Jakarta Emang Konyol

monasTelah seminggu ini aku menghabiskan waktu dekem di kos. Rasanya sungguh menyiksa, mengingat hobiku yang suka keluyuran. Terpaksalah, demi kelangsungan dan kelancaran proses perkuliahan. Pemulihan kondisi badan, perlu juga rasanya.

Sabtu, kegiatanku vakum. Tak ada kuliah, tak ada ‘sms job’, penyakit bosanku kambuh. Aku keluar kos, tak lupa pakai jaket dan bawa tas. Naik angkot, menuju Gramedia. Kupikir, sudah lama sekali aku tak ke ‘perpustakaan’ itu. Sekedar lihat-lihat, siapa tahu ketemu yang cantik-cantik -buku maksudnya-. Sampai di sana, ramai juga suasananya. Banyak orang di pelataran, ada yang jual kembang juga. Tumben, hari gini masih ada yang jualan kembang di jalanan, emang bisa laku banyak ya, batinku acuh. Beberapa langkah berjalan, otakku mulai sadar. Bukankah kata orang ini hari valentine, pantas saja (gerakan menepuk jidat).

Di dalam Bintaro Plaza, aku segera naik ke lantai 3, sambil berjalan menunduk, kayak anak kecil nyari koin jatuh. Tangan kututupkan di kiri-kanan mata, seperti kacamata kuda. Mencoba menjaga pandangan. (gak seheboh itu seh…).
Kukatakan padamu kawan, tempat kayak gini jarang-jarang aja dikunjungi, biar kamu gak terbiasa. Ibarat masuk kakus, ekspresi pertama nutup hidung, sambil kipas-kipas, lama-lama tu bau bisa senyaman casablanca, ya… yang ngerasa nyaman aja sama tuh parfum. Yang merasa alergi parfum, cari aja perumpamaan lain, repot amat.

Sampai di Gramedia, lantai tiga, aku sedikit kecewa. seluruh rak buku sudak kujelajahi, tak lihat-lihat, di intip dikit, tapit tak ada buku yang membuatku terkesan, biasa aja. Boring lagi… (dilihat doang sih, gak dibaca)
Kuputuskan turun gunung (?). Ehm…, ulangi. Kuputuskan turun lantai, lihat-lihat di dalam mall (jangan ditiru, nanti bisa terbiasa dengan bau kakus). Aku amati orang-orang yang lagi belanja, ada bapak-bapak, ibu-ibu, tante-tante, om-om, adik-adik, mbah-mbah (ehm…, kayake gak ada), mbak-mbak, mas-mas. Dengan dalih, mecoba menjadi manusia sosial, kuamati mereka. Ada adik cewek, pake seragam SMA masuk mall (kupanggil adik dong, kan dia masih SMA). Dia pake jilbab, dalam hati aku tersenyum. Ternyata masih ada remaja yang dengan kesadaran mau menutup aurat mereka. Kawan, di Jakarta nyari suasana kayak di Solo atau Jogja, dimana setiap keluar, pasti ketemu makhluk dengan jilbab lebar, sulitnya minta ampun. Ada yang pake jilbab, tapi di pelintir, diputer ke atas kayak pentol korek. Ada yang pake jilbab, tapi dililit ke leher, sampai nengok pun jadi berat, tak jauh beda sama orang yang pengen bunuh diri. Giliran ada yang pake jilbab biasa, dada udah ketutup tapi, alamak…, kenapa celana yang lebih layak dipake buat berenang dipake ke mall juga.
Jadi, salut juga aku dengan adik SMA ini.
Tapi tunggu dulu, weits ngapain tuh. Kok jilbabnya dilonggarin. Dan… brett, sekali renggut, lepaslah jilbabnya. Geblek, tu jilbab rupanya cuma seragam sekolah aja, di mall gak ada tulisan ‘kawasan wajib berjilbab’ sih. Atau tuh anak dah ngerasa adem di mall kali, sehingga hawa neraka gak terasa sampai di badan.
Kupunguti lagi kata-kata pujian yang terlanjur keluar, dan berserakan di lantai. Biarin aja diliatin orang, ada yang bantuin mungut juga (percaya? gila!).
Ah, jengah…,sebelum pulang beli mie ayam dulu…
Jakarta o jakarta…(sudut pandang kayak ending film, dimana tokoh utama berjalan menuju matahari senja, di jalanan panjang, yang samping kiri kanan ditumbuhi ilalang. Gaya berjalan sok cuek, dengan tangan dimasukkan ke dalam saku, sudut pandang kamera dari belakang. mantep dah…!)

