dunia kecil yang terpasung

gedung GIPMinggu lalu aku pergi ke Depok, bermaksud ke penerbit Gema Insani. Ada Expo dari penerbit itu, dengan tajuk GIP EXPO. Sebenarnya ada yang lebih dekat, yaitu di Kalibata, Jakarta Selatan, tetapi aku ingin ke penerbit pusatnya sekalian, nanggung rasanya, lagi pula jarak ke Depok kupikir tak terlalu jauh juga. Persamaannya, aku sama sekali belum pernah ke GIP Kalibata, apalagi ke Depok. Parahnya, aku berangkat ke sana sendirian, berbekal informasi dari teman-temanku, angkutan apa yang nantinya bisa kugunakan untuk sampai ke Depok.

Sempat nyasar di terminal ITC Depok, akhirnya sampai juga di kantor pusat penerbit Gema Insani. Udah jauh-jauh gini, aku beli 6 buku sekaligus (buku terbanyak yang pernah aku beli, dalam satu kunjungan), karena ada Expo, jadinya tak terlalu mahal, cukup merogoh kocek sedalam 55 ribu saja. Kalau masalah rekor pengeluaran terbanyak waktu beli buku, bulan lalu pernah habis 130 ribu. Terlalu sedikit ya untuk sebuah rekor, maklum aku paling hati-hati kalau beli buku. Ada alasan tersendiri, kenapa aku gak mau terlalu banyak beli buku.

Well, sebenarnya bukan itu yang ingin aku ceritain. Selepas dari GIP, aku pulang. Jarang-jarang ke Depok, kuputuskan untuk jalan-jalan dulu, dari GIP jalan kaki menuju Margo City Mall, sejauh kurang lebih 3 kilometer (jalan-jalan dalam arti yang sebenarnya ^^). Sampai di sana, kok rame banget ya, banyak pengunjungnya, terutama di lantai bawah. Oh rupanya ada semacam festival untuk anak-anak, dengan tajuk: The Place to be Smart

Dalam festival itu, tampak anak-anak kecil seumuran balita menunjukkan aksinya, ada yang menggambar, mewarnai, ada juga yang main musik. Kemampuan mereka dalam memainkan gitar, organ, dan drum cukup bagus mengingat umur mereka masih terbilang bau kencur. Aku aja yang sudah hampir berumur kepala dua gini masih geragapan kalau main gitar, tapi kalau cuma kunci C,D,G aja, bisa lah…^^.
Di satu sisi, kemampuan bocah-bocah itu dalam main musik layak diacungi jempol, tetapi acungan jempol itu mendadak turun ke bawah saat aku mengetahui lagu apa yang mereka nyanyikan. Kalau gak salah inget, lagunya Dewiq ft Indra Bekti, yang bait awalnya: Eh..Eh.., kok gitu sih… Tahu kan, aku lupa judulnya. Rasanya belum pantas aja, seorang anak kecil menyanyikan lagu dengan tipe seperti itu. Ditambah lagi, adik yang cewek menyanyikannya secara ‘totalitas’. Berlagak, seakan-akan dia sudah dewasa, berusaha mati-matian menyanyi dengan gaya penyanyi dewasa, walaupun tetap saja terkesan kaku, kodratnya kan masih anak kecil. Lebih mengenaskan lagi, kostum yang dipake pun berlagak layaknya orang dewasa, dengan model you can see, dan rok mini di padu rumbai-rumbai gak jelas. Memprihatinkan.

Kualihkan pandangan ke arah penonton, kebanyakan senyum-senyum melihat penampilan bocah-bocah itu, bahkan ada yang sampai bertepuk tangan histeris, kagum mungkin. Sungguh, kekaguman yang salah ditempatkan. Anak sekecil itu, lebih layak untuk bisa menikmati masa kecilnya dengan alami, wajar. Layaknya anak-anak kecil lain, tumbuh secara alami, melihat, mendengar, dan melakukan apa yang memang seharusnya, sesuai dengan tingkatan usia, tetapi kini harus terseret dalam ‘absurd’nya perkembangan zaman. Dulu, dalam usia seperti itu, aku masih bermain-main dengan tanah lempung, membuat mobil-mobilan, main kelereng, ataupun membuat kandang jangkrik dari bilah-bilah bambu yang di ikat kawat.

