Bentangan Dua Sajadah

sujudpanjang

Aku suka melompati jendela kamar ketika datang malam dan kemudian tidur telentang di belakang rumah. Di situ aku bisa berpikir apa saja tanpa rasa takut bahwa gaung pikiranku akan tertangkap oleh pendengaran ibu.

Aku sering berpikir, seharusnya ibu tak perlu membenciku. Seharusnya dia mencintaiku, sama seperti ibu-ibu lain yang mencintai anaknya. Tetapi tidak. Rupanya ibu lebih suka membenciku.

Bukan hanya ibu, tetapi juga ayah. Sejak peristiwa itu, ayah terlihat lebih banyak diam dari biasanya. Ayah tak lagi menyapaku ketika berpapasan di ruang tamu, di dapur, atau di manapun di rumah ini. Dia hanya memandangku dengan sorot mata tajam, yang susah aku terjemahkan artinya, ketika bertemu. Tetapi, dari tatapan mata merah ayahku itu, aku tahu kalau dia ingin sekali melumat habis tubuhku.

Malam itu aku merasa sudah cukup dewasa. Sudah bisa untuk menentukan pilihan hidupku. Kuutarakan keinginanku untuk menikah pada ayah dan ibu. Pertama mereka senang sekali dengan keinginanku, tetapi kesenangan itu mendadak pudar. Amblas begitu saja seperti ditelan bumi, ketika kuperlihatkan foto calon menantu mereka.

Ayah diam, meresapi setiap belaian angin malam yang berhembus halus, tetapi tampak keras wajahnya, seperti menahan sesuatu yang ingin meledak di kepalanya. Sedangkan ibu, dia marah luar biasa. Dimakinya diriku habis-habisan. Tak sedikitpun dia mau mendengar penjelasanku.

“Kupikir kau sudah dewasa, sudah bisa mengatur hidup. Tetapi ternyata kau tidak becus sama sekali. Pakai otakmu!”

Kira-kira seperti itulah makian ibuku yang kuingat ketika kutunjukkan foto Salman padanya. Ayah dan ibu tak bertanya lebih jauh lagi tantang Salman padaku. Pemuda itu telah lebih dari dua tahun ini bekerja sebagai penjaga toko kelontong, tepat di samping toko kelontong milik ayahku. Mereka sudah mengetahui bagaimana sikap dan tingkah laku pemuda itu. Tetapi kupikir, mereka terlalu berlebihan menilai Salman. Memang penjaga toko kelontong tidak bisa dibilang sebagai profesi yang menjanjikan untuk masa depan, tetapi kami bisa bekerja bersama-sama nantinya. Kupikir gajiku sebagai penjaga sebuah toko swalayan, cukup untuk membantu menutupi kebutuhan-kebutuhan kami. Sedangkan sikap dan perangai Salman tampaknya tidak terlalu binal menurutkua. Dia tidak suka mabuk-mabukan atau kongkow di pos ronda seperti pemuda-pemuda lain. Merokok pun, kulihat jarang dilakukannya. Memang, dia juga tidak bisa dibilang seorang pemuda yang sholeh. Sholatnya juga masih bolong-bolong. Tetapi, bukankah semua orang bisa berubah, dan kupikir aku bisa membuatnya berubah jika kami menikah nanti.

Aku masih mencoba meyakinkan kedua orang tuaku akan keputusanku itu. Aku meyakinkan mereka bahwa aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa, usiaku sudah dua puluh lima tahun. Sudah mampu mengatur masa depanku sendiri. Kembali, mereka tidak mau mendengar penjelasanku. Argumen-argumen yang aku utarakan di depan mereka, malah membuat keduanya semakin murka. Tidak pernah kulihat ibu semarah itu, pun ayahku.

Aku tidak habis pikir dengan sikap kedua orangtuaku. Semua orang di dunia ini pasti punya kekurangan, begitu pula dengan Salman. Kenapa mereka sama sekali tidak mau menerimanya. Apakah kekurangan Salman layaknya sebuah aib yang tidak patut singgah di keluarga kami. Entahlah. Mungkin mereka mempunyai pandangan lain mengenai Salman yang tidak aku ketahui. Yang jelas, sampai malam ini sajadah yang terbentang di atas lantai kamarku masih saja satu. Menandakan aku masih sendiri. Sering, aku membayangkan dua sajadah terbentang di lantai kamarku. Ada Salman di depan sebagai imamku. Tetapi, lagi-lagi aku harus mengalah dan pasrah pada kenyataan bahwa Salman bukanlah pendamping yang cocok untukku. Paling tidak, seperti itulah pandangan kedua orangtuaku.

Malam mulai beranjak semakin larut. Aku masih telantang di halaman belakang rumah. Menikmati bintang-bintang, dan belaian angin yang semakin dingin. Langit tampak indah malam ini. Penuh dengan titik-titik putih bercahaya, berkilauan. Layaknya taburan berlian di hamparan pekatnya langit malam.

Mataku masih terpaku pada gemintang bertabur di angkasa sana. Meresapi belaian angin dan cahaya bulan yang setengah. Tiba-tiba saja, Salman telah hinggap dalam pikiranku. Mempermainkan kewarasan dan kesadaranku. Bayangan wajah dan tubuhnya menari-nari di setiap relung otakku. Aku biarkan pikiran ini menyeretku ke dalam imaji yang semakin sempurna. Aku tidak takut. Ibu tidak akan bisa mendengar gaung pikiranku di luar sini.

