Mbah Syam*

siluet pak guruPagi masih buta, gelap seadanya. Cahaya fajar di ufuk timur masih terasa samar untuk dirasakan. Jalan ini masih lengang. Untuk beberapa saat kelengangan itu bertahan. Tak lama sesudahnya, suara gemeretak besi tua terdengar memecah kesunyian. Semakin jelas terdengar ketika roda sepeda kumbang itu beradu dengan jalanan desa Jaten yang tidak rata. Dari jauh, sepeda kumbang itu masih tertelan pekatnya kabut. Belum nampak siapa pengendara di atasnya. Semakin lama semakin jelaslah sosok itu. Dengan pakaian berwarna pudar, rambut yang tersisir seadanya, dan tas hitam terjepit rapat di belakangnya. Sosok itu mengayuh sepeda kumbangnya dengan mantap.

Pagi memang masih buta. Tapi tidak demikian dengan mbah Syam, begitulah sosok itu biasa disapa oleh anak-anak didiknya. Jarak rumah mbah Syam dengan SMA 2 Ngawi, tidak bisa dibilang dekat untuk sebuah sepeda kumbang. 20 kilometer, 45 menit, setiap pagi dan sore dia kayuh sepeda itu. Satu alasan yang membuatnya tak pernah berpikir untuk berhenti dari rutinitas melelahkan itu. Anak didik. Ya… anak didik. Mbah Syam sangat mencintai anak didiknya, dia begitu cinta akan dunia pendidikan. Tak pernah dihiraukannya keluhan dari rekan pengajarnya mengenai rendahnya gaji guru. Tetap, setiap hari dia begitu bersemangat mengayuh sepeda kumbang pemberian bapaknya, hanya dengan satu alasan sederhana, anak didik.

Pagi sudah semakin terang. Matahari yang menyembul perlahan seakan memberikan sebuah senyuman ramah kepada mbah Syam. Gerbang sekolah yang tegak, kaku berdiri, turut pula memberikan sambutan hangat kepada mbah Syam. Dia turun dari sepedanya, menatap papan nama yang tergantung di atas gerbang. Lekat matanya menatap papan nama itu. Telah 35 tahun lamanya dia mengabdi sebagai tenaga pendidik dengan gaji tak seberapa di sekolah itu. Dan tak sekalipun terlintas dalam pikirannya untuk berhenti.

Mbah Syam melangkahkan kakinya memasuki halaman sekolah dengan penuh harapan. Harapan besar untuk para anak didiknya. Seperti biasa, layaknya pagi yang sudah-sudah dia tetap menyunggingkan senyuman setiap kali bertemu dengan anak didiknya, bagaimanapun suasana hatinya. Baginya, tak ada alasan untuk tidak bangga mengabdi sebagai pendidik.

Mbah Syam terus melangkah dengan gagah, memasuki pelataran parkir untuk para guru. Memarkir sepeda kumbangnya diantara jejeran sepeda motor dan mobil yang telah terparkir rapi. Sesaat matanya memandang deretan sepeda motor dan mobil di areal pelataran itu. Kembali, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Gaji yang diterima mbah Syam tidak bisa dibilang rendah dibanding rekan seprofesinya. Hampir sama, tak terlalu jauh perbedaannya. Mbah Syam hanya kalah lihai dibandingkan dengan guru-guru ‘penguasa’ untuk mencari omzet tambahan. Ditambah, anak bungsu mbah Syam yang menderita talasemia sejak lahir, membuatnya harus berpikir ulang untuk mencoba kredit sepeda motor. Hampir dua per tiga dari gajinya perbulan, habis untuk biaya pengobatan anaknya. Pergi ke dokter, terapi gen, akupunktur, pengobatan alternatif, sampai mencoba ramuan jamu gendong pernah dilakukan mbah Syam. Yah… namanya juga ikhtiar, siapa tahu saja bisa sembuh. Toh gak ada yang tahu, dan gak ada yang bisa meramalkan, kecuali Sang Penguasa. Ya rabbul arsyil ‘adziim, ya kariim, ya ghafururrahiim…

Gaji guru memang kecil, tapi sekali lagi hal itu tidak membuat mbah Syam berpikir untuk beralih profesi. Hatinya telah terpatri kuat untuk selalu setia dengan profesinya sekarang. Pahlawan tanpa tanda jasa, kata orang-orang.

Hari masih terlalu dini untuk menuju kelas. Dan tempat yang tepat untuk menunggu adalah ruang guru. Tempat mbah Syam bertemu dengan rekan-rekan seprofesinya. Saling bertukar cerita, melepaskan banyolan-banyolan kecil untuk sekedar mengurangi dinginnya suasana pagi. Dan seperti biasa pula, mbah Syam menanggapi banyolan rekan-rekannya dengan sesungging kecil senyuman di bibirnya. Semua berjalan biasa, hingga tak terasa waktu mengajar telah tiba. Inilah saat-saat yang ditunggu mbah Syam, saat dia bisa bertatap muka dengan anak-anak didiknya. Tiada kesenangan mengajar yang didapat mbah Syam selain bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak didiknya.

