“383”

Di dalam sebuah gubug reot, di bawah jembatan Kalisoro cerita ini bermula. Tampak Tarja duduk di belakang sebuah meja usang, menatap tumpukan kertas di depannya, di bawah keremangan cahaya pagi yang belum begitu sempurna. Lagaknya sudah seperti pebisnis handal. Mengutak-atik angka di depannya, sesekali dia gigit ujung pulpen, nampak sedang berpikir. Dari arah dapur, Jamingan, anak lelakinya berlari menuju pintu. Di belakangnya, Tumiyah, istri Tarja, berjalan tergopoh-gopoh, sambil tangannya mengacung-acungkan sothil.

“Kurang ajar…!, anak setan…!, uang 3000 perak buat beli minyak diambilnya”. Maki Tumiyah keras-keras.

Tumiyah mengalihkan pandangannya ke arah Tarja.

“Kamu nggak lihat anakmu itu pak Tua…! uangku, 3000 perak, dicurinya, entah buat apa. Mana didikanmu pak Tua…!”

“Tenang saja Tum, nanti sore kita bakal kaya, aku yakin itu. Delima ini bakal jadi duit. Nanti sore, si Kontan akan ku buat bangkrut” Tarja berkata penuh keyakinan, sembari matanya tak pernah lepas dari angka-angka di depannya.

“Kaya apa…! Sudah berpuluh kali kau bilang begitu, nyatanya, uang kita ludes kau buat delima.”

Tarja tak mempedulikan umpatan istrinya. Dia masih yakin tebakannya kali ini nggak bakal meleset. Tadi malam dia mimpi aneh, mimpi itu terus berulang sampai 3 kali, dalam satu malam. Ketemu ular kepala 3. Setelah diutak-atik tak karuan, akhirnya ketemu angka 383. 3 untuk kepala ular, 83 untuk untuk simbol ular. Dia sangat yakin malam ini bakal kaya. Dia sangat yakin malam ini dia bisa bercinta dengan istrinya di Griya Arta, perumahan mewah itu.

Tarja masih asyik dengan angka-angka di depannya, ketika Jamingan masuk ke dalam rumah dengan baju yang basah kuyup. Konsentrasinya sedikit terusik.

sumpek“Dari mana saja kau heh…! Pulang-pulang baju basah kuyup begitu. Pasti kau habis mengintip janda sebelah mandi heh..! Dasar anak jaddah …” Tarja mengumpat anaknya dengan kesal. Pagi ini pikirannya sedang pusing tak menentu, memikirkan uang untuk beli delima nanti sore. Jamingan tidak mempedulikan bapaknya, dia terus saja ngeloyor ke dapur mencari makanan. Perutnya lapar, dari kemarin malam belum makan. Tarja memandangi punggung anaknya dengan kesal. Sebentar kemudian dia sudah kembali asyik dengan angka-angka di depannya.

Gubrak… Prang… Klontang….

“Dasar anak haram, masih berani pulang kau. Kau kemanakan uangku, buat beli minyak itu heh…, mana uangku…, dasar anak bejat!”

Dari arah dapur terdengar teriakan dan makian Tumiyah, diiringi suara barang-barang dilemparkan. Sejurus kemudian Jamingan berlari dari arah dapur menuju pintu keluar, masih dengan baju yang basah kuyup, ditambah wajah hitam, penuh arang terkena pukulan kayu dapur ibunya. Kembali Tumiyah berjalan tergopoh-gopoh ke ruang depan, sambil tangannya menggenggam kayu, dari tungku dapur.

“Lihat itu pak tua. Anakmu sudah tak punya moral lagi. Pagi-pagi sudah mencuri uang orang” Tumiyah kembali mengumpat pada Tarja.

“Jangan banyak bacot kau …, tutup mulutmu. Sekarang uang simpananmu pasti masih ada. Serahkan lekas padaku, barang 5 atau 10 ribu, besok kuganti dengan rumah di Griya Arta. Aku janji itu”

“Uang gundulmu, uangku buat beli minyak, tinggal 3000 perak, habis dicuri anakmu. Pergi ke pasar sana, cari uang. Jangan Cuma ngurusi delima sialan itu.”

“Delima sialan katamu…! Kamu yang sialan…! Kau tidak tahu heh. Si Karmin bisa beli tiger buat anaknya, itu juga karena delima, dan sebentar lagi aku bakal tinggal di Griya Arta, menikmati hidup”

Mimpi terus saja pak tua, terserah apa katamu. Delima sialan…!”

Tumiyah ngeloyor meninggalkan Tarja yang masih duduk mematung di depan meja usang itu, dengan nafas yang ngos-ngosan menahan marah.

Dari balik pintu depan, Ros, anak sulungnya masuk membawa sebungkus nasi. Dibukanya nasi itu, di depan bapaknya, dimakannya nasi bungkus itu dengan lahap tanpa mempedulikan bapaknya yang menelan ludah karena kelaparan.

