Ikan Kecil di Sudut Kaca

16/04/2012. Seperti setiap pagi yang sudah terlewat, selalu ada doa pagi di lobby kantor untuk memulai hari. Setelah doa pagi, perhatianku tertuju pada sebuah akuarium yang cukup besar terletak di tengah lobby menghadap ke arah pintu masuk. Ada dua ekor ikan arwana besar di dalamnya dan beberapa ekor ikan kecil di sekeliling kedua arwana itu. Tiga hari yang lalu, jumat sore, aku melihat ikan-ikan kecil itu terhitung masih cukup banyak bila dibandingkan dengan pagi ini. Pagi ini hanya terlihat empat atau lima ekor saja, sekitaran itu lah. Memang sudah kuduga sebelumnya kalau ikan-ikan kecil itu adalah makanan alami untuk kedua ekor predator besar itu.

Tiba-tiba aku berpikir, apa jadinya kalau aku berada di posisi ikan-ikan kecil itu. Setiap hari mengantre menunggu maut, mungkin seperti yang dikatakan oleh Chairil Anwar, hidup hanya menunda kekalahan (Derai Derai Cemara, 1949). Ketika tubuh ikan itu hancur terjabik di mulut seekor arwana, secara fisik ia telah kalah. Kasihan sekali, setiap hari mereka hidup bersama dengan pemangsanya. Menunggu ajal yang sewaktu-waktu datang mendekat. Ikan arwana itu layaknya malaikat maut saja.

Dan bagaimana kalau seandainya seperti dalam film animasi Finding Nemo, ikan-ikan kecil itu mempunyai keluarga yang kebingungan menemukan kembali si anak hilang, seperti Nemo yang terus dicari ayahnya dengan penuh perjuangan. Tentu ending dari cerita tidaklah semanis dalam sebuah film, ini dunia nyata Kawan. Pada akhirnya ikan-ikan kecil itu pun akan menemui kisahnya masing-masing, dengan akhir cerita masing-masing pula. Ia bisa menghindar. Satu, dua, tiga kali, sebelum akhirnya menyerah pasrah; mati. … ada yang tetap tidak terucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah (Derai Derai Cemara, 1949).

Beruntungnya, aku tidak akan menyaksikan ikan-ikan kecil itu menangis. Hewan bisa menangis, tapi hewan tidak akan bisa menangis karena sedih atau takut. Jadi aku tidak akan melihat kesedihan dan ketakutan di wajah ikan itu. Ikan itu masih akan terlihat lucu dan menggemaskan dengan gerak putar-putar ke sana kemari dikejar arwana besar.

Lalu timbul pertanyaanku berikutnya, adakah manusia yang mempunyai nasib sama dengan ikan-ikan kecil itu? Menunggu giliran menghadap malaikat maut? Ada, kita semua. Ya, hidup manusia bisa diibaratkan seperti ikan-ikan kecil itu. Ikan-ikan itu begitu lemah dibanding ikan arwana besar itu. Manusia pun begitu kecil dan kerdil dibanding dengan Dzat penguasa maut yang sewaktu-waktu datang menjemput ruh di badan. Hidup di dunia memang membuat kita mengantre untuk mati, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati (Ali Imron : 185)1.

Ikan-ikan kecil itu berada dalam kotak kaca yang membatasi mereka agar tidak bisa keluar jika sewaktu-waktu ikan arwana besar hendak memakannya. Manusia pun berada dalam batas di luar kuasanya yang disebut dunia dengan sekat ruang dan waktu yang membuat manusia tidak akan bisa sembunyi dari kematian.

Hal yang membedakan ikan-ikan kecil itu dengan manusia adalah, setiap saat ikan-ikan kecil itu sadar akan kematian yang mengintai mereka, di depan moncong mereka bergerak menggeliat-geliat arwana yang nyata menjadi ancaman. Sebaliknya, di hadapan manusia tidak ditongolkan secara nyata ancaman yang membuat mereka mendekat pada ajal. Mungkin karena hal inilah, banyak manusia yang tidak cerdas membaca kematian, padahal kematian adalah hal yang paling dekat dengan manusia (Imam Al Ghazali), melebihi dekatnya keluarga atau pun sahabat karib.

Ikan-ikan kecil itu tidak menangis –lebih tepatnya tidak bisa menangis– walaupun kematian setiap saat mengintai mereka. Kali ini manusia memiliki sifat yang sama, jarang menangis walaupun kematian amat dekat mengekor jalan hidup manusia. Sekali lagi mungkin karena ancaman –setelah– kematian yang tidak ditampakkan di depan batang hidung manusia, membuat manusia enggan lebih jauh untuk memaknai mati.

Seandainya ancaman kematian ditampakkan di hadapan manusia, seperti yang ditampakkan di hadapan Rasulullah , tentu mereka akan lebih banyak menangis dan lebih sedikit tertawa2.

  1. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (Ali Imron : 185)
  2. Dari Anas bin Malik radhiyallâhu’anhu, Nabi Muhammad bersabda:Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. (H. R. Muslim)

#muhasabah diri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s