Perempuan yang Selalu Tersenyum

Perempuan itu membawa tiket bus dengan nomor kursi 7C, tepat di sampingku yang membawa tiket bernomor 7D. Diantar oleh seorang laki-laki, berusia sekitar 50-an.

Beberapa menit suasana hening, tak ada inisiatif dari kami untuk membuka percakapan walau hanya sekadar basa-basi. Terlebih aku, kuacuhkan saja mengingat pengalaman sebelumnya dengan kondisi yang sama, teman duduk perempuan, berakhir dengan hilangnya dompetku.
“Nanti turun mana Mas?” tanya perempuan itu basa-basi.
“Ciputat,” kataku tanpa memandang wajahnya.
“oh…”

Selesai. Suasana kembali sepi. Beberapa saat kemudian ia kembali berkata, “Pergi ke Makassar, aku malah ke Jakarta, ke tempat kakakku, soalnya di Solo sendirian.”
“Oh, keluarga, orang tua semuanya ke Makassar?” iseng kutanggapi.
“Nggak, orang tua malah di Solo semua, yang tadi nganter aku yang ke Makassar.”
“Emang tadi siapa, bukan ayahmu tho?” kataku masih tanpa memandang wajahnya.
“Bukan, itu tadi suamiku, baru aja nikah,” jawabnya.

Spontan aku memandang wajahnya, menatap lekat bola matanya, berusaha mencari jawab pada binar wajahnya dengan harapan menemukan tanda bahwa ia hanya bercanda. Tapi tak kutemukan jawab itu. Ia memandangku dengan sesungging senyum di bibirnya. Tampak mengerti akan kebingunganku, ia meneruskan ceritanya, “Iya, dia memang suamiku, kami baru menikah dua minggu yang lalu. Kami menikah siri, karena dia tidak ingin istri keduanya tahu,” jelasnya.

Mataku semakin terbelalak tidak percaya. Istri kedua dia bilang. Berarti ia menjadi istri ketiga dari laki-laki itu. Aku tidak habis pikir, mau-maunya ia menjadi istri dengan seorang yang lebih pantas menjadi ayahnya. Istri ketiga pula. Wajahnya juga cukup cantik kalau alasannya tidak laku. Ku coba meredakan emosi dan keherananku. Sejenak, pikiranku mulai tenang kembali.

Ia mulai berceloteh lagi, dengan tawa cekikikan dan senyum yang tak pernah surut dari wajahnya. Baru dua minggu lalu ia kawin siri dengan laki-laki yang lebih layak jadi ayahnya itu. Semua ia lakukan dengan sadar dan tanpa paksaan dari siapapun. Ia sepenuhnya sadar akan keputusannya walaupun ibunya sangat tidak setuju dengan pernikahan itu.

“Aku kecewa dengan laki-laki muda yang cuma punya nafsu saja, tidak ada tanggung jawabnya. Bullshit itu dengan cinta. Omong kosong,” katanya kemudian.
“Sebelum ini, pacarku umurnya 25 tahun, dia jadi pegawai bank,” ujarnya melanjutkan.

Dalam ceritanya, aku kembali dibuat tidak percaya dengan kisah hidupnya. Dalam usia yang masih demikian muda, ia harus kehilangan keperawanan yang ia miliki, demi memenuhi nafsu pacarnya setahun lalu, ketika usianya baru menginjak 18 tahun. Ia begitu percaya, ketika pacarnya itu bilang bahwa dia akan bertanggung jawab padanya, bahwa dia cinta padanya.

Janji tinggallah janji. Wanita yang belakangan kutahu bernama Lina ini, akhirnya hamil. Dalam usia 40 hari kehamilannya, pacarnya memaksa menggugurkan janin dalam perutnya. Ia kecewa berat. Bermodal uang 5 juta pemberian pacarnya, ia menggugurkan kandungannya pada seorang bidan di Solo. Rasa sakit yang teramat sangat, ia rasakan ketika proses pengguguran itu berlangsung, pun setelahnya. Bukan hanya sakit fisik yang ia rasakan, batinnya pun sangat tersiksa bukan main. Satu bulan ia merasakan sakit yang menjadi-jadi, yang membuatnya sempat terpikir untuk mengakhiri hidupnya saja.

