Setan Itu Bernama Wanita

Liburan yang telah usai mengharuskanku kembali ke ibu kota, demi sail my hopes. Bus Rosalia Indah langgananku menjadi pilihan. Sendiri dalam perjalanan, hal yang sudah biasa bagiku, toh aku pun memang lebih suka dalam kesendirian.

Kamis(31/12), perjalanan Ngawi-Solo kulalui dalam kesendirian, belum ada orang yang mengisi tempat duduk 7C di sebelahku. Kutaksir, di Palur nanti pastilah aku akan menemui teman seperjalananku. Benar saja, sekembalinya dari kamar mandi, aku melihat seorang perempuan telah duduk di bangku 7C, sebelahku. Perempuan itu diantar seorang bapak-bapak berusia sekitar 50-an yang kupikir adalah ayahnya.

Lebih jauh, perjalanan kali ini ternyata jauh lebih tidak terduga dan sangat tidak biasa dari perjalananku sebelumnya. Akan ada beragam peristiwa yang membuatku gugup bukan main, dan sekaligus tersadar bahwa hidup memang beraneka warna. Tidak hanya pemahaman cetek disekitar kita saja, masih banyak cerita-cerita kehidupan yang semakin melengkapi kuasa Tuhan untuk membuat kita semakin memahami warna-warni dunia.

Cerita detail mengenai perempuan yang baru berumur 19 tahun yang menjadi teman perjalananku ini akan kuceritakan pada tulisan lain. Pada tulisan ini akan kuperlihatkan padamu kawan, bahwa wanita disamping merupakan perhiasan dunia yang paling indah dengan keshalihahan-nya, juga merupakan setan yang sangat berbahaya, terutama bagi kaum adam. Jauh lebih bahaya dari setan kuburan.

Singkat cerita, beberapa jam telah berlalu. Aku yang tak terlalu bisa akrab, terutama dengan perempuan yang baru dikenal, terpaksa melayani obrolannya yang tampaknya adalah tipe wanita yang senang bercerita. Pada tulisan lain akan kuceritakan lebih detail kenapa aku menjadi cukup akrab dengan perempuan satu ini.

Kembali pada setan kuburan, eh, maksudku pada wanita. Sepanjang perjalanan, perempuan ini banyak bercerita mengenai kehidupannya dan masa lalunya, tanpa kuminta. Mungkin perempuan ini memang butuh teman untuk bercerita, melampiaskan segala beban hidup yang selama ini menghimpitnya. Walau pun ia berkilah cukup nyaman dengan segala apa yang didapatnya selama ini, tapi aku yakin, dari sorot matanya ia tidak bisa menyembunyikan rasa gelisahnya. Ketenangan hati sama sekali tidak tampak pada raut wajahnya. Masa lalunya yang tidak bisa dibilang bagus, walaupun ia adalah lulusan SMA berbasic keagamaan, yang mewajibkan siswinya memakai jilbab, tidak menjamin ia tak akan terkotori sisi lain dunia gelap kota Solo.

Solo, lebih terkenal dengan masyarakatnya yang halus tutur katanya, sama sekali tidak kuduga masih menyimpan sisi gelap yang tidak membedakannya dengan kota Jakarta, misalnya. Lebih parah lagi, gambaran itu jelas terpampang di depanku melalui perantara perempuan ini.

Sisi gelap kota Solo telah membentuk karakter “kebebasan” dari perempuan ini. Dunia malam, clubbing, free sex menjadi hal yang tidak asing lagi baginya. Materi di atas segalanya. Mending jika ia hanya merusak dirinya saja. Akan jauh lebih buruk akibatnya jika ia turut menyeret orang-orang di sekitarnya untuk lebih merasakan “kebebasan” yang ia lakukan. Ada satu moment yang membuatku gugup dan tergagap. Perhatikan saja permintaan perempuan ini pada laki-laki yang baru dikenalnya.

Perempuan : Mas, mbok yo neng Jakarta mengko aku di jak jalan-jalan, muter-muter Jakarta.
Aku : (???!!!) Aku senin wes ujian
Perempuan : Nek sabtu bengi, malem minggu piye? Bisa?
Aku : (?*#@??*^, dengan tergugup aku menjawab) Belajar mbak…

What the hell..! Wanita ini lebih berbahaya dari setan kuburan tipe manapun. Rasa kantuk yang menyergapku hilang seketika. Sempat terpikir, apakah aku nanti bisa sampai Jakarta dengan selamat tanpa ‘dimakan’ setan? Segera kukirim sms pada sahabat: Nyet, nek aku gak teko Jakarta, katakan pada bapak-ibu, aku sayang mereka. Kampret, ia malah tertawa ketika tahu duduk masalahnya.

Rintik hujan di luar sana, tak mampu membuatku terpesona.

“Tiada kutinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah perempuan (Mutafaq’alaih)

Mas, mbok yo neng Jakarta mengko aku di jak jalan-jalan, muter-muter Jakarta. (Mas, kalau di Jakarta nanti, aku diajak jalan-jalan, putar-putar Jakarta)
Aku senin wes ujian (Aku senin sudah ujian)
Nek sabtu bengi, malem minggu piye? (Kalau sabtu malam, malam minggu gimana?)

Advertisements

17 responses to “Setan Itu Bernama Wanita

  1. tapi selamatkan akhirnya?
    bisa posting tulisan ini? :p

    nice! /dua cerita terakhir ini/
    /menuangkan dalam imaji, keknya tu cewek bawel ya? hehe/

  2. sebuah kota entah itu solo, atau manapun yang terkenal kalem atau apalah tidak menjamin para ceweknya itu alim

  3. Cerita yg mnarik..

  4. boleh minta no HP cewek tu? 😀

  5. "wanita" tp namaku bukan setan

    wanita????? setan???????? emmmmmm…..
    bisa jadi sinonim bisa juga antonim ,,

    ehm2 .. .sampelnya antonim ya spt yang comment ini… 😀
    AMIIIIIIIN….

  6. ''wanita'' tp namaku bukan setan

    aku lbh salut lw sampeyan mw nerima tawaran yang langka itu ms…
    mana ada coba orang yang berani jalan2 n muter2 jakarta sama setan??? hemhemhemmm 😀
    bisa jadi unforgetable experience tuh,,..hhikhikkkk

  7. semacam terasa setan….
    wanita memang setan yang paling berbahaya…

  8. postingan semriwing…

  9. ya, klo tergoda jangan salahkan 100% nu
    salahe dewe tergoda….

    setan laki-laki tak kalah berbahanya,
    bahkan lebih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s