Demonstrasi, Mahasiswa Aktif atau Mahasiswa Eksis?

Perbandingan persamaan pada judul di atas memang mengundang cukup kontroversi. Banyak yang mempertanyakan esensi dari berbagai tindakan mahasiswa yang sering turun ke jalan. Banyak pula yang mempertanyakan letak identitas kemahasiswaan ketika mereka berdemonstrasi, atau lebih dikenal dengan sebutan turun ke jalan. Apakah tidak sama saja dengan pemuda-pemuda lain, toh mereka yang tidak menyanadang status mahasiswa pun bisa melakukan yang seperti itu.

Walaupun ada sebagian kalangan masyarakat yang mendukung aksi seperti itu, namun tetap saja tidak dapat dipungkiri, ada banyak masyarakat yang mengecam tindakan mahasiswa tersebut. Banyak yang menganggap aksi mereka sia-sia dan hanya membuat kacau jalanan, meresahkan pedagang kecil di sekitar, dan masih banyak pembenaran-pembenaran lain yang mendukung pendapat mereka. Dan yang membuat kita semakin mempertanyakan esensi dari aksi para mahasiswa ini adalah, sebagian yang mengecam aksi mereka ini adalah masyarakat yang juga skeptis, dalam artian memang tidak percaya dengan kinerja pemerintah, tapi juga tidak setuju dengan cara mahasiswa menentang pemerintah.

Hal ini diperparah dengan beragam fakta di lapangan yang memang pada kenyataannya menyudutkan mereka (mahasiwa). Berita-berita di televisi dan beragam media cetak semakin menguatkan pendapat bahwa aksi mahasiswa dengan turun ke jalan adalah sia-sia. Berita-berita yang tersaji besar kemungkinan berisi sekelompok mahasiswa yang berusaha memblokade jalan, baku hantam dengan aparat kepolisian dan akhirnya merusak fasilitas umum, bahkan membuang-buang sampah dan menambah kotor lingkungan kota yang semakin menambah berat tugas ‘pasukan kuning’ yang relatif tidak mendapat bayaran tambahan untuk membersihkan sisa-sisa demonstrasi para mahasiswa. Perilaku-perilaku tersebut belum menggambarkan cermin mahasiswa yang intelek dan berpendidikan. Seperti yang tertulis pada paragraf awal, orang yang bukan mahasiswa pun dapat melakukan hal yang sama. Lalu, apa bedanya?

Sebagai sarana menyampaikan aspirasi publik kepada pemerintah, demonstrasi awalnya menjadi instrumen yang ampuh. Pada masa Orla dan Orba, umumnya yang melakukan demonstrasi adalah mahasiswa. Tetapi sekarang ini demonstrasi bukan lagi monopoli mahasiswa, ibu rumah tanggapun sudah jamak melakukan aksi massa tersebut. Namun yang menjadi catatan kritis kita adalah, bagaimana sebuah demonstrasi benar-benar menjaga etika dan sesuai hukum. Ketika pada masa Orba dan Orla yang bahkan pemerintah nyaris tidak tersentuh hukum, demonstrasi merupakan cara yang paling efektif dibandingkan dengan diskusi-diskusi dengan pejabat pemerintah yang seringkali harus mentok karena alasan sepele, namun tetap saja membudaya: birokrasi.

Berhubungan dengan demonstrasi ini, emoga yang terbaik yang kan kita munculkan. tap semangat rekan-rekannah bisa menutup kesempatan kami untuk bisa berprestasi dada istilah yang terkenal yaitu melanggar hukum (HAM) untuk menegakkan hukum (HAM). Dua frase yang tampak paradoks secara pengertian kata, tentu juga pemaknaannya. Bagaimana bisa jika tuntutannya adalah penegakkan hukum tetapi secara nyata (subjeknya) melakukan pelanggaran hukum. Ini hanya sebuah upaya pembodohan sosial terhadap berbagai aksi demonstrasi yang (mulai) marak dilakukan sekarang. Karena telah menjadi trade mark di mata publik bahwa demonstrasi itu adalah kekerasan. Upaya mengidentikkan demontrasi dengan kekerasan oleh masyarakat bukanlah hal yang salah. Sebab secara nyata masyarakat melihat bahkan merasakan hal itu.

