Jodoh Terbesar pun Tidak Perlu Pacaran

Masih teringat pada mabit pengurus IMMP beberapa waktu silam. Ada Ustadz Jumharudin yang menyampaikan materi, yang salah satunya menyinggung mengenai proses penciptaan manusia ketika masih dalam rahim ibunya.

Sekilas mengenai Ustadz Jumharudin. Aku suka dengan cara penyampaian materi yang beliau sampaikan, selain dengan gaya penyampaiannya yang memang tidak menjemukan juga karena beliau pandai mengungkapkan sebuah tema dengan sudut pandang yang jarang dipakai kebanyakan orang.

Kembali pada proses penciptaan manusia tadi. Tentu kita sudah tahu, bahwa proses penciptaan manusia pertama kali diawali oleh bercampurnya sel sperma dari ayah dengan sel ovum/telur dari ibu. Proses sederhananya, sperma/air mani itu nanti akan menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian segumpal daging itu berubah menjadi susunan tulang belulang, dan tulang belulang itu selanjutnya dibungkus dengan daging. Janin itu sendiri, berada dalam tiga sekat (kegelapan) di dalam rahim ibu, yaitu paling luar ada perut ibu, rahim, dan terakhir selaput yang membungkus janin di dalam rahim.

“…. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Az-Zumar:6)

Beragam hormon juga turut berperan aktif pada saat janin ini mulai tumbuh dalam perut ibu, seperti hormon Progesteron dan Esterogen yang berperan langsung dalam menyangga plasenta pada rahim, serta merangsang pertumbuhan susu pada ASI, selain hormon Prolaktin yang memang khusus bertugas pada pembentukan ASI. HCG (Human Chorionic Gonadotropin), yang merupakan hormon khas kehamilan, karena hanya ditemukan pada darah dan urin ibu hamil. Hormon ini pula yang difungsikan untuk mengecek kehamilan dengan alat pregnancy tester, karena terdapat, salah satunya pada urin. Hormon Relaksin yang akan sangat berperan pada proses kelahiran nanti. Serta hormon Oksitosin yang berperan penting mengalirkan ASI ketika masa menyusui tiba.

Kok jadi mendetail gini, bikin kangen Biologi aja. Kangen anak-anak Apis Indica.

Oke, kembali fokus. Dalam proses pembentukan janin itu, awal mulanya adalah 2 buah sel yang sangat kecil. Sel ovum hanya sebesar debu, dan sel sperma lebih kecil lagi ukurannya. Dari dua buah sel yang sangat kecil itulah nantinya akan lahir seorang jabang bayi yang siapa tahu ketika dewasa nanti menjadi sosok berpengaruh yang mampu mengguncangkan dunia.

Dua buah sel yang sangat kecil itu pada awalnya sama sekali belum pernah bertemu, apalagi saling mengenal. Namun dengan kuasa-Nya, Allah menjadikan dua buah sel itu layaknya pasangan yang telah bertahun-tahun saling mengenal dan memahami, sehingga mampu tumbuh dan berubah ujud menjadi seorang manusia yang begitu sempurna. Mungkin inilah jodoh. Maha Suci Allah, awal mula yang hanya dua buah sel kecil mampu berkembang menjadi berjuta-juta kali lipat setelahnya.

Tak lain karena atas Kuasa-Nya semata hal ini mampu terjadi. Sungguh jodoh terbesar pun tidak perlu pacaran.

Ibaratkan saja pertemuan sel sperma dan sel telur dalam rahim ibu itu sebagai sebuah proses pernikahan. Banyak orang menganggap dua orang yang akan menuju jenjang pernikahan harus tahu seluk beluk pasangannya, luar dalam dengan mendetail. Padahal jodoh manusia sudah ditetapkan, bahkan sebelum ia lahir. Kalau pun kita menginginkan jodoh yang baik akhlak dan agamanya, bercerminlah kepada diri sendiri. Hal ini seperti yang tertuang dalam firman Allah:

”…. Perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)” (An-Nur:26)

Jadi kalau kita menginginkan jodoh yang baik pribadinya, tengoklah pada diri sendiri. Muhasabah diri, bagaimana tilawah kita, bagaimana salat kita, bagaimana qiyamullail kita dan bagaimana pula akhlak kita.

