asap rokok

smoke“Sudahlah Pak… berhenti”

“Memangnya kenapa, wong ini uangku sendiri”

“Daripada dibakar tak berguna, lebih baik kan buat yang lain tho

“Tak berguna bagaimana, apa kamu tak lihat aku menikmatinya”

“Hah… ya sudahlah. Terserah Bapak saja…”

Sang istri meletakkan secangkir kopi di meja depan suaminya. Di sampingnya, sepiring singkong goreng yang masih kepul-kepul turut menemani hembusan asap yang berkali-kali keluar dari mulut Sang suami. Laki-laki itu terlihat sangat menikmati hembusan demi hembusan yang ditawarkan kenikmatan rokoknya. Dia hirup rokok itu dalam-dalam dengan sangat perlahan, hingga keluar bunyi kretek-kretek dari ujung rokoknya yang terbakar. Setelah asapnya terkumpul di mulut, tak lekas-lekas dikeluarkannya. Dia buka mulutnya sedikit untuk membiarkan sebagian asap rokok keluar, kemudian dia hirup kembali sisanya dengan mengatupkan kedua giginya. Baru setelah itu dihembuskannya sisa asap rokok itu melalui mulut dan hidungnya. Ah, nikmat sekali tampaknya.

Sang istri sudah mulai jengah dengan kebiasaan suaminya. Rokok itu telah beberapa kali membuat dirinya harus menginap di rumah sakit, menemani sang suami yang terkapar tak berdaya karena setengah dari paru-parunya telah di amputasi karena hitam dan membusuk. Tidak jarang pula uang yang seharusnya menjadi jatah perut mereka hari ini, di rampas oleh racun nikotin yang menjalari tubuh sang suami. Ya, nikotin itu rupanya telah membuat sang suami tak mampu melepaskan diri dari cengkeraman candu yang melilitnya. Nikotin itu telah membuatnya kecanduan.

“Bapak kan sudah tidak muda lagi”

“Memangnya kenapa, apa aku salah kalau sudah tua”

Mbok yao, rokoknya dikurangi sedikit”

“Sudah, jangan mengurusi rokokku terus” satu batang rokok kembali dinyalakan oleh sang suami.

“Kata orang rokok bisa memendekkan umur!” sang istri agak ketus.

Tak disangka, laki-laki itu malah tertawa lebar, disertai batuk yang terdengar menderu-deru.

“Hebat benar, Tuhan bisa dikalahkan oleh rokok” dan gelak tawanya makin nyaring di senja yang hangat itu. Sinting, dia membawa-bawa nama Tuhan demi sebatang rokok sialan itu.

***

Hari sudah mulai malam, pabrik besar yang berdiri di tengah kota itu tampak lengang. Di dalam kantor sang direktur, terdengar percakapan, dalam ruangan yang nyaris gelap.

“Apa kita tidak ketahuan nantinya pak, LSM itu semakin gencar mengkampanyekan anti merokok akhir-akhir ini.

“Tidak akan Wan, tambahi saja barang dua atau tiga miligram. Tidak akan ketahuan. Kalaupun ketahuan, mereka tidak akan bisa berbuat banyak”

“Tapi, apa tidak berbahaya kalau nikotin itu kita tambah melebihi batas yang telah ditetapkan Menteri Kesehatan, Pak.”

“Lucu sekali pikiranmu Wan. Kalau Menteri Kesehatan itu masih memikirkan kesehatan bangsa ini, kenapa tidak sekalian pabrik ini diberedel.
Kujamin dia tidak akan berani Wan. Menteri-menteri dan para penguasa itu tidak akan pernah siap untuk hidup miskin bersama dengan rakyat-rakyatnya yang akan tambah melarat kalau pabrik ini diberedel.” Sang direktur tertawa-tawa penuh kemenangan.

“Oh ya, ternyata Bapak direktur pintar sekali”

“Kalau tidak pintar, aku tidak akan jadi direktur Wan…!”

