Pemimpin ideal tidak hanya dalam angan

“Saudara-saudara, Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. ‘Orang lemah’ diantara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. ‘Orang kuat’ diantara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan Sholat semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua”

Begitulah kata-kata dahsyat yang diucapkan oleh seorang Abu Bakar ash-Shidiq ketika beliau menyampaikan pidatonya sesaat setelah diangkat sebagai kholifah pengganti Rasulullah SAW. Sungguh penuh dengan integritas dan idealisme. Tidak tampak sama sekali kesan penguasa arogan dalam kata-kata Abu Bakar.

pemimpinSeorang pemimpin pada hakekatnya bukanlah seseorang yang perlu diistimewakan. Ia hanya sekedar orang yang harus didahulukan selangkah dari yang lainnya karena ia mendapatkan kepercayaan dalam memimpin dan mengemban amanat. Ia seolah pelayan rakyat yang diatas pundaknya terletak tanggung jawab besar yang mesti dipertanggungjawabkan. Ia seperti seorang “partner” dalam batas-batas tertentu bukan seperti “tuan dengan hambanya”. Seorang pemimpin juga bukanlah semacam raja-raja Jawa yang setiap kata-katanya adalah sabda pendita ratu yang harus selalu diikuti.

Seperti yang disebutkan di atas. Seorang pemimpin memiliki sebuah tanggung jawab besar yang nantinya pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Kalaupun kesalahan-kesalahan dan kelalaiannya luput dari pemerikasaan ‘peradilan’ dunia, yakinlah Allah Maha Adil. Peradilan akhirat kelak tidak akan mengenal kata ‘luput’ dalam proses pengungkapan kebenaran.

Mengingat ‘beban’ moral yang dipikul seorang pemimpin sangatlah berat, semestinya tidaklah pantas jabatan pemimpin itu diperebutkan dengan penuh nafsu untuk berkuasa, sampai direwangi beragam trik penuh intrik hanya untuk menarik simpatik agar nantinya terkesan cantik dimata publik.
Ibnu Taimiyyah pernah menegaskan dalam bukunya Al-Siyaasah al-Syar’iyyah:
“Karena kepemimpinan merupakan suatu amanah maka untuk meraihnya harus dengan cara yang benar, jujur dan baik. Dan tugas yang diamanatkan itu juga harus dilaksanakan dengan baik dan bijaksana. Karena itu pula dalam menunjuk seorang pemimpin bukanlah berdasarkan golongan dan kekerabatan semata, tapi lebih mengutamakan keahlian, profesionalisme dan keaktifan.”

Tanggung jawab moral pemimpin memang berat, tetapi janganlah ciut nyali jika memang amanah itu telah menanti. Percantik diri sebagai pemimpin dengan meneladani pemimpin terbaik umat ini: Rasulullah SAW.

Sebagai pemimpin umat, Nabi SAW memiliki empat ciri kepemimpinan:

1. Shidiq (jujur). Sebuah sifat dasar yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin. Ia harus selalu berusaha menempatkan dirinya pada posisi benar, memiliki sifat benar, berada di pihak kebenaran, dan memperjuangkan kebenaran dalam lingkungan yang menjadi tanggungjawabnya.

2. Tabligh (menyampaikan yang harus disampaikan). Seorang pemimpin semestinya memiliki sikap keterbukaan dalam berbagai hal yang perlu untuk disampaikan, tiada sifat tertutup pada dirinya, karena ketertutupan akan menimbulkan keraguan pihak lain, dan melahirkan fitnah dalam kepemimpinannya.

3. Amanah (penuh tanggungjawab). Apabila mendapat suatu tanggung jawab, ia kerahkan segala kemampuannya untuk melaksanakan tugas yang dipikulnya. Ia yakin bahwa dirinya mas’ul dan harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.

4. Fathanah (cerdik). Seorang pemimpin mestilah basthah fi al-ilmi (memiliki pengetahuan yang luas) dan pemahaman yang benar mengenai tugasnya. Kemampuan managerial yang matang, cepat dan tepat dalam menetapkan suatu keputusan. Kemampuan yang tinggi dalam menetapkan makhraj (solusi) dari suatu kemelut dalam lingkup tanggungjawabnya.

Hanya empat kawan, tak perlu banyak cakap, kerjakan saja, Insya Allah pemimpin ideal ada dalam genggaman. Jikalau Rasulullah SAW telah jadi teladan, tersesat jalan.adalah kemustahilan. Jangan lupa pula, tetaplah Allah SWT jadi sandaran, karena Dia-lah Penguasa semesta alam:
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Rabb pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan engkau cabut kekuasaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Ali Imran:26)
[noe]

ditulis untuk Insan Kamil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s