Dengan bibir yang nyaris selalu tersenyum, ia menceritakan semua itu padaku, orang yang baru beberapa menit lalu dikenalnya. Ia juga sempat bersyukur, usia kandungannya saat digugurkan cuma 40 hari. Teman-temannya banyak yang mengalami nasib serupa, bahkan ada yang menggugurkan kandungannya ketika janin dalam perutnya telah berumur 7 bulan, ketika kepala, tangan, kaki dan badannya telah terbentuk hampir sempurna, dan harus dibunuh.

Ia menutup wajahnya ketika menceritakan semua itu, sedikit menjerit kecil dalam dekapan tangannya. Ngeri mengingat peristiwa yang membuatnya ingin mengakhiri nyawa. Aku berusaha menghiburnya, menenangkan pikirannya yang mulai labil.

Sesaat ia tersenyum kembali. Dengan binar ceria, ia sekarang senang dengan hidupnya saat ini, walaupun harus menjadi istri ketiga.

“Sekarang aku sudah enak Mas, kebutuhanku tercukupi. Nggak apa-apa aku harus jadi istri ketiga. Tidak masalah ia sering memukulku, yang penting hidupku sudah dicukupi, yang penting dia tanggung jawab.”

Dengan enteng, ia menunjukkan garis kehitaman di bawah mata kanannya, hasil dipukuli suaminya.
“Ini cuma dilempar sama gelas Aqua Mas, coba kalau aku dilempar sama gelas kaca, bisa mati aku,” katanya sambil terkekeh.
Hatiku terenyuh mendengar kisah dan melihat tanda akan penderitaannya. Salut, ketika ia masih bisa tersenyum menceritakannya.
“Aku nggak boleh sedih Mas, walaupun hidupku susah tapi aku pengen terus bisa tertawa,” katanya saat kutanya, mengapa ia terus bisa tertawa.
***

Gerimis yang membasahi jalanan saat bus Rosalia ini masih berada di Solo mulai berubah menjadi hujan deras ketika memasuki kabupaten Kendal. Suasana dalam bus sepi. Hanya lagu Kutut Manggung yang terdengar dari VCD, yang membuat suasana dalam bus tidak semati kuburan. Penumpang lain banyak yang sudah terlelap. Kulirik wajah Lina yang memandang jalanan basah dari balik kaca bus. Walaupun ia bisa tersenyum, namun sorot matanya tidak bisa melakukannya. Jelas sekali nampak gurat kesedihan dan kekosongan dari tatapan mata wanita ini.

Bus memasuki pelataran restoran Rosalia di Weleri, Kendal, ketika jam digital di HP-ku menunjukkan pukul sepuluh malam. Penumpang banyak yang turun untuk sholat, buang air, makan, atau pun hanya sekadar turun untuk meregangkan otot-otot yang kaku selama perjalanan.

Selesai sholat isya yang kujamak dengan sholat magrib, aku berjalan menuju tempat parkir busku, menunggu keberangkatan. Tampak Lina ada di dekat situ, berdiri sendirian sambil tangannya sibuk mengutak-atik HP yang katanya baru saja dibelikan suaminya seminggu yang lalu. Melihatku datang, ia tersenyum menyapaku, “Mas, nggak makan?”
“Nggak, sampean monggo kalau mau makan.”
Lalu, ia masuk ke dalam restoran, lantas keluar lagi.
“Mas, aku sudah pesan 2 mangkuk nasi soto. Ayo temeni makan.”

Terang saja aku bingung. Terpaksa kuiyakan tawarannya. Sambil makan, Lina menceritakan baiknya sang suami di matanya. Ia menceritakan rumah di daerah Manahan yang baru saja dibelikan suaminya, lengkap dengan isinya, mobil yang dihadiahkan suami kepada dirinya, serta begitu banyak uang suaminya yang telah ia habiskan. Tak lupa, tentu sambil terkikik ia menceritakannya. Aku hanya bisa tersenyum saja menanggapi cerita-ceritanya.

Bunyi klakson bus mengagetkan kami. Lekas-lekas kami habiskan nasi soto masing-masing dan kembali ke dalam bus.

Bus Rosalia yang kami tumpangi kembali membelah jalanan di bawah guyuran gerimis yang mulai reda. Tepat tengah malam, kami sampai di Pekalongan. Kebetulan malam ini adalah malam tahun baru. Jalanan ramai dikerumuni lautan manusia yang merayakan detik-detik pergantian tahun. Kembang api tampak berpendar di langit kota batik ini. Sungguh indah dipadu bulan yang tengah purnama.