anak kecil di Margo CityKuakui, zaman memang telah berubah. Perkembangan teknologi layaknya kilat yang bergerak cepat, tetapi haruskah dunia anak-anak yang seharusnya penuh dengan kegembiraan, tanpa beban, menjadi terpasung dengan (kadang) sifat egois dari orang tua mereka. Orang tua yang nantinya menginginkan anak-anaknya menjadi musisi terkenal, sejak dini telah mendaftarkan anaknya ke tempat kursus-kursus musik. Les piano, les gitar, les biola, dan sebagainya. Belum lagi, jika si anak masih harus mengikuti beragam les privat di luar jam pelajaran sekolahnya. Berapa banyak waktu anak-anak yang akan tersita demi menuruti keinginan orang tuanya. Aku tulis di sini: ‘menuruti keinginan orang tua’, karena aku yakin, dengan usia sekecil itu, seorang anak belum mampu menggunakan daya pikirnya secara optimal untuk paling tidak membuat peta hidupnya. Campur tangan orang tua adalah perkiraan logis yang menyebabkan si anak mengikuti beragam les dan kursus sejak usianya masih berseragam putih-merah.

Sekolah-sekolah Dasar yang mengklaim dirinya sebagai Sekolah Dasar Terpadu, yang seringkali menerapkan sistem belajar full day learning, turut ambil bagian dalam ‘merampas’ masa kecil, yang selayaknya diisi dengan kesenangan, kemanjaan dan kebebasan seperti anak kecil kebanyakan. Masyarakat seakan terbius dengan kata-kata ‘Terpadu’, yang menurut anggapan mereka unggul segala-galanya.

Memang, globalisasi yang marak menjadi wacana di beragam surat kabar belakangan ini mungkin menjadi alasan kenapa sekolah-sekolah terpadu mulai menjamur, bak cendawan di musim hujan. Selain faktor sekolah itu sendiri, faktor dari orang tua yang mulai khawatir akan perkembangan masa depan terutama dunia kerja dewasa ini, turut memberi faktor pendukung, kenapa sekolah semacam itu terus dibanjiri siswa setiap tahunnya. Sekolah-sekolah semacam itu, dianggap sebagai jawaban dalam meningkatkan kemampuan, baik kemampuan otak, maupun skill, demi menghadapi ganasnya persaingan dalam dunia kerja nanti, saat si anak telah tumbuh dewasa.

Persepsi seperti itu sah-sah saja, tetapi janganlah niat sebaik itu harus pula mengorbankan masa kecil anak-anak yang penuh kesenangan dengan beragam aktivitas sekolah, dan setumpuk tugas yang membuat joke: masa kecil kurang bahagia, menjadi benar-benar nyata. [noe]

Advertisements

2 responses to “dunia kecil yang terpasung

  1. Semua orang tua menginginkan anaknya sukses tapi tidak semua orangtua mengukur kesuksesan anaknya dengan kecemerlangan karir, masih ada orangtua yang mengukur kesuksesan anaknya dengan sesuatu yang lebih besar dari karir…

    Dunia kita dan dunia mereka berbeda tapi itu semua bisa diantisipasi, tergantung kita sebagai orangtua bagaimana mendidik dan mengarahkannya…

    Memang lebih baik membiarkan anak melewati masanya secara wajar, tanpa les ini dan les itu…sebaiknya memang seperti itu…
    Terkadang juga, walaupun waktu mereka habis untuk les yang bermacam-macam, tidak semua dari mereka kehilangan masa kanak-kanaknya untuk bermain…

    Afwan…

    Hem…, menarik
    –berlagak mikir–

  2. Bagaimana anak bergaya dan berekspresi (dalam hal seni) juga tidak terlepas dari peran orangtua, bagaimana kita mendekatkannya pada seni itu sendiri. Anak memiliki potensi keindahan, potensi yang bernilai seni dalam dirinya baik dalam pengertian menikmati maupun berekspresi. Dalam hal ini ibu yang mula-mula berjasa menggali patensi itu, berjasa menanamkan dalam jiwa, menikmati dalam rasa dan indera serta mengekspresikan dalam bentuk tingkah laku verbal maupun nonverbal…

    Give applouse untuk para ibu yang sukses mendidik anaknya dalam seni serta para calon ibu masa depan hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s