Semua mata tertuju ke arah Mbah Syam. Dengan penuh perhatian, seluruh anak didik mbah Syam memperhatikan penjelasan yang diberikannya dengan penuh kesungguhan. Tiap kalimat, tiap kata, tiap huruf, semuanya. Seakan mereka tidak ingin terlewat barang sekejap-pun dari penjelasan yang diberikan mbah Syam. Bukanlah karena penampilan, atau gaya bicara mbah Syam yang membuat mereka begitu memperhatikan. Bukan pula karena pelajaran mbah Syam amat penting untuk menentukan kelulusan mereka. Bukan… Cara mengajar mbah Syam sama saja seperti pengajar-pengajar yang lain, bahkan cenderung monoton dan membosankan. Pelajaran Sejarah Indonesia yang diajarkan oleh mbah Syam, mau tidak mau membuatnya harus sering-sering mendongeng. Tidak masalah kalau gaya mendongeng mbah Syam sekelas Kak Seto atau Butet Kertaradjasa yang unik dan ekspresif. Gaya mendongeng mbah Syam lebih mirip pidato 17-an yang membosankan dan membuat ngantuk.

Kepribadian dan sikap mbah Syam-lah yang membuat anak didiknya begitu menghormati dan menghargai segala perbuatan mbah Syam. Pernah suatu ketika, di suatu pagi, ketika hari tengah hujan lebat. Mbah Syam tidak sengaja menginjak genangan air yang membanjir di depan pintu kelas. Mbah Syam kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab. Semua anak didiknya diam, tak ada yang menertawakan mbah Syam. Spontan, mereka berebutan menolong mbah Syam untuk berdiri. Sekilas terlihat rona kecemasan membayang pada wajah anak-anak didik mbah Syam. Mbah Syam memandang wajah-wajah mereka, dia melemparkan senyum kepada mereka, sekedar memberi tanda kalau dia baik-baik saja.

Di SMA 2 Ngawi, sosok mbah Syam dikenal sebagai seorang yang rendah hati dan murah senyum. Dia tidak segan-segan untuk memberi bantuan kepada siapapun. Tidak memandang status dan pangkat, semuanya dia bantu sebisanya. Tidak hanya rekan-rekan seprofesinya, anak didik mbah Syam pun merasakan hal yang sama. Satu yang paling unik dan berkesan di mata anak didik mbah Syam. Beliau sering berbaur dengan anak-anak, melibatkan diri, dan ikut beraktivitas dengan para anak didiknya. Di sore hari yang cerah, mbah Syam sering terlihat di antara kerumunan anak-anak bermain bola. Tidak hanya sebagai penonton, tapi beliau juga turut bermain. Walaupun beliau hanya berdiri di pojok lapangan untuk menendang bola yang kebetulan lewat di depannya, tapi hal itu cukup untuk memberikan kesan tersendiri bagi anak-anak terhadap sosok mbah Syam.

Dengan santainya, mbah Syam masih mengajar sembari bercanda dengan siswa-siswanya. Tiada beban tampak di wajahnya, seakan kewajiban mengajar adalah kebutuhan hidup yang harus beliau lakukan, ibarat candu yang tidak dapat ditinggalkan. Dia menikmatinya. Di tengah keasyikannya mengajar, terdengar ketukan pintu, refleks semua mata memandang ke arah pintu. Seorang pesuruh sekolah berusia 50-an berdiri mematung di depan pintu. Tangannya saling menggenggam bersilang di depan. Mbah Syam menemui pesuruh sekolah itu. Terlihat percakapan antara mereka berdua. Beberapa saat kemudian, pesuruh sekolah itu berlalu meninggalkan mbah Syam. Sesaat mbah Syam terdiam di tempatnya. Berdiri mematung dengan alis mata yang saling bertautan, berpikir rupanya. Anak-anak didik mbah Syam masih mengamati segala tingkah polahnya. Diantara mereka saling berbisik, entah apa yang dibicarakan. Mbah Syam mengalihkan pandangannya ke arah ruangan kelas, bibirnya kembali tersenyum. Dia meminta izin kepada murid-muridnya untuk pergi sebentar, ada sedikit urusan yang perlu diselesaikannya. Serempak seluruh anak didik mbah Syam mengiyakan.