Kedua orang dalam ruangan itu tertawa lebar, menyeringai menampakkkan taring-taring tajam yang dengan mudah mengoyak tubuh-tubuh dengan otak keledai, yang menjadi korban mereka. Tawa mereka makin keras, tenggelam dalam gelap malam yang semakin pekat.

***

“Pokoknya kita harus bersuara. Kalaupun kita tidak bisa mengerahkan massa untuk berdemo, paling tidak kita harus menunjukkan pada masyarakat bahwa rokok itu telah merampas berbagai macam hak mereka”, Seseorang dalam sebuah rumah sederhana itu berteriak lantang kepada beberapa orang yang tampak serius memperhatikan.

“Ya, benar. Kita harus menunjukkan eksistensi kita. Belakangan ini, kematian akibat ulah racun nikotin itu semakin banyak. Pemerintah seakan tutup mata, melihat rakyatnya kelojotan tak berdaya terbius candu dari racun itu. Kita harus bergerak, tak ada gunanya lagi berlembar-lembar surat kita layangkan kepada Menteri Kesehatan.” Seseorang yang lain ikut pula bersuara dengan lantang, diikuti teriakan “Setuju” dari orang-orang di dalam rumah itu.

Teriakan-teriakan pembakar semangat terus saja bersahutan memekakkan telinga. Rupanya, orang-orang yang menamakan dirinya: ‘Gerakan Anti Nikotin’ itu telah hilang kesabarannya melihat pemerintah yang tidak tanggap akan nasib rakyatnya.

Semakin malam, rumah itu semakin penuh dengan orang-orang yang mulai berdatangan belakangan. LSM berbendera hijau itu merencanakan akan bertindak sendiri. Memberangus, bahkan kalau perlu membakar pabrik rokok terbesar yang bercokol di tengah kota mereka.

“Malam ini kita bergerak, bawa peralatan seperlunya. Jangan lupa, bensin yang dibeli tadi sore, di bawa juga”, kata seseorang di tengah hiruk pikuk suara manusia, yang tampaknya pemimpin dari LSM itu.

“Kami sudah siap Pak, akan kuhancurkan pabrik yang telah merenggut nyawa bapakku siang tadi. Aku bersumpah, sebelum tanah kuburan bapakku kering, akan kubuat pabrik itu rata dengan tanah”, seorang pemuda gondrong, dengan tangan yang menggenggam erat pentungan berteriak dengan nafas ngos-ngosan, dan tatapan mata nyalang yang memerah. Benar-benar marah luar biasa tampaknya.

“Baiklah, kalau kalian telah siap, kalau kalian ingin menyelamatkan bangsa ini, kita hancurkan pabrik itu, malam ini juga!”

“Ayo, hancurkan pabrik itu!”

“Bakar pabrik itu”

“Selamatkan Indonesia”

“Hidup Anti Nikotin”

Rumah itu seakan mau roboh digaungi suara manusia-manusia yang dipenuhi amarah membara dalam dadanya. Pemimpin LSM itu berjalan keluar rumah, diikuti puluhan anak buahnya dengan senjata di tangan masing-masing. Ada yang membawa pentungan, parang, golok, kapak, rantai, dan tentu saja bensin dalam jerigen besar yang telah mereka beli sore tadi. Tujuan mereka, tentu saja adalah pabrik rokok terbesar di kota itu. Mereka berjalan berarak-arak, diiringi teriakan yang nyaris tanpa putus. Mereka benar-benar ingin menghancurkan pabrik itu. Jumlah mereka cukup banyak, puluhan.

Namun, seratus meter sebelum mereka bisa mencapai pintu gerbang pabrik, belasan security telah menghadang langkah mereka. Rombongan LSM itu tak gentar, jumlah mereka lebih banyak. Mereka yakin bisa menang dengan mudah.

