Yang Bercerita dan yang Ngomong

“Di mana pakaian itu sekarang?”

“Di mana Nak Kentut?”

Kentut menundukan kepalanya.

“Di mana, Nak?”

“Dipakai yang lain.”

“Yang lain siapa?”

“Orang-orang di dalam pasar yang tidur sama-samaku.”

“Kenapa?”

“Dibeli.”

“Kamu jual?”

“Ya.”

“Berapa?”

“Ya, ada yang ditukar dengan rokok, ada yang membelikan makan. Ada juga yang tukar dengan … .”

“Dengan apa?”

“Dengan gelek.”

(Maling, Putu Wijaya)

Satu di antara mereka sampai berteriak senang begitu sakelar dipadamkan. Yang tersisa tinggallah sinar rembulan dan lampu berkekuatan kecilyang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat itu mendadak romantis. Aku tidak suka.

(Hanya Isyarat, Dewi Lestari)

07/04/2012. Potongan cerita di atas adalah dua buah gaya penceritaan dalam cerita yang menurutku berbeda gaya.

Potongan cerita pertama dari cerpen Putu Wijaya yang berjudul Maling, terkesan ceplas-ceplos dengan dialog yang saling menyahut. Potongan cerita kedua, Dewi Lestari dengan Hanya Isyarat, salah satu cerpennya dalam buku Rectoverso, memilih gaya cerita yang tanpa dialog. Mungkin berbicara pada diri sendiri, mungkin hanya sekadar ingin bercerita. Inilah gaya.

Terlepas dari teori sastra manapun, aku menyebut gaya tulisan semacam Dewi Lestari di atas adalah tulisan yang bercerita, dan semacam putu Wijaya adalah tulisan yang ngomong. Sekali lagi, ini tidak ada hubungannya dengan teori sastra manapun atau oleh siapapun, serius, ini hanya pendapatku semata.

Seorang penulis seringkali tidak hanya terpaut oleh satu gaya penceritaan saja. Dewi Lestari dalam potongan cerita di atas mungkin cenderung bercerita, namun dalam tulisannya yang lain, seperti Rico de Coro misalnya, dalam kumpulan cerita dan prosa Filosofi Kopi, Dewi cenderung menggunakan gaya penulisan yang lebih ngomong.

Selain karena kecenderungan penulis dalam menentukan gaya menulisnya, tulisan yang bercerita dan yang ngomong kadang dibutuhkan pula dalam satu cerita utuh. Dalam arti, keduanya dipakai dalam satu cerita pendek. Di satu bagian penulisnya membuat tulisan yang bercerita dan di bagian lain lebih banyak ngomong, bisa jadi, tergantung kebutuhan, kira-kira lebih cocok mana sebuah pesan hendak ditulis. Gaya seperti ini terlihat pada beberapa cerpen yang ditulis oleh A. A. Navis, sebut saja Pada Pembotakan Terakhir dan Penolong dalam buku kumpulan cerpen Robohya Surau Kami. Pada cerpen Pada Pembotakan Terakhir, hampir tiga halaman pertama ditulis oleh A. A. Navis dengan gaya bercerita, pada halaman ke empat sampai ke sembilan lebih banyak ngomong dan pada dua halaman terakhir kembali gaya bercerita yang digunakan. Pun demikian dengan cerpen Penolong, hampir empat halaman pertama ditulis dengan gaya bercerita dan halaman-halaman selanjutnya mulai berimbang antara bercerita dan ngomong.

Mana yang lebih baik? Tulisan yang bercerita atau yang ngomong? Kalau aku bilang, semuanya. Ya, semuanya sama bagusnya, tergantung persepsi, tergantung minat, dan tergantung kecenderungan. Tanpa perlu survei pun, aku yakin pasti hasilnya akan terpecah menjadi dua, antara yang suka dengan tulisan bercerita dan yang ngomong. Ada orang yang suka tulisan yang ngomong karena lebih seru, lebih aktif, dan lebih hidup bahkan lebih terasa menjiwai untuk sebuah cerita. Ada pula orang yang lebih suka gaya tulisan yang bercerita, karena merasa tidak didikte, merasa lebih santai dalam memahami dan meresapi sebuah cerita.

Menurut Budi Darma, karya sastra yang baik bukanlah tulisan yang kaya dengan tindakan-tindakan jasmani yang menakjubkan, melainkan kaya berkelebatnya sekian banyak pikiran (Olenka, 2009). Ini menurut Budi Darma lho, sastrawan senior yang sudah kenyang dengan berbagai macam penghargaan di bidang sastra. Jika karya sastra yang baik adalah kaya akan berkelebatnya sekian banyak pikiran, maka menurutku, gaya tulisan yang bercerita lebih cocok digunakan. Tulisan yang bercerita cenderung memberikan kebebasan pada para pembacanya untuk berimajinasi, mengira-ngira sendiri gambaran cerita yang diberikan oleh penulisnya, sesuai dengan yang dikatakan Budi Darma tadi, berkelebatnya sekian banyak pikiran. Mungkin karena hal ini pula, kita akan menemukan sedikit dialog dalam novel Olenka karangan Budi Dharma.

Kalau begitu, tulisan yang ngomong gak begitu baguskah dalam bidang sastra? Belum tentu juga sih, menurutku, oke sekali lagi dengan huruf caps lock, MENURUTKU, tulisan yang ngomong pun bagus. Putu Wijaya, dalam banyak cerpen dan novelnya sering menggunakan gaya ini. Hal ini mungkin dilatarbelakangi dari seorang Putu Wijaya yang lebih dikenal sebagai dramawan dibanding dengan seorang sastrawan. Sehingga, gaya Putu Wijaya dalam menulis cerpen atau pun novel sedikit banyak terpengaruh dari gaya kepenulisan drama. Dengan gaya menulis yang seperti ini, pada tahun 1971 dan 1975 ia memenangkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kategori Sayembara Mengarang Roman untuk novel berjudul Telegram dan Stasiun.

Jadi, mana yang lebih baik? Tidak ada. Semuanya baik, semuanya bagus. Karena sebenarnya sebuah cerita tidak bisa dilihat secara sepotong-sepotong hanya dari sebuah gaya penceritaan. Untuk melihat bagus tidaknya sebuah cerita, haruslah dilihat secara keseluruhan. Tulisan itu menggunakan gaya bercerita atau ngomong, bacalah dulu semuanya sampai selesai, dan barulah kamu bisa bilang, “Yap, ini bagus!”

Setelah selesai menulis ini, aku berpikir, “Sok tau banget ya aku”. Ya sudahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s