di atas bus 44

“Bak bulus…! Bak bulus…!

“Blok M…! Blok M…!

Silih berganti, kondektur bus dan metromini berteriak-teriak di jalan depanku, sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku hanya menggeleng pelan, mengacuhkan mereka. Sedari tadi aku menunggu bus no 44, jurusan Ciledug-Senen. Sudah hampir lima belas menit aku menunggu, namun bus yang kumaksud belum juga melintas. Aku mendesah maklum. Bus itu memang terhitung jarang jumlahnya.

Lima menit kemudian, waktu masih kupakai untuk berdiri di depan Supermarket Giant. Tetap dalam kebosanan menunggu. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku pelan, aku menoleh, dia tersenyum padaku.

“Eh, kamu Rid, Assalamu’alaikum”, Sapaku kepadanya, sembari tanganku menjabat erat tangannya.

“Wa’alaikumussalam, mau ke mana Akh”, Jawabnya, sambil tangannya menyambut jabatan tanganku.

“Ini, mau ke Senen, mengunjungi saudara. Mumpung lagi liburan, itung-itung silaturrahim juga. Kamu sendiri mau ke mana?”

“Saya juga mau ke Senen, beli tiket kereta. Mau pulang ke Jogja, mumpung lagi liburan kan!”, Jawabnya sambil tersenyum.

Kami pun tenggelam dalam keasyikan obrolan panjang. Namanya Farid, anak Jogja, tetapi dia sendiri lahir di Kediri. Ke Jogja ikut ayahnya yang dipindah tugaskan. Kami sudah lama kenal, sangat kenal malahan. Dia satu angkatan denganku di Pondok Pesantren Darunnajah, di bilangan Ulujami, Jakarta Selatan. Satu asrama juga, tetapi beda kelas. Aku di jurusan Tarbiyah, sedangkan Farid di Jurusan Bahasa Arab. Kami sama-sama aktif di Lembaga Dakwah Kampus, satu divisi di PSDM, tidak heran jika kami sangat akrab. Pesantren memang tengah libur, kira-kira tiga minggu, terhitung mulai hari senin, minggu ini. Libur setelah ujian Semester.

Keasyikan ngobrol, tak terasa bus no 44 yang kami tunggu akhirnya tiba. Kami naik dan melempar pandang ke arah bangku-bangku di dalam bus, mencoba mencari bangku yang sekiranya kosong. Tidak ada. Penuh semua, bahkan sebelum kami, sudah ada beberapa orang yang berdiri. Tidak ada pilihan lain, kami pun ikut berdiri.

Bus melaju perlahan, bukan karena tidak bisa berjalan cepat, tetapi jalanan macet di depan Pasar Cipulir membuat bus yang kami tumpangi seakan merayap-rayap. Beberapa ibu-ibu di dalam bus tampak mulai mengipas-ngipas kegerahan. Aku sendiri juga merasa kepanasan, ditambah bus yang cukup sesak siang itu. Jakarta memang terkenal dengan macet dan hawa panasnya. Jika baru pertama kali pergi ke Jakarta, dan belum tahu alamat yang akan dituju, jangan tanya berapa jauh tempat itu, tetapi tanyalah berapa lama ke tempat itu. Kadang jarak yang cuma lima kilometer, dapat menghabiskan waktu sampai dua jam lebih, jika jalan tengah macet parah.

Tak tahan dengan hawa panas yang menyergap, aku melepas jaket hitam yang sedari tadi kukenakan, dan memasukkannya ke dalam tas. Kulihat Farid pun melakukan hal serupa.

Jalanan yang macet memudahkan para pengamen jalanan dan pedagang asongan untuk masuk ke dalam bus. Para pedagang berteriak-teriak menawarkan dagangannya, diikuti para pengamen yang juga berteriak serak menyanyikan lagu seadanya dengan gitar kecil yang nyaris tanpa harmonisasi nada. Kurogoh saku celanaku, mengeluarkan uang seribuan, ketika pengamen itu menyodorkan bekas bungkus permen sebagai wadah uang. Setelah mengacungkan bekas bungkus permen kepada seluruh penumpang bus, pengamen itu keluar melalui pintu bus di belakangku. Kondisi bus yang cukup sesak menyulitkannya untuk keluar hingga beberapa kali harus bersenggolan dengan penumpang lain.

Farid menepuk pundakku pelan,

Ikhdar fi hadzihi haafilah muzdahimah jiddan, akhi”. Katanya padaku

Aku sedikit tertegun, mendengarnya menggunakan bahasa arab. Tidak biasanya.

Limaadza yaa akhi, fi al khatha’?”. Kataku kurang paham.

Laisa kadzalik, lakin miraran annyakuuna almakaan mitslu hadzaa ya’thii almunaasabah lil asyraar”. Katanya menjelaskan.

Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna setiap kalimat Farid yang dilontarkan kepadaku. Sengaja Farid menggunakan bahasa arab, karena apa yang kami bicarakan bisa jadi menyinggung perasaan orang di dekat kami, dan aku memakluminya. Tampak orang-orang di sekitar kami, menatap dengan pandangan bingung bercampur heran.

Asyakku ‘anil mughoniil qadiim, akh” Lanjut Farid.

Maa hadats?” Kataku sedikit terkejut.

