti akan banyak kita temui hal-hal fantastis lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s