Perbudakan Gaya Baru

budakBertahun-tahun yang lalu, perbudakan telah dihilangkan dalam sistem tatanan masyarakat dunia. Perbudakan dinilai melanggar hak asasi manusia terutama dalam hal hak kebebasan. Tetapi baru-baru ini sebuah fakta menarik telah terungkap, yang saya sebut dengan “perbudakan gaya baru”.

Berbeda dengan budak-budak belian bertahun-tahun lalu yang di bawa dengan paksaan, budak-budak gaya baru ini mengikuti majikannya dengan rasa sukarela, bahkan mereka rela mengeluarkan uang berjuta-juta rupiah demi bisa ikut majikannya. Persamaannya seringkali budak gaya baru ini mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Mereka adalah para TKI dan TKW yang bekerja di luar negeri.

Saat ini berita tentang TKI yang mendapat perlakuan tidak manusiawi di luar negeri jarang kita dengar, tetapi berita tentang TKW asal Indonesia yang terlantar di negara lain sering sekali kita dengar, bahkan mulai jarang dieksploitasi oleh media karena dianggap sudah merupakan hal yang lumrah. Tidak ada langkah pasti yang kemudian ditempuh untuk menghindari terulangnya kejadian semacam itu. Pemerintah seakan tutup mata dengan keadaan warga negaranya yang tertindas di luar negeri.

Kisah seorang TKW asal Flores yang bekerja di Kairo, Mesir pada seorang diplomat asal Yaman, cukup menjadi bukti akan fakta ini. Sebut saja namanya Hasniati. Ia bekerja di Mesir sebagai pembantu rumah tangga. Setiap hari ia bekerja hampir 24 jam, kalaupun ada waktu tidur, rata-rata hanya 2 jam per-hari. Makanan yang ia masak untuk keluarga diplomat asal Yaman itu pun tidak boleh turut ia nikmati. Untuk sarapan pagi Hasniati mendapat jatah selembar roti dan segelas teh. Sedangkan untuk makan malam, ia mendapat sepiring nasi dengan tomat dan cabai hijau yang diparut di atasnya. Menurut pengakuan Hasniati, segala yang dikerjakannya tidak ada yang benar. Minta ijin telpon tidak boleh, mau kirim surat ke Indonesia pun tidak diperbolehkan. Gajinya selama bekerja di Kairo juga belum pernah dibayarkan oleh majikannya. Ketika majikannya dipindah-tugaskan di Berlin, Jerman, Hasniati turut dibawa. Di Jerman nasib Hasniati tiada jauh berbeda dengan nasibnya sewaktu masih berada di Mesir. Kasus ini terungkap saat Hasniati dibawa ke rumah sakit di Berlin, karena menderita TBC parah. Melalui jalur diplomasi yang rumit dan berbelit, Hasniati bisa diselamatkan dari majikannya dan kini ia berada di Ban Ying, organisasi yang berurusan dengan perdagangan manusia di Berlin. Gaji Hasniati pun dibayar oleh majikannya sebesar 23 ribu Euro atau sekitar 313 juta Rupiah. Jumlah yang terkesan banyak ini, sebenarnya hanyalah gaji Hasniati selama berada di Jerman. Gajinya selama berada di Kairo tidak dibayarkan. Berikut keterangan staf Kedutaan Yaman di Jerman Felicitas El Dick.

Di Ban Ying Hasniati kini sudah bisa tertawa dan sedikit-sedikit belajar bahasa Jerman. Ia bertekad tidak ingin kembali ke Indonesia. Ia menganggap dengan bekerja di Jerman, gaji yang ia dapatkan jauh lebih banyak daripada gaji yang ia terima jika bekerja di Indonesia nanti.

Selain Hasniati, masih banyak kasus “perbudakan” lain yang menimpa TKW-TKW asal Indonesia. Lemah dan lambatnya tindakan diplomat Indonesia di luar negeri membuat majikan-majikan yang mempunyai pembantu orang Indonesia, tidak berpikir dua kali untuk menyiksa dan mempekerjakan mereka layaknya hewan. [noe, berbagai sumber]

Advertisements

2 responses to “Perbudakan Gaya Baru

  1. Selama pola pikir tentang perbedaan kasta dan ras masih ada, rasanya masih sulit membersihkan mental-mental perbudakan dari dunia ini…

  2. Iya sih..
    kasta majikan dan pembantu masih ada gap ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s