“Dari mana kau dapat uang untuk beli nasi bungkus itu, pasti dari Jamingan, uangku itu. Belikan lagi aku nasi bungkus, pakai tahu.”

“Enak saja. Uang ini uangku, dikasih Ujang, 5000 perak tadi pagi.”

“Dikasih Ujang heh… minta lagi kau sama si Ujang. Ujang suka kamu kan, mintalah lagi sama si Ujang.”

“Nggak pak, malu aku minta sama Ujang”

“Besok aku ganti. Kau tidak ingin tinggal di Griya Arta, besok kita tinggal di sana”

“Nggak pak, malu …”

“Cepat kerjakan…! kau tidak bisa dibilangin pakai mulut ya…, apa perlu sapu ini yang bicara heh…”

Ros pergi meninggalka bapaknya, tak lupa dibawanya nasi bungkus yang tinggal setengah. Takut dia menghadapi wajah beringas bapaknya.

Matahari perlahan mulai merangkak naik. Dengan susah payah ia naik, hingga sampai tepat di atas ubun-ubun. Siang hari lepas tengah hari. Hari lagi panas-panasnya. Di sebuah warung kopi, di bawah pohon waru dipinggir sawah telah berkumpul beberapa orang laki-laki usia sekitar 50-an tahun. Masing-masing jari mereka terselip sebatang rokok klobot, paling banter Gudang Baru. Dari mulut mereka tercium bau mirip spiritus, bau arak rupanya. Sambil tertawa-tawa mereka mengobrol tak tentu arah. Dari mulai harga padi yang anjlok, hingga janda di ujung desa yang baru ditinggal mati suaminya. Mereka bicara tak menentu. Asal njeplak saja.

Hawa panas siang itu tertutupi oleh rindangnya pohon waru yang menaungi warung itu. Pemilik warung itu, Kontan namanya, dikenal di desa Kalisoro itu sebagai bandar delima. Delima adalah sebutan untuk kertas judi togel yang mereka gunakan. Disebut delima karena kertas itu merah warnanya. Di bagian atas tergambar buah delima, diapit oleh gambar wayang. Sudah buram sekali nampaknya gambar togel itu.

Dari arah jalan, terlihat Tarja dengan langkah cepat-cepat, berjalan menuju warung itu. Di tangannya tergenggam uang seribuan 8 lembar. Berhasil juga rupanya dia memaksa Ros meminta uang pada si Ujang. Dengan wajah sumringah, Tarja berjalan menuju warung itu, si Kontan menyambutnya.

“Hoi tarja, senang benar kau. Berani pasang berapa kau hari ini!”

“Jangan banyak bacot kau Kontan, hari ini aku bakal menang besar, tebakanku kali ini nggak bakal meleset”

“Jangan banyak bual kau, terakhir kali uang belanja istrimu ludes kau pasang togel” Kontan menjawab dengan tertawa.

Tarja tidak menanggapi olok-olok Kontan. Dia menjawabnya dengan uang 8000 perak yang dia taruh di atas delima bertuliskan angka 383 di tengahnya, berwarna hitam tebal dengan coretan-coretan kecil di sekelilingnya.

“Kubeli warungmu dengan delima ini Kontan” Tarja berkata dengan yakinnya.

“kau berkata layaknya sudah jadi juragan saja, paling-paling uangmu ludes lagi Jo…” Karmin ikut-ikutan mengolok-olok Tarja diikuti gelak tawa laki-laki penghuni warung itu.

“Jangan banyak omong kalian. Jangan menyesal kalau besok aku sudah menempati rumah di Griya Arta” Kata Tarja dengan penuh keyakinan.

“Griya Arta katamu. Jangan mimpi Jo… Susah ya susah saja, jangan tambah jadi gila…” Karmin masih mengolok-olok Tarja.

Begitulah akhirnya, warung itu penuh dengan celotehan dan olok-olokan para lelaki. Tentu saja Tarja-lah yang menjadi objek mereka siang itu.

Matahari mulai beringsut turun, memancarkan sinarnya yang sudah mulai berwarna jingga kemerahan, menandakan hari sudah mulai sore. Suasana warung itu menjadi lebih sejuk, dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi, membuat penghuninya tidak betah berlama-lama membuka mata. Karmin sudah tertidur di dipan pojok warung sejak siang tadi. Sementara Tarja masih terus terjaga sambil harap-harap cemas menanti nomor togel yang akan keluar malam itu. Mulutnya telah menghabiskan 7 batang Gudang Baru. Jam dinding warung menunjukkan 16.00. Siaran nomer yang keluar paling cepat jam 21.00. Masih 5 jam lagi, masih lama, pikir Tarja. Dia memutuskan untuk pulang dulu, sekadar makan untuk mengganjal perut yang belum terisi sejak kemarin. Rasa lapar menggelayutinya.

