Izinkan Aku Mencintai Semampuku

Tuhanku,
Aku masih ingat ketika aku baru pertama mengenalMu
Begitu murni semangat dalam nadiku
Kukhatamkan berpuluh buku, demi ingin dekat kepadaMu
Kusambangi majelis ilmu, demi mengharap haribaanMu
Kurangkai dengan rapi, tiap untai kata ustadz-uztadzku

Lalu kugenggam, kupancangkan dalam tiap hembusan nafas dan tiap aliran darahku.
Bersemayam bersama iman dan idealisme yang semakin mengawang di awan kebenaran.

Tapi Rabbi,
Semakin aku berdiri, mencintaiMu penuh harap.
MencintaiMu dengan cinta semisal malaikatMu.
Mencoba mencintai dengan segenap kepasrahan hatiku.
Mendamba menggapai cinta tertinggiMu.
Aku rasakan gelisah dalam hatiku
Tak jua ‘ku menemukan cinta setinggi itu.
Aku semakin gelisah, harapanku mengawang tinggi, namun kakiku lunglai menjejak bumi.
Hingga kudapati tubuhku bersembunyi, dalam hempas pasrah jurang kebingungan.

Wahai Rabbi,
Dalam kepungan pekat, aku mencoba mengais jalan kembali.
Merangkak, menghiba Rahmat dan HidayahMu.
Mencari tubuhku yang terhempas membiru.
Mencoba menegakkan segenap tulang, daging dan urat nadiku.
Wahai Rabbi,
Aku menghiba dan memohon kepadaMu:
Izinkan aku mencintaiMu semampuku, dengan segala kelemahanku.

Rabbi,
Aku tak sanggup mencintaiMu dengan kesabaran akan penderitaanku.
Semisal Ayyub yang sabar menghadapi rahmat sakitMu, semisal Yusuf yang rela dipenjara demi cintaMu.
Maka, izinkan aku mencintaiMu, lewat keluh kesah dan pengharapanku, lewat tangis dan pengaduanku padaMu, atas sakit dan ketakutanku.

Rabbi,
Aku tak sanggup mencintaiMu dengan keikhlasan dan kerelaanku.
Semisal Abu Bakar yang menyedekahkan seluruh harta, dan hanya meninggalkan Engkau dan NabiMu bagi keluarganya.
Semisal Khadijah yang tulus mendukung nabiMu tanpa benci kehilangan perniagaan titipanMu.
Maka, izinkan aku mencintaiMu, lewat seratus dua ratus pemberianku, pada tangan-tangan kecil yang terulur padaku, pada tubuh-tubuh renta yang menadahkan tangan di pinggir jalan, pada lengan-lengan kurus yang berdiri kaku di pojok jembatan, pada sedikit makanan pada tetangga seberang jalan.

Rabbi,
Aku tak sanggup mencintaiMu dengan kekhusyukan shalatku.
Semisal sahabat nabiMu yang tiada terasa panah menembus tubuhnya, yang tiada merasa masjid runtuh di dekatnya.
Maka, izinkan aku mencintaiMu lewat shalatku yang kudirikan terbata-bata, hingga sering lepas ingatan pada masalah dunia.

Rabbi,
Aku tak sanggup mencintaiMu dengan dengan ingatan yang selalu memujaMu.
Semisal para rahib dan sufi, yang menghadirkan seluruh malamnya untuk bercinta dan bercerita kepadaMu.
Maka, izinkan aku mencintaiMu, lewat satu-dua rakaat lailku, lewat satu-dua sunah nafilahku, lewat desah kepasrahan tidurku.

Rabbi,
Aku tak sanggup mencintaiMu dengan mengingat penuh seluruh kalamMu.
Semisal hafidz dan hafidzah yang mampu menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam.
Maka, izinkan aku mencintaiMu, lewat selembar-dua lembar tilawah harianku, lewat lantunan seayat-dua ayat hafalanku.

Rabbi,
Aku tak sanggup mencintaiMu lewat teguhnya keimananku.
Semisal para syuhada yang menjual jiwanya demi jannahMu, semisal nabi-nabiMu yang menghabiskan usia dalam keteguhan jalan dakwahMu.
Maka, izinkan aku mencintaiMu, dengan keterbatasan dakwahku, dengan sedikit bakti dan pengorbananku, dengan sedikit waktu demi tumbuhnya generasi baru.

Rabbi,
Aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya hidupku.
Semisal Ibrahim yang rela kehilangan putra semata wayangnya, demi taat dan patuh pada perintahmu.
Maka, izinkan aku mencintaiMu dalam segalanya, dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai seluruh makhlukMu.

Allahu Rabbi,
Izinkan aku mencintaiMu semampuku, agar cinta ini tulus dalam hidupku, agar cinta ini mengalun dalam jiwaku, agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku, atas segala keterbatasanku.

Allahu Rabbi, izinkan aku mencintainya karena mencintaiMu, karena kecintaanku pada kalamMu.

Jurangmangu, 28 Oktober 2009, 00:00

Advertisements

8 responses to “Izinkan Aku Mencintai Semampuku

  1. Ditulis dalam kamar kosku, setelah isya’ hingga detik-detik menjelang pergantian hari

    • tapi kok kayak sebuah tulisan milik syapa gitu,
      pernah juga digubah sama mb Azimah

      • ini terisnpirasi dari file lama yang tak sengaja kutemukan di komp rumah saat pulang ke Ngawi, liburan lalu.
        Sampai Jakarta kok pengen buat tulisan yang setipe, akhirnya aku buat tulisan yang setipe dengan itu, dengan versi dan perumpamaanku sendiri.
        Kuselesaikan tepat menjelang detik-detik Hari Sumpah Pemuda.

  2. sebuah puisi pemujaan terhada Yang Maha Esa
    sudah sangat jarang dilakukan oleh para muda

    salut…
    teruskan..!!

  3. hingga indah pada waktunya .. .. . . amiiiiiiiinnn

    damai:-D

  4. ONCE AGAIN . . . ”PEACE”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s