Demonstrasi yang tadinya merupakan gerakan moral, terdistorsi menjadi bentuk kekerasan. Bahwa beberapa gerakan demonstrasi mahasiswa diidentikkan dengan perilaku kekerasan, merusak dan anarkis itu memang ada. Namun jika menggunakan logika sebaliknya, dengan tetap mengedepankan prasangka baik (bahwa mahasiswa tidak sepenuhnya salah) dalam banyak demonstrasi yang terjadi, juga ada provokasi-provokasi yang dilakukan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Inilah misteri demonstrasi yang seringkali terjadi. Aksi demonstrasi yang awalnya berjalan damai tiba-tiba berubah menjadi aksi kekerasan. Apakah karena ‘invisible hand’ yang menjelma menjadi sebuah provokator, desain oleh aparat atau pihak-pihak berseberangan lain demi menunjukkan citra buruk mahasiswa? Entahlah, karena tidak semua demonstrasi fokus pada visi awal.

Jika ada yang bersepakat dengan demonstrasi sebagai sarana efektif menyampaikan aspirasi, silakan saja itu hak politik. Namun perlu ditelaah kembali apakah betul instrumen penyampaian aspirasi publik hanya demonstrasi? Bagimana dengan dialog terbuka, mimbar bebas, melalui tulisan-tulisan, petisi dan lainnya, apakah sudah terlaksana? Apalagi saat ini hak-hak untuk masyarakat lebih terjamin karena dilindungi oleh sebuah paham yang disebut demokrasi. Ini apabila kita membandingkannya dengan era Orba atau Orla dahulu. Ruang-ruang kosong demokrasi di republik ini harus selalu ditelusuri untuk diisi secara kompleks, demi perbaikan wajah demokrasi kita, bukan hanya dengan menonjolkan salah satu sisi dari perangkat demokrasi saja. Demonstrasi dan kekerasan adalah hal yang tidak disejajarkan untuk beriringan pada awalnya. Tetapi jika setiap demontrasi berakhir dengan kekerasan, maka persepsi publik akan berubah menjadi kekerasan dan demonstrasi (mahasiswa) seperti uang logam yang berbeda sisinya. Teori spiral kekerasan patut untuk kita renungkan, bahwa setiap aksi kekerasan akan selalu menimbulkan kekerasan baru, ibarat dendam yang akan terus menjalar hingga ada salah satu yang mau berkorban. Dan pertanyaannya sekarang adalah siapakah yang mau mengalah lebih dahulu? Mahasiswa atau pemerintah?

Advertisements

9 responses to “Demonstrasi, Mahasiswa Aktif atau Mahasiswa Eksis?

  1. perdamaian dan resolusi konflik…

    **edit lagi ya, terutama pengetikan, ada huruf yg kurang… 🙂

  2. iya, belajar sana, jangang maen mulu… 😀

    aku mencintai pekerjaanku sebagai editor… 😀

    😛

  3. Tiada kata seindah cinta, tiada cinta suci tanpa pernikahan,.. dengan tanpa mengurangi rasa hormat, kami bermaksud mengundang sobat blogger semua untuk dapat hadir dan memberikan doa serta restunya, pada hari sabtu tanggal 07 Agustus 2010 (27 Sya’ban 1431H) dalam rangka melaksanakan Walimatul Ursy … http://eidariesky.wordpress.com/2010/08/01/undangan-pernikahan-eidariesky/

    • Barakallahulak ya akhi… doa
      bikin pengen aja… malu

      Maaf ya, ndak bisa datang, insya Allah doaku menyertai…

  4. Alasan mahasiswa ber-demo…

    “Demonstrasi lagi, demonstrasi lagi….”gitu celetukan yang sering kedengeran klo ada demo. Entah dimanapun itu. Klo bahasa mahasiswa sih, “turun ke jalan” atau “aksi”. Biasanya acara ini dikoordinir oleh departemen Aksi dalam BEM. Ini tentang aksi atau demo yang diadain oleh BEM lho.. inipun tentang BEM-SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia)sendiri.