Mataku terpejam, membiarkan bayangan Salman menyeretku dalam euforia yang tak terkira indahnya. Sontak, aku tersadar. Salman tak bisa kumiliki lagi. Aku tak bisa membiarkannya mencabik-cabik dan mempermainkan hatiku dengan seenaknya. Dadaku yang semula dipenuhi dengan api cinta, kini berganti dengan api kebencian yang menjadi-jadi. Tak akan bisa terlupa, bagaimana dia mempesiang diriku begitu saja.

Dua minggu yang lalu, Salman datang ke rumah. Rupanya, dia masih hafal, kapan saat-saat aku sendirian di rumah, hingga dia tak perlu mendengar makian dan sumpah serapah ibuku. Tidak seperti yang sudah-sudah. Hari itu Salman datang tanpa bunga kamboja, mengalung di lehernya. Kali ini ia datang dengan setangkai bunga mawar di genggaman tangannya. Aku tak mempersoalkan perbedaan itu, atau lebih tepatnya tidak mengamatinya. Hatiku terlanjur diliputi kegembiraan yang membuncah, menyambut kedatangannya. Tak lupa senyum termanisku kusuguhkan untuknya. Tetapi saat itu wajahnya datar, dan dengan ringannya, dia mengatakan kalau dua minggu lagi dia akan menikah. Tidak denganku. Wanita berkulit putih dari ranah melayu, menjadi pilihannya.

“Aku telah menemukan cinta sejati” katanya saat itu.
“Munafik kau Salman!” teriakku dalam hati ketika mendengar perkataannya, sembari mataku tak henti-hentinya meneteskan bulir-bulir air mata penyesalan dan kemarahan. Marah pada diriku sendiri yang terlalu cepat mengartikan arti cinta sejati. Kupikir cinta sejati hanyalah ketika aku dan dia sama-sama suka, itu saja.

Salman masih memandangku dengan wajah datar dan setangkai mawar yang menelungkup dalam genggamannya. Sejurus kemudian pandangan matanya menunduk. Dia letakkan mawar yang sedari tadi digenggamnya, di lantai depan kakiku. Aku masih diam, terpaku, dan tak bisa berkata-kata lagi. Tetapi jelas kurasakan tubuhku bergetar hebat, dadaku bergemuruh. Ingin rasanya aku berteriak sekeras-kerasnya, tetapi entah kenapa lidah ini kelu dan bibir ini terasa terkunci. Renyai air mataku semakin deras, ketika dia membalikkan badannya, pergi meninggalkanku, mungkin untuk selamanya. Aku hanya bisa memandangi punggungnya dengan hati rapuh. Serapuh kelopak sang mawar yang dibawanya untukku.

Hembusan dinginnya angin malam menerpa wajahku, membuatku tersadar dari lamunan. Aku ingat hari ini adalah sujudhari pernikahan Salman. Malam ini, di kamarnya pastilah terbentang dua sajadah. Sajadah miliknya berada di depan, dan sajadah wanita dari ranah melayu itu ada di belakangnya. Betapa bahagianya mereka saat ini. Memadu kasih di atas bentangan lebar dua sajadah cinta. Selama ini, aku memimpikan sajadahku terbentang di belakang sajadahnya. Tetapi mimpi, tinggallah mimpi. Dia telah memilih bentangan sajadahnya sendiri, dan aku –terpaksa– mencoba menerima bentangan sajadah dari orang lain.

Siang ini, ibu memanggilku. Masih dengan suaranya yang keras dan galak. Nyaris tak bisa dibedakan, apakah saat itu ibu sedang marah atau tidak.

“Besok Kau nikah, tapi tidak dengan Salman. Ibu sudah punya calon. Jangan membantah!”

Mengingat kata-kata ibu, kembali menyadarkanku akan realita yang ada. Aku tidak bisa hidup dengan Salman. Aku harus bisa mengubah rasa cintaku, mengubah persepsi akan rasa cinta, paling tidak aku harus bisa membelokkan labuhan perahu cintaku. Ibu telah memilihkan seseorang yang menurutnya cocok untukku. Kupikir, ibu tidak membenciku. Ibu mencintaiku, sama seperti ibu-ibu lain yang mencintai anaknya. Aku sudah bisa membayangkan calon yang akan dibawa ibuku besok. Aku sudah tahu seperti apa sajadah yang akan dibentangkannya untukku. Mulai saat ini aku harus membiasakan bentuk pelabuhan, dimana perahuku berlabuh. Aku akan mencobanya, demi ibu yang –kini– mencintaiku. Aku akan mencintainya. Keganjilan dalam diriku harus segera diakhiri. Besok, di kamarku akan terbentang dua sajadah. Satu sajadah di depan, dan satu sajadah di belakang. Aku akan menempati sajadahku. Di depan.

Advertisements

8 responses to “Bentangan Dua Sajadah

  1. a nice story…
    yap. sudut pandang dan gaya nyeleneh macam inilah yang ada pada diri kita….

    btw kok ga di update? wes suwi lho….
    btw cerpen ini terinspirasi diri sendiri ya?
    hwakakakakakaka

  2. @: handika
    sial kau….
    ehm..ehm.. (membusungkan dada,dagu agak ditarik,suara bariton dikeluarkan), aku masih normal…

  3. Cerpen cerdas!!!
    Tak perlu aku mengulanginya… Masih ingat kan??

  4. bisa juga laki2 punya perasaan.Tak kusangka,kukira kau tak pernah mencintai perempuan.Sejak kapan jatuh cinta lagi,setelah cinta pertamamu itu????ehem

  5. sajadah di kamarmu ada brapa mas 😀

  6. 😀 😀 😀 😀 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s