Tidur atau Mimpi?

31 Oktober 2009. Mabit IMMP. Sebuah cerita lawas yang membekas. Palaksanaan acara mabit tidak ada yang istimewa, sesuai standar dan SOP mabit kebanyakan. Acara dimula lepas sholat isya, dimulai dengan Daurah Al-Qur’an (keren banget kan namanya!), dengan akh Abdul Haris Faqih dari IMMP sendiri sebagai pemateri dengan sedikit berbagi mengenai materi tahsin. Temen-temen tampak antusias menikmati suguhan materi dari akh Haris. Nuansanya bener-bener tampak seperti sharing ketimbang materi, karena banyak pula yang saling memberi masukan. Sharing dan sedikit eyel-eyelan tahsin, tampaknya lebih seru dari belajar tahsin itu sendiri, hingga tak terasa sudah hampir pukul 9 malam, dan acara tahsin sudah harus diakhiri, karena sebentar lagi ustadz Jumharudin dari Pondok Safari akan datang menyampaikan taujihnya kepada peserta mabit.

Ditunggu beberapa lama, ustadz yang dijemput akh Fajri belum juga datang. Datang sms, mengabarkan kalau agak terlambat datang, karena sedang hujan. Temen-temen saling berpandangan, heran, soalnya di luar sama sekali gak ada tanda-tanda kehadiran hujan, walaupun gerimis sekalipun. Tak apa lah, nunggu sejenak sambil tiduran.

Finally, ustadz Jumharudin datang, kajian pun dimulai. Materi yang beliau sampaikan malam ini adalah Ma’rifatul Insan. Seperti biasanya, khas dari ustadz Jumharudin, gaya penyampaian yang sangat saya sukai adalah, beliau pandai melihat dari sisi lain dari tema yang materi yang akan disampaikan. Dan kali ini, cara ma’rifatul insan atau mengenal manusia yang beliau sampaikan adalah mengenai betapa kecilnya manusia di hadapan Rabbnya, menilik dari proses penciptaan yang terjadi ketika manusia masih dalam rahim seorang ibu. Ketika manusia sadar, akan betapa kecilnya mereka, maka tidak ada gunanya sombong, angkuh, dan bangga diri dengan segala kelebihan yang manusia miliki. Sehingga, apabila manusia menyadari hal ini, sulit sekali kita menyaksikan, masih ada manusia yang dengan sombongnya memamerkan harta, ilmu, dan segala kelebihan yang dia miliki. Ketika kesombongan telah luluh dalam kesadaran manusia akan posisinya di dunia ini, maka besar kemungkinan rasa toleransi antara sesama manusia dpat ditingkatkan frekuensinya, dan puncaknya adalah makna ma’rifatul insan pun telah bisa diimplementasikan dalam tindakan nyata. Dahsyat coy!

Dalam taujihnya, ustadz Jumharudin juga sedikit menyinggung mengenai makna hidup di dunia ini, yang beliau ibaratkan dengan kegiatan tidur. Beliau membandingkan antara tidur dan mimpi. Seperti yang jamak, telah kita ketahui bahwa mimpi adalah bunga tidur, dan intinya adalah tidur itu sendiri. Waktu yang digunakan untuk bermimpi pun cenderug lebih singkat dibandingkan kegiatan tidur itu sendiri. Kemudian beliau menanyakan kepada kami, yang rata-rata masih berusia 19-20 tahun.

“Dimanakah kalian 25 tahun yang lalu? Dimanakah kalian 1000 tahun yang lalu? Dimanakah kalian jutaan tahun yang lalu? Dan dimanakah kalian jutaan tahun yang akan datang?”

Kami semua terdiam, lebih merenungi esensi dari sekadar jawaban atas pertanyaan tersebut. Ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, manusia berada dalam ketiadaan, pun jutaan tahun yang akan datang, manusia akan kembali berpulang dalam ketiadaan. ‘Ada’nya manusia yang nyata bisa dirasakan adalah ketika manusia berada di alam dunia, yang ‘hanya’ menghabiskan waktu rata-rata 60-70 tahun. Bandingkan 60-70 tahun dalam ‘ada’ dengan jutaan tahun dalam ketiadaan. Lebih bermakna mana, ditilik dari durasi waktu yang dihabiskan, ada atau tiada-kah?

Ibarat tidur, hidup hanyalah nampak seperti mimpi: bunga tidur, dan kematian adalah kata lain dari tidur. Jadi lebih bermakna mana, tidur atau mimpi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s