Kereta Setan Manggarai

kereta setan manggaraiSeno Gumira Ajidarma. Sebuah nama yang cukup terkenal sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang cukup diperhitungkan. Kamis, 5 November yang lalu ada undangan menghadiri bedah buku karya Seno Gumira Ajidarma. Lokasi ‘pembedahan’ di kampus Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIPB), gedung IV (empat) lantai dua, Depok.

Aku lupa judul bukunya, tapi yang jelas buku itu sangat tebal dan berharga di atas seratus ribu. Agak mengherankan, padahal acaranya adalah bedah buku, lalu kenapa judul bukunya saja bisa terlupa. Kawan, nanti kau akan tahu kenapa sampai judul bukunya pun, aku tak sempat mengingatnya.

Cerita dimulai dari kereta KRL jurusan Jakarta, kalau gak salah dari Bekasi. Kami (aku dan beberapa teman) naik dari stasiun Pondok Ranji, kemudian transit di stasiun Manggarai, untuk kemudian dari Maggarai, naik KRL jurusan Bogor dan berhenti di stasiun UI, Depok. Rencana perjalanan yang simpel dan terbayang mudah untuk dilakukan. Tetapi, nampaknya hari itu buka hari keberuntungan kami, dan pilihan untuk menggunakan transportasi kereta adalah pilihan yang bisa dibilang kurang tepat, kalu tak mau dibilang buruk.

Perjalanan dari Pondok Ranji ke Manggarai relatif lancar dan tanpa beban. Kereta yang cukup lengang, hingga kami bisa sedikit tiduran, dan perjalanan yang lancar tanpa diganggu kemacetan (jelas lah!). Sampai di Manggarai, beli tiket lagi seharga dengan tiket di Pondok Ranji tadi: Rp 1.500,-. Tiket telah dikantong, tinggal menunggu kereta datang.

Menunggu sekian lama, kereta arah Bogor datang, lumayan penuh, kami masuk. Memang agak penuh, tapi tak apa, paling tidak masih ada ruang untuk bernafas. Gerbong baja itu mulai merayapi batangan yang juga terbuat dari baja meninggalkan Stasiun Manggarai yang mungkin telah terpatri dalam benak kalian, gara-gara sebuah film horor bertajuk: Kereta Setan Mangarai, sebagai stasiun dengan kereta yang dipenuhi setan gentayangan. Anggapan seperti itu memang tak dapat disalahkan sepenuhnya, tergantung dari persepsi mana kita menilainya, dan di akhir perjalanan ini, aku benar-benar menyebutnya sebagai: Kereta Setan! Dasar Setan!

Kereta bergerak semakin cepat, dan beberapa kali rehat sejenak di stasiun-stasiun yang dilewati sepanjang perjalanan. Setiap kali berhenti di stasiun, penumpang lebih banyak naik dari pada turun. Alhasil, semakin jauh jarak tempuh perjalanan ini, semakin berjubel orang-orang di dalam kereta, hingga bernafas pun menjadi sesuatu yang sangat berharga. Teman-teman terhimpit di antara penumpang yang memadati kereta, dan aku pun juga turut di tengah-tengah penumpang itu. Terhimpit, hingga rasanya tak ada lagi ruang yang dapat kami gunakan untuk bergerak. Kebingungan melanda, karena itulah pertama kalinya kami naik kereta menuju Depok. Dalam kereta tidak seperti Bus Way yang mengabarkan telah sampai di shelter mana, sama sekali tak ada pemberitahuan, dan penumpang dianggap tahu setiap stasiun yang dilewati. Parahnya lagi, kereta ini seakan tidak memberikan waktu lama untuk mengenali medan, karena hanya 30 detik waktu yang diberikan bagi penumpang untuk naik dan turun.

Beruntung, di dalam kereta aku sempat bercengkerama dengan dengan seorang bapak yang tampaknya sudah sering menggunakan jasa kereta (setan) ini. Beliau menunjukkan, kami telah sampai di mana, dan kurang berapa stasiun lagi untuk sampai di stasiun UI. Ketika kereta sampai di stasiun Universitas Pancasila, Beliau meminta kami untuk bergeser ke arah pintu karena setelah ini, stasiun berikutnya adalah stasiun UI. Sesuai instruksi, kami coba menggeser posisi ke arah pintu keluar, tapi karena penumpangnya yang berjubel tadi, bergeser beberapa senti pun rasanya sulit dilakukan. Hingga kereta mulai melambatkan lajunya, kami mulai panik, waktu kami tak banyak, dan ambang pintu kereta masih lumayan untuk dijangkau. Kami memaksakan diri, laksana menerobos barikade polisi yang diperuntukkan untuk menghadang gerombolan pendemo. Kami baru bisa keluar tepat ketika kereta sudah mulai bergerak perlahan. Ketika kami coba menerobos barikade penumpang tadi, ada ibu-ibu yang komentar,

“Tahu mau turun, kok gak siap-siap dari tadi”.

Oh Ibu yang baik hati dan sangat perhatian pada kami, andai Anda tahu bagaimana usaha kami sejak tadi untuk bisa mencapai ambang pintu itu.

Sudahlah, yang penting kami bisa sampai dengan badan yang masih utuh walaupun dengan kondisi yang sangat mengenaskan: muka melas, badan bau keringat, rambut awut-awutan, sial…

Sampai detik ini, sebutan kereta setan sudah tersemat dalam otakku, dan aku benar-benar mengumpat: “Setan…!”, ketika kulihat jam tangan dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 15:30, padahal acara dimulai pukul 14:00. Benar saja, ketika kami sampai di gedung IV FIPB, yang dapat kami lakukan hanya bertepuk tangan saja, karena acara tepat telah selesai.

Acara bubaran, dan hanya menyisakan beberapa gelintir orang dan kebetulan Bapak Seno Gumira masih berada di dalam. Sudah datang dengan perjuangan dan kondisi mengenaskan seperti ini, akan lebih mengenaskan lagi ketika kami pulang tanpa membawa hasil apa-apa. Akhirnya dengan mencoba menebalkan muka, kami masuk kedalam ruangan dan meminta foto bersama dengan Bapak Seno Gumira, walaupun jelas-jelas kami sama sekali tidak mengikuti acara bedah bukunya.

Kawan, sampai di sini apakah kalian telah menemukan jawaban atas pertanyaan di awal tulisan tadi: kenapa judul bukunya saja aku tidak sempat mengingatnya?

Advertisements

4 responses to “Kereta Setan Manggarai

  1. yap. got it!

  2. matio…..
    dasar ra duwe isin….

  3. saya akhirnya mengerti mengapa diberi judul kereta setan manggarai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s