Tak bisa dihindarkan, bentrok pun terjadi. Tampak nyata, belasan petugas keamanan itu kewalahan menghadang puluhan orang yang dipenuhi amarah memuncak. Seorang security terkapar sambil memegangi kepalanya yang bersimbah darah, terkena pentungan salah seorang pemuda. Orang-orang bermata merah itu terus merangsek maju. Namun, sungguh di luar dugaan. Di belakang para security itu muncul ratusan manusia secara bergelombang. Sungguh tak bisa dipercaya, beragam atlet Indonesia dengan segala bidangnya menyerbu ke tengah ajang pertempuran. Bukan hanya para atlet itu, band-band amatir maupun profesional Indonesia, yang sering mengadakan konser maupun tour-tour di berbagai kota pun, turut berlari-lari di belakangnya. Paling depan adalah para atlet sepak bola, bahkan tampak pula wajah-wajah yang kerap menghuni bangku tim nasional Indonesia. Betapa. Mereka berlari, dengan menggenggam beragam senjata di tangan. Tak ketinggalan para atlet bulu tangkis Indonesia. Susul-menyusul pula, berturut-turut atlet voli, atlet arung jeram, atlet tennis, atlet basket, atlet lari. Ah, nampaknya seluruh atlet dari segala cabang, ada di antara mereka. Ratusan atlet itu tak kalah pula marahnya, mereka berteriak-teriak mengutuk LSM berbendera hijau itu. Saling caci terjadi. LSM itu tak kurang kagetnya menyaksikan ratusan manusia terus datang berduyun-duyun, nyaris tanpa putus.

Seorang kakek tua, yang sedang bebaring di ranjang yang tak kalah tuanya. Serta merta tersentak dari pembaringannya demi mendengar suara keributan di jalanan yang tak jauh dari rumahnya. Dalam mulut kakek itu, masih terselip sebatang rokok. Kakek itu bangkit, tidak dihiraukannya nasehat sang istri untuk tetap tinggal di rumah. Akal sehatnya telah hilang, kakek itu tengah berada dalam cengkeraman naluri nikotin yang seakan telah menyatu dalan segenap tulang dan darahnya. Dengan nafas yang tersengal-sengal, serta batuk yang terdengar menderu-deru, kakek itu berlari, turut bergabug dengan para musisi dan atlet yang tengah berjibaku menghajar LSM berbendera hijau. Ah, tampaknya kakek itu bukan satu-satunya lelaki berumur, yang turut dalam keramaian massa itu. Di belakang kakek itu kini telah menyusul, belasan, ah tidak, lebih kalau hanya sekadar belasan, mereka terlihat banyak. Sangat banyak, dengan surban yang melilit di atas kepalanya. Betapa. Para orang tua berjanggut putih itu tak kalah semangatnya dibanding ratusan pemuda yang lebih dulu ikut andil dalam pertempuran itu.

Tak terhitung lagi, kini, berapa banyak darah yang tertumpah. Kena sabetan parang, pentungan terayun membabi buta, dan teriakan yang menyayat terdengar di mana-mana. Pertempuran telah berlangsung lama, sementara para LSM itu terlihat kewalahan, tetapi mereka tetap menyerang, muka mereka tetap meradang. Sekarang mereka tetap kalah, tak berkutik menghadapi beringas ratusan pembela asap rokok.

Ah, lihatlah dulu ke dalam gedung pabrik itu. Hampir terlupakan sang direktur dan asistennya, mari kita tengok sebentar. Mereka duduk santai, sambil menyeduh kopi, dan menghisap batangan rokok berkualitas tinggi, tentu dengan takaran nikotin yang telah mereka kurangi. Asyik sekali tampaknya melihat pertempuran di bawah, seperti melihat tayangan bioskop saja. Betapa.

Loby L, 26 Mei 2009, 13:25

Advertisements

3 responses to “asap rokok

  1. eemmmmmmmmmmm……..no comment

  2. ada nding “sosializzzzzzzzzz…”

  3. orang kesehatan aja banyak yang ngrokok,palagi orang awam.mreka yang katanya master kesehatan aja ga peduli.trus gimana menurutmu????apa gunanya cari ilmu????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s