Mbah Syam berjalan cepat-cepat di koridor antara ruang guru dan laboratorium komputer. Pikirannya tidak tenang. Bibirnya sudah tidak mampu lagi untuk sekedar menyunggingkan senyuman. Pembicaraannya dengan pesuruh sekolah barusan, membuatnya berpikir, apa yang sebenarnya terjadi, batinnya. Mbah Syam terus berjalan melintasi taman sekolah dengan langkah yang tetap. Melewati taman sekolah dia berhenti. Dia pandang sejenak papan kecil yang tertempel di atas ruangan, “Ruang Kepala Sekolah”, ejanya dalam hati. Dengan ragu dia ketuk pintu itu. Perintah untuk masuk terdengar dari dalam ruangan. Mbah Syam membuka pintu, memandang wajah kepala sekolah dan tersenyum, kepala sekolah memandangnya dengan senyuman pula. Mbah Syam masuk ke dalam ruangan yang dingin itu. Sesaat tubuhnya kaget dengan hawa dingin yang tiba-tiba menusuk. Rasa dingin yang menusuk kulitnya, merembes ke dalam, melewati jaringan dermis, jaringan otot rongga dada, hingga hawa dingin itu kini menyengat hatinya. Untuk sesaat hatinya beku, antara gelisah dan penasaran. Akhirnya dengan langkah ragu dia masuk ke dalam ruangan dingin itu. Ruangan dengan 2 AC yang terpasang di dalamnya. Mbah syam masuk, tak lupa dia tutup kembali pintu itu.

Pintu ruang kepala sekolah telah tertutup rapat. Membingkai seluruh kejadian dan pembicaraan yang terjadi di dalamnya. Dinding tebal yang mengelilingi ruangan itu bagaikan sekat kedap suara yang tidak mengijinkan suara apapun keluar dari dalamnya. Keadaan lengang, hampa, dan tanpa gema itu tidak berlangsung lama. Berselang lima belas menit kemudian pintu itu kembali terbuka. Mbah Syam keluar dari ruangan itu, mukanya pucat tidak bergairah. Tidak tampak lagi gurat senyum yang biasa tersungging di bibirnya.

Mbah Syam merasakan kegoncangan dalam pikirannya, antara percaya dan tidak. Pikirannya kalut, bagaikan disambar petir jutaan volt, dia menerima berita tadi. Langkahnya gontai menuju ruang kelas. Informasi yang disampaikan Kepala Sekolah mengenai kepensiunannya, benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Tubuh, kaki, dan tangan ini masih kuat mengayuh sepeda 20 kilo setiap hari, apa yang membuatku harus beristirahat, rutuknya dalam hati. Umur ini memang telah tua, kulit ini memang telah keriput, rambut ini memang telah putih. Tapi hati ini tidak akan pernah tua, semangat ini akan terus membara. Tak bisa kutinggalkan anak didikku begitu saja. Apa yang harus kulakukan setelah ini. Aku akan mati dalam kebosanan yang menghinggapi. Tak bisa lagi kutatap wajah-wajah polos dan penuh semangat di dalam ruang belajar. Hari-hariku akan sepi ditemani kehampaan yang menyelimuti. Sunyi yang menyayat. Sepi yang berkarat. Bisakah aku bertahan dalam kesendirian tanpa mereka. Mbah Syam masih bertanya-tanya dalam hati, kegamangan dan kebimbangan mulai terjadi. Tapi semua memang telah terjadi, sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Usia kepala enam memang sudah tidak patut lagi untuk berdiri di depan kelas.

Mbah Syam lekas-lekas memperbaiki raut wajahnya. Tak ingin dia dilihat anak-anak didiknya dalam keadaan yang seperti ini. Dia pasang raut muka penuh semangat, tak lupa sesungging senyum kembali menghiasi bibirnya. Dia masuk kelas, semua anak terdiam, memandang ke arahnya. Mbah Syam tersenyum ke arah mereka. Sesaat kemudian suasana kembali seperti biasa. Mbah Syam kembali mengajar, memandang wajah-wajah penuh semangat dengan tatapan mata tajam ke arahnya. Dalam senyuman, mbah Syam tidak bisa menyembunyikan wajah sedihnya. Tapi itu ditahannya. Tak kuasa dia mengucap kata pisah kepada mereka. Biarlah hanya dirinya yang merasa, biarkan mereka tahu dengan sendirinya. Biarkan waktu yang akan bicara.