jakarta emang konyol, penulisnya juga lagi konyol

Advertisements

11 responses to “Jakarta Emang Konyol

  1. Jakarta gg konyol! Jakarta tu tanah kelahiranku! gg sekonyol itu ko’, walau mungkin di beberapa bagian aku juga melihat jakarta lebih dari konyol! tapi tetap, Jakarta juga lahan perjuangan! disini juga terhampar hidayah! lebih-lebih ini adalah pijakan pinjaman dari Allah yang boleh ku tempati!
    gg sesulit itu mendapati jilbaber lebar ko’,
    mngkn ente memang melihat jakarta di sisi yang sama..
    blum usai niatan berpindah ke Jakarta di sisi lain…
    so, jangan lantas berkata Jakarta konyol hanya karena pemandangan yang ada di wilayah Bintaro (*yang sekarang statusnya daerah Tangerang ato masih Jakarta?*). kecuali mengumpat diri ente tu konyol…tafadhol!(*yang ini ane angkat tangan..syp tau ente bener2 konyol!^^hee)

    haduh..jadi berapi-api gini sih! afwan! rada tersungging nih!

  2. @: faraziyya
    hwa… aku dimarahin.
    Tenang aja ukh, gaya nulisku lagi gak serius, jadi isinya pun rada gak serius. Kejadian yang membuatku terkesan dengan ‘kerasnya’ Jakarta belum tak tulis nih…, so… just wait..
    afwan yo.., yang anak betawi…

  3. Tetapi aku masih percaya, pasti ada sisi baiknya. Bukankah segala sesuatu diciptakan penuh dengan keseimbangan…baik buruk, kekurangan dan kelebihan… Bukankah begitu??

  4. yup!! ‘aku’ betul sekalii!!

  5. Ya…ya…
    aku dikeroyok dua orang nih…
    Ndik…, bantuin…!

  6. Dan Jakarta… Tempat dimana orang-orang sekelas Helvy tiana rosa dan chairil anwar lahir dn berkembang…^_^

  7. sebelumnya, hmm… salut nug. makin cakep aja blognya.
    ngomong-ngomong masalah jakarta, masalahnya aku juga belum pernah kesana. tapi, kalo berbicara masalah “adik berjilbab” aku mungkin lebih berpengalaman. maksudnya lebih banyak melihat dan mengamati.
    apa pasal? jogJAKARTA itu kan kotanya pelajar. dan kebanyakan sekolah tingkat atas di negerinya sultan ini mewajibkan siswinya berjilbab. kenyataan yang ada di lapangan memang seperti itu. berangkat cantik tapi pas keluar pagar sekolah, “hup, berubah!”
    ngomong wanita berjilbab besar, jakarta juga banyak kok. walaupun kalau diambil prosentase dari seluruh penduduknya tidak begitu banyak. itu sependengaranku, bukan sepengelihatanku.
    seru juga topiknya…

  8. Kok pada nganggap serius ya. Aku sadar betul apa yang aku tulis ini hanyalah secuil kecil dari sudut pandang kota Jakarta. Banyak bagian dari kota ini yang belum aku singgahi. Tapi tak apa terimakasih telah ber-share, setelah I think and I write.

  9. bnyk respon, semo9a menambah proses thinking,

    request: bkin tulisan yg inspirasinya perjalanan via kereta api dun! pemandangan jakarta pinggiran rel, jg bagus u/ di review..

  10. Insya Allah, kalau ada kesempatan..
    btw, rumahku juga deket rel lho…
    bedanya, di tempatku, pinggiran rel kebanyakan sawah.

  11. hpfhh..sawah yah..
    nice view dun!
    disini malah pemukiman kumuh padat pula…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s