untuk kata: ISTIQOMAH

Kulangkahkan kakiku dengan ringan di jalanan berdebu depan Plaza Ambarukmo. Tanganku masih menggenggam erat secarik kertas berwarna hijau muda, selebaran tentang pemberitahuan akan sebuah seminar dengan tema yang cukup klise sebenarnya; ‘antisipasi pemanasan global’. Tetapi, hal yang membuatku tertarik untuk datang ke seminar, di tengah cuaca panas seperti ini bukan pada isi seminarnya.

wanita-berjilbab2Tempo hari, iseng aku membaca papan pengumuman di loby gedung fakultas MIPA, Universitas Amad Dahlan, Yogyakarta. Universitas yang telah dua tahun ini telah menjadi ladang amalku, sebagai pengajar pada mata kuliah mikro biologi. Aku begitu terkejut membaca nama narasumbernya : Fidia Karmila Wintari, alumnus Wesleyan University, Delaware, Ohio, USA. Nama itu begitu familiar di telingaku. Tidak salah lagi, dialah salah satu sosok yang telah membuatku seperti ini, membuatku kuat menapaki jalan dakwah ini, dengan segenap keistiqomahan yang aku miliki.

Rasanya baru kemarin Mbak Fidia tinggal satu kos denganku. Tidak bosan-bosannya mengingatkanku untuk selalu istiqomah dalam setiap aktivitasku. Rasanya baru kemarin aku mendengar teriakan mbak Fidia yang tidak bosan-bosannya mengingatkanku manakala waktu sholat telah tiba. Ah, mendadak aku jadi rindu akan sosok yang selalu berjilbab lebar itu. Ingatanku menerawang jauh, menelusuri lorong-lorong dan sekat-sekat dalam memori otakku. Delapan tahun lalu, ketika kami masih SMA di salah satu SMA favorit di Yogyakarta, dalam satu rumah kos. Seperti kejadian sore itu, sore hari yang hangat, waktu telah menjelang petang, ketika aku masih tenggelam dalam novel yang kubaca ketika terdengar suaranya,

“Vi, sholat dulu, jama’ah yuk!”

Suaranya sudah sangat kukenal. Hampir setiap hari, terutama ketika datang waktu sholat, Mbak Fidia pasti terdengar. Selalu mengingatkanku. Awalnya, aku suka diingatkan seperti itu, tetapi lama-kelamaan bosan juga mendengar teriakannya, apalagi ketika saat-saat seperti ini. Nanggung sekali kupikir, novel yang kubaca sebentar lagi juga kelar.

“Ya mbak, sebentar. Duluan aja, ntar aku nyusul”

Akhirnya, kuputuskan untuk meneruskan baca novel sebentar. Tetapi rupanya, Mbak Fidia juga tak kurang akal. Dia menghampiriku, dan duduk di bangku sampingku.

“Mbak tungguin deh.” Katanya kemudian.

Terang saja aku jadi kikuk dibuatnya, terpaksa kututup sebentar novel yang kubaca. Dengan langkah berat kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk berwudhu, tak lupa wajah cemberut kupasang juga di depannya. Mbak Fidia cuma tersenyum saja melihat tingkahku.

“Setiap perbuatan itu harus selalu istiqomah Vi, konsisten dalam pelaksanaannya. Saat ini memang kamu yang membentuk kebiasaan itu, tapi suatu saat percaya deh, kebiasaan itu yang akan membentukmu”

“Ya Mbak”, sahutku sekenanya. Kata-kata Mbak Fidia kalau menasihatiku selalu saja sama, jadi bosan aku dibuatnya.
Kamipun sholat berjama’ah dengan Mbak Fidia sebagai imamnya.