tetesairPagi masih buta, gelap seadanya. Pagi yang gelap, cahaya sang mentari belum juga nampak di ujung timur. Hanya semburat merahnya yang terlihat membias jingga di antara sabuk awan tipis dan kabut yang masih menyelimuti. Hari ini, hari terakhir mbah Syam untuk mengayuh sepeda kumbangnya di pagi buta menuju SMA 2. Hari ini tepat tanggal 25 Pebruari 2008, hari terakhir bagi mbah Syam untuk menginjakkan kakinya di SMA 2. Hari ini, hari terakhir bagi mbah Syam untuk menatap dunia pendidikan yang sekian tahun digelutinya, dicintainya. Dan sekali lagi hari ini, hari ketika mbah Syam harus berdiri di depan mimbar untuk sekedar mengucapkan kata pisah kepada seluruh keluarga besar SMA 2. Ritual yang tak pernah terbayang akan dilakukannya, ritual yang betul-betul menyiksa. Wajahnya tak semangat lagi, ayuhan kakinya pelan, menyayat. Dia melewati jalan-jalan sempit desa Jaten ketika pagi masih sepi, ketika embun pagi belum juga beranjak dari tempatnya berdiri. Burung-burung pagi yang bertengger di dahan-dahan pohon filicium di sepanjang jalan menyambutnya dengan kicauan ramah. Tapi mbah Syam tetap tak bergeming, matanya tak kuasa menikmati indahnya pagi. Semua terasa suram, terasa hambar yang terlalu samar. Tak mampu lagi otaknya untuk mengejawantahkan bayang indah yang tertangkap. Yang ada hanya sedih dan sepi.

Pagi di halaman SMA 2. Ramai tidak seperti biasanya. Semua murid, guru, staff TU, pesuruh sekolah, tukang kebun, juru foto copy, pegawai perpustakaan, penjual di kantin sekolah, satpam, sampai pengantar kerupuk dan donat yang biasa mensuplai jajanan di kantin sekolah hadir di lapangan itu. Siswa-siswa bengal yang kerap berurusan dengan satpam karena masalah keterlambatan pun hadir dalam barisan panjang garda depan. Mereka yang kehadirannya dalam upacara bendera bisa dihitung dengan jari tangan dalam setahun, hadir paling awal. Seakan, upacara pelepasan Mbah Syam adalah kejadian super penting yang tak boleh dilewatkan. Bahkan lebih penting dari hari kemerdekaan Indonesia.

Keramaian yang sepi. Keadaan lengang, semua diam tak bersuara. Hanyut dalam pikiran masing-masing. Tenggelam dalam telaga memory tentang sosok yang akan meninggalkan mereka. Burung-burung punai yang biasa beterbangan di atas lapangan setiap pagi walau hanya untuk sekedar pamer diri, kini berdiam, tepekur di puncak pohon sawo yang tumbuh di tepi lapangan. Burung-burung itu seakan tahu apa yang terjadi pagi itu.

Lama semua terdiam. Hari sudah mulai siang, tapi matahari seakan enggan menampakkan diri. Kabut yang menyelimuti semenjak pagi ternyata berbaur dengan awan kumulonimbus pembawa hujan. Awan itu menjulang tinggi layaknya sebuah menara, puncaknya mulus, menyerupai serabut yang hampir rata, tebal dan pekat. Gerimis mulai turun, satu per satu titik-titik hujan turun membasahi pepohonan, perdu dan ilalang di tepian lapangan. Sejenak semua pasang mata mendongak ke atas. Tak terbersit sedikitpun niatan untuk beranjak dari tempat mereka berdiri, bahkan ketika gerimis yang turun disusul oleh hujan deras diiringi sambaran halilintar. Hujan turun semakin deras, tapi semuanya masih tetap berdiri dan menanti. Mereka semua membatu, diam dan tak bergeming sedikitpun. Hujan itu menyapu batu-batu yang bertebaran di pinggir lapangan, meneteskan air yang hendak jatuh ke tanah. Membuat seakan-akan batu-batu itu menitikkan air mata, menangis. Mbah Syam, kau tidak sendiri. Lihatlah, batu pun menangis melepasmu.

Ngawi, 17 Juli 2008

“Kesan yang masih tertinggal”

* Beliau adalah kepala sekolah kami yang telah pensiun

Advertisements

6 responses to “Mbah Syam*

  1. Kenapa Judulnys diganti??

  2. @: aku
    Aku ingin lebih mengenangnya, seperti yang dilakukan ‘Tetsuko Kuroyanagi’ terhadap ‘Kobayashi’.
    Aku ingin lebih mengenangnya, beliau yang bercita-cita menjadi da’i setelah pensiun itu…

  3. Semoga cita-cita beliau dapat terwujud…

    Dan aku ingin seperti “mr. kobayashi” yang mampu berbeda dan mampu mengerti…

  4. kemajuan…..
    rumah baru ya? brengseknya…. aku selalu selangkah di belakangmu untuk urusan gini….

  5. @: hndika
    tapi kuakui, kau lebih unggul dalam genggaman jemari, bukan pada ujung jari…

  6. mending hentikan pengobatan,bikin anak lagi dengan harapan lebih baik.tapi jika hidup mengalir aja tanpa usaha lebih saat kebutuhan bertambah,namanya malezzzz.sabar artinya tidak hanya diam menerima nasib,tapi juga berjuang untuk memilih lebih baik.Setiap keputusan hidup ada resiko,tapi pilihan yang salh akan mencelakakan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s