Andzuru nadzratan ‘ainuhu alghoriibah ‘indamaa nadzara haqiibatuk

thecopetsAku sedikit kaget, buru-buru kuperiksa tas punggungku. Aku terpana tak percaya, menyesali kecerobohanku. Tasku terbuka lebar, dengan resleting yang nyaris terbuka sempurna. Rupanya aku lupa menutup kembali resleting tasku, ketika memasukkan jaket hitamku tadi. Sontak, sesalku memuncak. Bisa-bisanya aku melakukan kecerobohan besar dalam situasi seperti ini. Kuperiksa setiap inchi dari tasku, diliputi perasaan khawatir yang menjadi-jadi. Terbayang, tadi pagi umi menitipkan sejumlah uang untuk tante di Senen. Kuperiksa setiap jengkalnya. Sesaat kemudian aku tersenyum, melihat amplop putih yang masih utuh, terletak pada tempatnya semula. Dompetku juga, demikian pula jam tanganku. Masih utuh.

“Alhamdulillah” Kataku lirih.

Kulihat Farid, raut mukanya msih menampakkan rona kecemasan. Terlihat meyesalkan kecerobohanku. Aku tersenyum, sekadar memberi tanda bahwa semuanya baik-baik saja.

“Everything is okey, Akh” Kataku setengah bercanda.

“Alhamdulillah” Sahutnya lirih.

Pasar Cipulir telah terlewati. Kini, bus sudah bisa melaju cukup lancar. Hawa panas dan pengap perlahan memudar, diterpa hembusan angin yang masuk melalui celah-celah kaca bus. Sepanjang perjalanan, aku dan Farid banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol. Apa saja. Sekadar mengusir kebosanan. Kejadian di dalam bus tadi, juga tidak luput dari bahan pembicaraan kami. Kami sepakat, tidak baik rasanya mempunyai prasangka buruk terhadap orang-orang di sekitar. Hanya akan membuat hati tidak tenang saja. Padahal, bisa jadi mereka tidak seperti apa yang kita pikirkan. Kulit luar, belum tentu mewakili apa yang ada di dalamnya. Hm…, pelajaran yang berharga untuk hari ini.

Bus telah memasuki kawasan Jakarta Pusat, sebentar lagi kami tiba di terminal Senen. Cukup lancar, tak ada kemacetan yang berarti, hingga kami sampai di depan semacam gerbang yang bertuliskan “TERMINAL SENEN”.

Ramai sekali di sini, ditambah hari ini adalah akhir pekan. Banyak manusia-manusia Jakarta berdatangan dengan segala kepentingan mereka. Pedagang kaki lima tampak memadati setiap trotoar dan bahu jalan, membuat macet dan sesak jalanan. Dari mulai warung makan, hingga penjual VCD bajakan, ada di sini. Senen juga terkenal dengan Kwitang-nya. Tempat dijual berbagai macam buku. Bekas maupun baru, asli maupun bajakan. Lengkap. Tempat tujuan kebanyakan pelajar dan mahasiswa yang berkantong cekak, karena jika pandai menawar, harga buku di sini bisa jauh di bawah pasaran. Tak ketinggalan para pedagang asongan yang berjalan keluar-masuk bus, demi menawarkan dagangannya. Pengamen-pengamen jalanan, menguntit di belakangnya, keluar-masuk bus, berharap memperoleh peruntungannya di setiap bus yang mereka masuki. Ramai sekali, keramaian khas Jakarta.

Aku dan Farid turun agak di luar teminal. Stasiun Senen yang menjadi tujuan Farid, ada di sebelah timur teminal ini, bersebelahan. Turun dari bus, kami berjalan ke timur, menyeberang jalan menuju arah stasiun. Loket yang kami tuju ada di sebelah selatan. Cukup sepi, antrean tidak terlalu panjang. Farid memesan tiket jurusan Senen-Lempuyangan, naik kereta Progo, seharga 35.000 rupiah. Namun, tatkala hendak membayar harga tiket. Wajah Farid berubah pias, pucat kebingungan. Tangannya dengan cepat mengaduk-aduk isi tasnya. Aku turut bingung melihatnya. Farid memandangku dengan mata yang menyiratkan kebingungan.

“Dompetku tidak ada !”

Kalimongso, 04 Mei 2009, 22:10

–Sempat stag selama 2 pekan, terlanjutkan setelah dapat inspirasi di kamar mandi, menjelang berangkat ma’had–

–Terimakasih banyak untuk saudaraku yang telah membentu menerjemahkan dalam Bahasa Surga–

GLOSARIUM:

Ikhdar fi hadzihi haafilah muzdahimah jiddan, akh : hati-hati di tempat seperti ini, akh

Limaadza yaa akhi, fi al khatha’? : kenapa, ada yang salah?

Laisa kadzalik, lakin miraran annyakuuna almakaan mitslu hadzaa ya’thii almunaasabah lil asyraar : bukan begitu, tetapi seringkali tempat seperti ini, banyak memberi kesempatan untuk bertindak jahat

Asyakku ‘anil mughoniil qadiim, akh : aku curiga dengan pengamen yang tadi, akh

Maa hadats? : ada apa?

Andzuru nadzratan ‘ainuhu alghoriibah ‘indamaa nadzara haqiibatuk : kulihat, tatapan matanya aneh saat melihat ke arah tasmu

Advertisements

2 responses to “di atas bus 44

  1. Mikir Dulu…!!

  2. Jangan hanya dengan bahasa surga, bahasa inggris, bahasa perancis, bahasa korea , bahasa jerman atau bahasa hati, semua pantas dicoba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s