Proses mengenal, mungkin inilah yang dijadikan alasan mengapa banyak orang terutama remaja yang menganggap bahwa pacaran merupakan awalan sebelum proses pernikahan berlangsung. Padahal seperti yang tertulis di atas, sebenarnya jodoh tiap-tiap manusia sudah tersedia dan kita hanya perlu menunggu untuk dipertemukan di waktu yang baik dan dalam keadaan baik. Bukan dengan ‘mencari-cari’, hingga terlena untuk pacaran. Kalaupun ingin berikhtiar mendapatkan jodoh yang baik, mulailah dengan memperbaiki diri sendiri hingga menjadi pribadi yang shalih dan shalihah, dan insya Allah jodoh kita pun nantinya tidak akan beda jauh dengan kita. Seperti apa yang di firmankan dalam surat An-Nur:26 tadi.

Tidak perlu lah kita tahu sangat mendalam dari calon suami/istri kita sedetail-detailnya. Cukup sewajarnya untuk memantapkan hati dan menumbuhkan rasa cinta dalam diri. Karena itu, proses mengenal pasangan atau ta’aruf yang tidak begitu lama, dan tentu sesuai dengan koridor syar’I tampaknya sudah cukup, dan selanjutnya berpasrahlah kepada Allah atas pilihan yang kita pilih. Bahkan dalam buku Fiqih Nikah karya Ustadz Sarwat Lc, disebutkan bahwa cukuplah kita mengetahui satu kebaikan yang dimiliki oleh calon pasangan kita yang membuat kita ingin menikahinya.

Ketika proses pernikahan dimulai dengan kebaikan, bukan tidak mungkin jejak sang dua sel kecil yang menjelma menjadi bentuk manusis yang sangat sempurna, dapat kita ikuti. Bukan mustahil seandainya nanti anak yang akan lahir dari pernikahan yang baik, akan menjelma menjadi seorang sosok layaknya Imam Syafi’i, Imam Bukhari, atau ulama-ulama besar lainnya. Bukan tidak mungkin ketika di akhirat nanti kita akan terperangah bahagia mendapat mahkota yang terbuat dari cahaya, karena anak yang kita miliki menjadi seorang ahli Qur’an. Hal-hal hebat itu semua sangat mungkin terjadi padahal hanya diawali oleh sedikit rasa cinta pada masing-masing karena proses mengenal yang tak begitu lama, ibarat dua buah sel kecil yang mampu terwujud menjadi manusia sempurna. Maha Suci Allah.

Jeda ujian minggu pertama

mBahas status pacaran

Advertisements

22 responses to “Jodoh Terbesar pun Tidak Perlu Pacaran

  1. mantabz…!!! suka…suka…

  2. Mungkin inilah jodoh. Maha Suci Allah, awal mula yang hanya dua buah sel kecil mampu berkembang menjadi berjuta-juta kali lipat setelahnya.

    Tak lain karena atas Kuasa-Nya semata hal ini mampu terjadi. Sungguh jodoh terbesar pun tidak perlu pacaran.

    /ikhtisar yang real dan bagus,
    jfs/

    *jeda ujian ngomongin pernikahan, gimana selesai ujian?*

  3. Jfs, apaan ziy?

    Hehe..
    Selingan ziy… 😀

  4. ya udah nikah aja

  5. muse_limah :-D

    KayakE kok dah puuueeengalaman BuuuuANGET!”’

  6. HCG(Human Chorionic Gonadotropin) meningkat pada hari ke 60 masa kehamilan.waktu itulah tes yang sangat akurat. lho kok malah fisiologi gini seh..
    Like this lah nug…

  7. kunyuk… nek pembahasane apik.. tapi wes sering krungu, dadi ra ngefek.. gambare lho… mantap punya.

  8. kalo kek pake theme begini, pagesnya (yg lain) kemana yak?

  9. jika ingin mendapatkan pasangan yang baik, perbaikilah diri!!
    jadi semangat memperbaiki diri ni……
    sering2 posting yang beginian yo…
    i like this,..

    nasehat yg manjur….
    hehe

  10. io to???
    ketok e io,
    jd pesimis.

  11. ternyata kta2 tmenku sedalam ini,,
    suwun y pak nugie,,

  12. o y gie,, izin ngopi y,, ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s