menulislah…

menulislah
Ketika aku bertanya kepada orang-orang tentang : Kapan waktu yang paling nikmat untuk tidur? Kebanyakan menjawab waktu kecapekan (logis), ketika malam hari (ah, standar), habis subuh (kebiasaan buruk), waktu di kelas (ingat IP bro), parahnya ada yang menjawab: waktu khotbah Jumat (tobat..tobat..).

Tidak bisa disalahkan memang, karena saat-saat seperti itulah tidur bisa terasa lebih nikmat. Tak ada bedanya denganku, aku pun merasakan hal yang sama. Tapi seringkali, aku bisa menahan untuk tidak tidur pada saat-saat seperti di atas terutama ketika di dalam kelas dengan menulis. Ya, dengan menulislah seringkali rasa kantuk yang menyergapku hilang. Kalaupun tidak menghilang, paling tidak cukup mengurangi lah …

Aku pun tidak menyalahkan bagi mereka yang menjawab: waktu khotbah Jumat. Kuakui memang nikmat sekali untuk tidur ketika itu. Bukan bermaksud (lagi-lagi) mengkambinghitamkan syaiton sebagai penyebabnya, tapi entah apakah makhluk Tuhan yang satu ini turut campur untuk menambah rasa nikmat ketika tidur atau tidak, yang jelas memang rasanya lain ketika tidur saat khotbah Jumat. Parahnya lagi, aku tidak bisa melakukan jurus pamungkasku untuk menahan kantuk ketika khotbah Jumat: menulis. Jadilah, kadangkala diperlukan perjuangan yang cukup keras untuk menahan kantuk di waktu khotbah Jumat.

Rangkaian kata yang kutulis kadang tak berarti, tapi tak apa, puas saja aku melimpahkan semua rasa di hatiku. Selain dapat mencegah kantukku untuk sementara, menulis juga kurasakan dapat mengeluarkan rasa kesal, mangkel, marah, sebel, rindu, dendam, dan segala macam rasa lainnya.
Pernah, aku sungguh tidak puas dengan cara penilaian yang dilakukan oleh salah seorang guru SMA-ku. Sangat tidak objektif, keadilan tidak kudapatkan di sini. Protesku tidak dipedulikan. Kekesalanku memuncak. Teriak-teriak juga tak ada gunanya kupikir. Kuambil agenda yang terselip di antara tumpukan bukuku, kubuka bagian yang kosong, kuambil pena. Dengan genggaman kuat, kutorehkan pena itu. Apapun yang aku rasakan kualirkan lewat tangan untuk mengungkapkannya. Tidak peduli dengan EYD, tidak peduli dengan huruf kapital, entah kemana logika kalimat. Empat lembar habis kucoret-coret dengan tulisan yang nyaris tak bisa dibaca, tapi aku puas, kekesalanku sedikit mereda walaupun tentu tak habis seluruhnya.

Banyak orang mengeluarkan duit banyak-banyak untuk pergi ke psikiater, mengobati penyakit ‘syaraf’ yang menyergap. Stress katanya. Pekerjaan menumpuk, istri selingkuh, anak bandel, bos marah-marah, sering lembur, gaji pas-pasan (ketahuan, sering nonton sinetron Indonesia, ha..ha..). Padahal jikalau mau, kita bisa me-manage beban pikiran yang menggelayut tiap hari dengan cara yang lebih bijak, hemat pastinya. Tentu saja salah satu caranya: menulis. Maka menulislah kawan…

Advertisements

5 responses to “menulislah…

  1. ada beberapa perubahan yang direncanakan untuk publikasi karya yang lebih baik. kuantitas tak penting. kualitas lebih utama.

    aku lagi cuti sejenak. monitorku njeblug. tunggu minggu depan. penuh perubahan insyaAllah.

  2. @: porthos
    jare tanpa komputer tetep berkarya,
    ngrasakne dewe tho, nek ra enek komputer… 😛

  3. kalo g bakat nulis tapi banyak yang mau diutarakan gimana? (bingung mau mulai darimana)

    menulis: 1% bakat, 99% usaha. Mulai saja menulis, gak usah dipikirkan bagus ndaknya, editing, belakangan

  4. “Menulis menebar kebaikan”

  5. okeh . .okeh . .
    tapi gg mirip ah, Gie??

    judul?

    isi?

    beda alur kok’

    meski endin’ mirip . .

    tapi serius deh . .aq dah lama gg cek WP . .

    kebetulan se-fikroh aja kalii yaa??

    emang, tapi temanya aja yang sama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s