    Demo itu suara rakyat. Walau bingung juga sih yang namanya rakyat itu siapa. Apakah rakyat itu yang duduk di senayan sana? Kan namanya Dewan Perwakilan Rakyat. Atau rakyat itu yang duduk di pinggir jalan, yang ada di pasar, yang ada di kolong jembatan? Yang mana rakyatnya? Jawaban terserah yang mbaca deh,hehe…

    Maksudnya suara rakyat gimana? Jadi yang namanya demo yang diadain oleh BEM-SI itu adalah suara rakyat. Sebelum demo, masalah akan dikaji oleh departemen Kajian Keilmuan. Di sini dibahas tentang sebab demo, tujuan demo, cara demo, manfaat demo, dan semua tentang akibat positif dan negatif demo. Setelah dikaji sama departemen ini, hasilnya di terapkan oleh departemen aksi dalam demo mereka. Nah di sana semua kajian itu disosialisasikan. Jadi otaknya adalah kajian kelimuan, dan mulutnya adalah aksi. Begitu. Nah isu yang diangkat adalah isu tentang rakyat yang bener-bener membuat rakyat menderita. Jadi salah klo demo di BEM-SI itu asal demo. Semua ada prosesnya coi.. tapi sayang sekali sistem seperti ini jarang diterapkan para demonstran lain. Jadinya gak bikin positif malah bikin citra jelek dengan bentrok. Aduh..pusing dah..

    Demo itu pengingat pemerintah. Coba bayangin deh kamu jadi presiden. Tiap pagi nonton tivi, terus gonta-ganti channel isinya “semua terkendali dan aman, tentram”. Apa hasilnya? Tentu presiden itu merasa sudah cukup berusaha dan kurang peduli ma masalah-masalah kecil lainnya. Nah sebaliknya, klo jadi presiden tiap hari lihat tivi, baca Koran, dimanapun isinya demo nuntut sesuatu. Apa yang kamu rasain? Tentu ngrasa belum becus ngurus negeri ini kan? Nah itulah fungsi demo. Bikin para pemerintah itu sadar klo negeri ini belum makmur. Kurang lebihnya gitu. Hebatnya pemerintah kita itu adalah semakin banyak demo, semakin tuli mereka. Semakin jauh mereka meninggalkan rakyat. Malah mencap orang yang mengkritik mereka sebagai mahasiswa tak bermoral. Hebat gak tuh pemerintah kita??hehe..

    Demo itu tanda kepedulian mahasiswa. Inget gak anak SMA tugasnya apa belajar di kelas tiap hari? Cuma belajar, nongkrong, pulang, pacaran kan? Gak ada manfaatnya buat negeri ini. Dilihat dari semua sisi mereka cuma berusaha buat diri sendiri. Gak semuanya sih, tapi begitulah mayoritasnya. Nah mahasiswa itu beda. Udah dapet gelar tambahan “maha” jadi lebih ampuh dong. Mahasiswa itu gak Cuma usaha buat diri sendiri. Masa tujuannya Cuma dapat IPK 4, pacar cakep, dompet gendut. Itu mah mahasiswa egois. Ilmunya cuma buat dirinya sendiri.

    Nah koq bisa sih demo itu tanda kepedulian? Ya karena di demo, mahasiswa berarti nunjukin klo mereka peduli kebijakan-kebijakan pemerintah. Berarti mereka mengawasi kinerja pemerintah kan. Nah itulah letak pedulinya. Tapi jangan Cuma demo-demo terus bentrok, bakar ban terus bakar mobil. Itu sih bener-bener mahasiswa gak pake otak. Mahasiswa yang udah dewasa itu tahu mana yang baik dan buruk. Jadi milihnya jalan yang damai gitu.

    Nb : tulisan ini bukan buat menjelek-jelekkan aksi demo, ini hanya upaya buat nambah wawasan klo demo itu gak sesederhana itu. Ini juga upaya untuk mbersihin nama baik BEM-SI yang dicap negative oleh kebanyakan orang. Bahkan juga oleh pihak dalam. Bergeraklah kawan, hanya itulah jalan menuju Indonesia sejahtera.

    Hidup Mahasiswa…
    Hidup Rakyat Indonesia…

  5. salam kenal dan juga salam persahabatan

  6. Bisa gk yc demo kaya tahun 1998 lgi seru tc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s