“Tahun lalu juga seperti ini, saat tahun baru juga,” kata Lina yang membuatku sedikit mengalihkan perhatian dari indahnya warna-warni kembang api.
“Di vila Tawangmangu, aku dan pacarku yang pegawai bank itu menginap. Di tempat itu juga, ia berhasil meyakinkanku bahwa ia mencintaiku.”

Ia memandangku dan tersenyum, lalu melanjutkan ceritanya, “Sudahlah, yang penting aku sudah punya suami yang bertanggung jawab. Aku tidak peduli dia jauh lebih tua dariku, yang penting dia bisa membimbingku, mendidikku. Aku ingin berubah. Tidak hanya hura-hura, dan clubbing saja kerjaanku. Pukulannya padaku kuanggap sebagai caranya mendidikku, walaupun kadang tak kutemui alasan pasti ketika dia memukulku.”

Kembali aku terenyuh mendengar ceritanya. Terharu melihat kesungguhannya. Kutatap matanya dalam-dalam.
“Kamu benar-benar ingin berubah?” tanyaku.
“Iya,” katanya mantap.

Sejenak kami berpandangan, kemudian kembali terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Wajah Lina cantik, dan ia masih sangat muda untuk menjalani hidup yang demikian berat. Tidak selayaknya di usia yang masih demikian panjang, ia harus menjalani hidup yang terkekang oleh budak materi. Ia tidak sepenuhnya bisa disalahkan atas jalan kehidupan yang telah ia pilih, terlebih akan kesungguhannya yang ingin berubah.
***

Teriakan kenek bus membangunkan kami dari tidur. Cahaya matahari pagi mulai menusuk malu-malu, membias melewati kaca jendela bus.Tersadar, kami segera bersiap turun, bersama dengan penumpang lain yang juga ingin turun. Kami turun, dan bus Rosalia itu kembali melaju meninggalkan jejak deru asap hitam yang mengekor di belakangnya.

Lina memandangku dengan tersenyum, tampak ingin berpamitan. Kutatap lekat kedua bola matanya, dengan raut muka serius yang tidak biasa. Menyadari keseriusanku, ia sedikit menyimpan senyumnya.
“Lina, kamu masih tidak percaya dengan cinta?” tanyaku.
Ia sedikit terdiam, lantas menjawab.
“Entahlah,” katanya tampak ragu.
“Kamu tidak ingin mencobanya?” kataku kemudian.
“Maksudmu?” katanya tidak mengerti.
“Ini Jakarta, dan suamimu ada di Makassar. Kalaupun dia ingin mencarimu di kota ini, layaknya mencari jarum dalam tumpukan jerami. Dia tidak akan menemukanmu jika kamu memutuskan untuk tidak kembali,” kataku sedikit berfilosofi.

Ia masih tampak tidak mengerti. Aku tersenyum kepadanya. Beberapa saat kemudian ia pun tersenyum kepadaku. Senyum yang tampak berbeda dengan senyumnya selama ini. Senyum yang penuh ketulusan. Senyum termanis yang pernah ku lihat dari wajahnya. Kami sama-sama tersenyum, disaksikan udara pagi Jakarta, dan teriakan serak para kenek metromini.

Jakarta, 2 Januari 2010
Semuanya nyata, kecuali bagian ending tentu saja
Nama tokoh terpaksa disamarkan

Advertisements

9 responses to “Perempuan yang Selalu Tersenyum

  1. Kyak crita novel.. Dkirim k mjalah aja.. Hehe jd ingt biola tak brdawai..

  2. ehmmm…
    yang paling bikin penasaran,,,,
    waktu duduk di biz gak kayak yang duduk digambar kan????????
    jangan bilang gambar tsb juga nyata!!!!!
    glodakkkkk

  3. Lanjutkan…!!!
    Karya itu sprti anak jiwa, biarkan hidup di alam bebas jangan hny dipingit dalam bahasa biner…
    Berekspresilah…^^

  4. taek nyet!
    hwakakakakakaka… isih urip tho?!
    tak disangka menemukan petuah hidup dari malaikat berbaju jahanam.

  5. betul, kayak novel nih…postingan semriwing kedua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s