Ne Jamais se Terminant Asie (chapter 2)

maskam-ugmHari sudah menjelang sore, aku masih di masjid kampus UGM, selepas ashar. Kali ini aku tidak sendiri lagi, sahabatku telah datang. Tapi dengan gaya asing yang jarang kukenal. Melangkah cuek di depanku seakan tak mengenaliku, Sial!. Kubiarkan saja, kupikir dia hendak bercanda, merajuk dikit, setelah lama tak bersua.

Ternyata aku salah, kupandangi saja, rupanya dia memang tidak mengenaliku. Dia masih celingak-celinguk mencariku di antara jamaah maskam UGM. Ya Tuhan, kenapa hari ini mendadak semua orang seakan tak peduli dengan keberadaanku. Tak sabar, kukirim pesan singkat: “aku sedang duduk, khusyuk, mengukir memory”.
Héh, tampaknya dia sadar. Aku disambutnya dengan lemparan tas Eiger yang hampir mengenai kepalaku. Aku memandangnya, dia tersenyum, aku tersenyum. Kami berjabat erat, dalam peluk erat.

Suasana cair, kami ngobrol laiknya kawan lama. Ibarat Porthos dan Athos, dalam novel The Three Musketeers karangan Alexander Dumas, sayang The third Musketeer, Aramis, belum turut bergabung bersama kami, masih ada kuliah tampaknya.

Gerimis belum sepenuhnya reda, tapi dia memaksaku berjalan bersama.

“Cuma seperti ini, apa yang kau takutkan”, katanya, menantangku.
“OK”

Dalam gerimis kami berjalan, keren sekali tampaknya kalau adegan ini di-film-kan, he..he..
Kami menuju serambi sebuah gedung, depan perpustakaan 2, entah gedung apa, aku lupa namanya. Ada janji dengan pengurus FLP Jogja di sini. “Pertemuan rutin”, itu katamu.

Tak banyak, agenda FLP sore ini, hanya sedikit yang datang, mungkin karena selepas hujan. Agenda sore ini, ‘pembantaian karya’, itu istilahku, di sini, AKSARA STAN. Cerpen punya sholi dikritik habis-habisan. Aku tersenyum saja dalam hati, aku tahu yang kamu rasakan sholi, aku pun pernah merasakannya. Tak apa, teknis penulisan kadang perlu walaupun tidak mutlak diperlukan.

toegoe-djokdjakartaAdzan magrib memaksa halaqah ini untuk segera diakhiri, walaupun otak-otak para pengurus FLP ini masih dipenuhi segudang pemikiran untuk disampaikan, pada sholi tentunya, selaku ‘terdakwa’.

Sholat magrib di mushola perpustakaan 2. Ternyata, Aramis, si Musketeer ke tiga telah ada di sana, menunggu kami, hari ini dia tak ikut pertemuan FLP. Lengkaplah sudah The Three Musketeers sekarang. Selepas sholat magrib, suasana jadi terasa menyenangkan, saling berbagi kisah, dipadu kerinduan membuncah, sungguh indah.

Sore ini Aramis sudah janji untuk mentraktir kami, dia dapat bea siswa, IP-nya semester ini juga cumlaude, katanya. Tak masalah apapun alasannya, kami senang saja, wong gak bayar, ha..ha…

Bingung milih menu enak, di tempat enak. Akhirnya pilihan jatuh di sebuah warung makan yang menyediakan ikan bakar sebagai santapan, hm… nikmat. Aku tak mempermasalahkan di mana tempat makan, di ajak di angkringan pun aku mau saja. “Sudah bosan, cari yang lain, yang lebih mewah”, itu kata Porthos memberi alasan. Tak penting, yang terpenting kami bisa bertemu, berkumpul, mengambangkan kembali impian dan cita-cita kami. FLP harus berdiri. Itu yang selalu terngiang dalam benak masing-masing.

Malam yang indah. Malam ini belum usai, malam masih panjang, masih ada segudang ide kami siapkan. Kami, yang terbiasa menikmati malam, tak akan membiarkan kesempatan ini lewat dalam lelap.

“Malam ini tak usah tidur”, one Musketeer shout.
“OK, jangan tidur”, the other shout.

Tapi, tak semua bisa kami bagi. Biarlah sekelumit kisah ini mampu mewakili, hati-hati yang tengah melambung tinggi. Cita kami teramat tinggi, biarlah Tuhan yang memeluk mimpi-mimpi. Diawali secangkir coklat panas musim dingin, pagi hari, hingga melayang di atas hamparan laut Mediterania. Bukan untuknya, bukan untuk siapa, tapi untuk kami.

Advertisements

One response to “Ne Jamais se Terminant Asie (chapter 2)

  1. ‘Kuingatkan, gedung di depan perpustakaan pusat 2 adalah balairung selasar selatan tak lain adalah gedung rektorat pusat pemerintahan kampus rakyat…

    Mimpi itu tak berlengan tetapi selalu ada jika kita menginginkannya layaknya batu-batu yang menyusun sebuah bangunan yang tak kan habis bila terbakar atau hancur jika badai datang…

    Rabbi… peluk mimpi kami erat…

    Dan kita akan pemenangnya ^_^……..’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s