Cerita Tentang Sebuah Geng

Ini cerita tentang sebuah geng, geng remaja yang ada di sekitarku. Sebuah geng yang menyerupai geng-geng remaja kebanyakan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, geng adalah sekelompok remaja yang terkumpul karena kesamaan latar belakang, bisa juga diartikan sebagai sebuah gerombolan. Geng kami juga hadir dengan kesamaan latar belakang, dan kami juga sering bergerombol dalam sebuah lingkaran-lingkaran kecil, entah, apapun yang diperbincangkan.

Geng kami juga memiliki base camp atau semacam markas, tempat kami biasa mangkal. Di sinilah yang membedakan kami dengan geng-geng yang lain. Tempat mangkal kami adalah musala-musala dan masjid yang tersebar di beberapa titik di dusunku.

Siklus yang terjadi pada geng-geng kami hampir sama dan cenderung statis dari generasi ke generasi. Ketika masih kecil, kira-kira seumuran anak SD dan awal SMP, selepas magrib, tempat nongkrong kami adalah musala-musala itu. Kalau anak-anak kecil itu tidak mau berangkat, siap-siap saja dapat jiwitan dari Simbok. Nongkrong dalam arti yang sebenarnya, karena tidak semua anak yang ada ‘nongkrong’ juga di depan Mbah Yai, nyorog kalau istilah pondoknya.

Musala dan masjid kami, menjadi semacam pusat peradaban dan ajang perencanaan. Tidak jarang, apapun kegiatan yang akan kami lakukan selalu dimulai dengan obrolan-obrolan ringan di ‘markas’ geng ini, tentu karena memang para anak-anak ngumpulnya ya disini.

Bergulirnya waktu, dan usia kami ikut bertambah tahun demi tahun. Mulai terjadi penokohan dan pencarian identitas. Mulai tampak siapa-siapa yang akan menggantikan peran Kang Katirin sebagai ‘juru’ ngajar TPA, atau peran Kang Jiyo sebagai ‘juru’ adzan tetap. Sebaliknya, semakin kelihatan pula siapa-siapa yang mulai mbalelo. Mulai meninggalkan geng, untuk mencari geng lain yang bermarkas di perempatan kampung, atau di rumah salah satu pentolan geng mereka.

Terjadi seleksi alam, anggota geng kami makin lama makin sedikit. Tapi tak perlu dikhawatirkan Kawan, karena yang namanya siklus, pasti akan berputar-putar. Hilang satu, tumbuh yang lain. Para balita mulai menginjak bangku SD, dan secara otomatis mereka akan direkrut menjadi anggota geng kami yang baru. Murid-murid SD sudah memakai seragam biru putih, dan sudah ada yang bersiap-siap menggantikan peran Kang Katirin atau Kang Jiyo lagi. Begitu seterusnya.

Tapi tampaknya, siklus itu akan terhenti suatu saat nanti atau minimal menjadi kacau. Anak-anak SMP sudah mulai ‘keluar kampung’, mencari hal dan kesenangan baru di tempat yang lebih ramai. Tak sulit lagi, karena motor-motor keluaran terbaru maupun jenis motor yang baru dijual pemilik lawasnya sudah menjadi tunggangan resmi, menggantikan sepeda onthel. Para juniornya tak mau kalah, lepas magrib lebih suka nongkrongin serial Bernard Bear daripada nongkrongin a-ba-ta di musala. Simbok? Siapa peduli, wong sekarang sudah sayang anaknya kok,udah gak tega njiwit-njiwit lagi. Markas kami tak lagi menjadi ajang perencanaan, karena kami sudah bisa ‘ketemu’ tanpa harus ngumpul. Tinggal kirim sms, sampai juga maksud hati diutarakan.

Nasib…! Nasib…!

Kalau begini terus, siapa nanti yang akan menggantikan Mbah Yai jadi imam subuh. Kalau beliau ‘dipanggil’, tinggal dua yang rutin jadi jamaah, tiang musala dan tiang mic.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s