***

Memori itu masih jelas kurasakan, tak pernah pudar walaupun sudah sewindu kami tidak berjumpa. Delapan tahun yang lalu pula, aku kehilangan sosok ‘cerewet’ itu. Mbak Fidia dapat bea siswa ke Wesleyan University, USA. Ia mengambil teknologi fisika plasma sebagai jurusannya. Aku sendiri yang mengantarnya ke bandara. Mataku sempat berkaca-kaca saat itu. Aku merasa kehilangan sosok kakak yang selalu mengingatkanku. Aku kehilangannya. Mbak Fidia pergi dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Sebelum benar-benar pergi, ia sempat mengingatkanku untuk selalu istiqomah. Aku hanya bisa mengangguk memandangnya. Bibirku kelu, dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes di pipiku. Mbak Fidia memelukku untuk yang terakhir kalinya. Kemudian ia berlalu meninggalkanku yang masih berdiri kaku. Jilbab lebarnya melambai-lambai ditingkahi semilir angin, siang itu.

Memori yang terkuak bersamanya, membuatku semakin bertambah rindu. Kupercepat langkahku. Tak kupedulikan bulir-bulir keringat yang membasahi wajah dan tengkukku. Aku ingin segera bertemu dengannya. Malam ini kurencanakan ia harus menginap di rumah kontrakanku, dan kali ini tak akan kubiarkan ia berteriak-teriak lagi mengingatkanku. Akan kutunjukkan perubahanku. Ah, aku tenggelam dalam euforia ini. Tidak sabar rasanya untuk segera sampai di Balairung Universitas Gadjah Mada, tempat seminar itu dilangsungkan.

Aku telah sampai. Rindu yang membuncah akan kulepaskan dengan peluk mesra dengan Mbak Fidia.Kulangkahkan kakiku menaiki tangga gedung dengan hati berdebar-debar. Aku tak percaya, setelah sekian lama, akhirnya aku akan menjumpainya. Lamat-lamat kudengar suaranya yang khas agak serak. Aku masih hafal dengan suaranya. Tetapi kali ini suaranya terlihat lebih matang dan berwibawa. Aku telah sampai. Kutengadahkan wajahku, mengamati sosok yang saat ini berdiri di podium. Kupicingkan mataku, sekedar memastikan aku tidak salah lihat. Yah, aku memang tak salah lihat. Ia memang Mbak Fidia-ku. Sejurus kemudian, aku berpaling menuju pintu keluar, diiringi bulir-bulir air mata yang sama ketika aku melepasnya delapan tahun yang lalu. Tetapi kali ini jilbab lebarku yang melambai-lambai ditingkahi jahilnya semilir angin, meninggalkan sosok yang memakai rok hitam, blus putih dan rambut yang tergerai sebahu yang berdiri di podium itu. Keistiqomahan itu mbak… [noe]

ditulis dalam ‘tekanan’ magang infomed

Advertisements

6 responses to “untuk kata: ISTIQOMAH

  1. afwan, ni cerpenmu?
    nice..^^
    “ditulis dalam ‘tekanan’ magang infomed”
    magang infomed mana? MBM?

  2. hahaha…..
    aku kalah….

    aku paling gak bisa nulis dangan sudut pandang wanita. its so hard. mereka makhluk apa, kita makhluk apa, pikiran macam apa dibalik macam macam mata aneh mereka.

  3. aku liat juga cerpen macam ini diforum kemaren, kayake cerpen macam ini trade mark nya anak2 mesjid banget… uda sering didaur ulang, tapi tetep “nice” kok. hehehehe….
    kita khan terapan???

  4. @: faraziyya:
    Ya, infomed MBM!

    @: handk:
    kalau malam aku kan berubah, ha..ha..

    tu cerpen dalam tekanan deadline, dimaklumi aja. keliaranku agak terpasung.
    kita? lu aja kali, hee.he..
    hm… Terapan…!!

  5. makanya sy kirain ni yg nulis cewe..
    hehe..
    dari postingan cerpen Salman sampe postingan yg ini, pk sudut pandang wanita sih 😀

  6. @: fathy
    wah kamu kurang teliti menilai sudut pandang cerpen “Salman”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s