Di rumah Tarja. Rupanya Tumiyah belum hilang rasa marahnya pada Jamingan. Sambil menyapu lantai rumahnya yang berdebu itu, dia masih saja mengomel-ngomel, menggerutu, seakan-akan dia memarahi dirinya sendiri. Tarja pulang, dengan santainya melenggang di depan Tumiyah yang masih ngedumel. Arah langkahnya menuju dapur. Dia buka tudung penutup meja makan. Tidak ada apa-apa, hanya bakul nasi kosong dan layah bekas sambal.

“Tum…,tum…, mana makanan…! Teriak Tarja kesal.

“Makanan dari mana…! Tanya anakmu itu. Si Jamingan, dia apakan uangku yang 3000 perak itu..!

“Aku kelaparan, istri macam apa kau ini, tak becus kau buat makanan, mati saja kau…! Tarja berteriak dengan kesal.

“Memangnya kau becus cari uang. Kerjamu cuma main togel saja, suami macam apa kau ini” Tumiyah berteriak juga, tak mau kalah.

Tarja kesal, merasa dipermainkan istrinya. Rasa cemas, ditambah lapar yang melilit perutnya, membuat marah Tarja mencapai puncaknya. Diraihnya sapu ijuk yang dipegang Tumiyah, dia genggam bagian ijuknya. Tanpa ampun dipukulnya Tumiyah dengan membabi buta. Tak dihiraukannya teriakan dan rintihan Tumiyah yang memohon ampun. Puas melampiaskan kemarahannya, Tarja melemparkan sapu itu ke arah Tumiyah. Tanpa rasa bersalah, dia ngeloyor ke luar rumah. Sumpek dia di rumahnya sendiri. Dia pergi tak menentu, yang penting dia pergi jauh-jauh dari rumah sialan itu, siapa tahu dia bakal dapat makanan buat ganjal perutnya. Ditinggalkannya Tumiyah yang masih menangis sambil memegangi punggungnya, bekas sabetan sapu Tarja.

Malam mulai larut, jam di stasiun Kalimati berdentang 9 kali, membangunkan mimpi indah Tarja. Tarja masih merasakan tangannya memegang guling di kamar mewahnya, perumahan Griya Arta. Mimpi itu masih dirasakan olehnya. Membuat dia teringat akan nomor togelnya yang dipasang tadi siang. 383 adalah nonor keberuntunganku, pikir Tarja. Tarja bangkit dari tidurnya. Dengan semangat, dilangkahkan kakinya menuju warung si Kontan. Tak tahu sama sekali tarja akan nasib Jamingan atau si Ros. Yang ada di kepalanya hanya angka 383, angka keberuntungannya.

Menyusuri jalan kecil di tengah sawah, hati Tarja berdebar-debar tak karuan, antara cemas dan keyakinan tinggi. Amat yakin dia kalau nomernya bakalan tembus malam ini. Tanda-tanda itu sudah terasa sejak tadi sore, firasatnya mengatakan begitu. Di ujung tikungan itu, warung si Kontan sudah kelihatan. Terlihat sebagai cahaya remang-remang dari jauh. Sampai di depan warung Kontan, nampak di dalam sudah banyak orang. Semuanya ramai membicarakan nomor yang tembus malam ini.

“Sialan…aku kurang angka 3, padahal sudah kumintakan jampi-jampi ke Mbah Karmo” Umpat salah seorang dari mereka.

“kamu masih jauh, kurang angka 3, lha aku, susunannya aja yang kebalik. Sialan…, ludes uang gabahku”. Umpat yang lain pula.

Begitulah, celotehan-celotehan itu masih terus bersahutan. Samar-samar Tarja mendengar diantara mereka menyebut nama dirinya, entah apa yang dibicarakan. Mendengar namanya disebut, makin bertambah yakinlah Tarja akan keberuntungannya malam ini. Tanpa ragu dia masuk ke dalam warung, sesaat semua pasang mata yang ada di warung itu beralih ke dirinya. Suasana hening sejenak. Tak lama, orang-orang di warung itu kembali tenggelam dalam obrolannya msing-masing. Karmin yang pertama kali menyambut Tarja.

“Hoi Jo… sini, sudah kutunggu kau..”

“Ada apa Min.., nomerku tembus ya…!” Tanya tarja bangga, dikuti senyum lebarnya, menampakkan giginya yang hitam penuh karang gigi disana-sini. Karmin terdiam sesaat.

“Lihat saja sendiri di tembok” kata Karmin tenang.

Tarja segera mengalihkan pandangannya ke arah tembok, di samping kirinya. Memandang deretan angka yang tertera dengan seksama. Matanya mendelik, tak percaya dia dengan apa yang dilihatnya. Mulutnya menganga lebar, sesekali dikucek matanya unruk memastikan dia tidak sedang bermimpi. Dia masih saja tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Berkali-kali dia eja deretan angka di depannya. Tak bosan-bosannya dia mengeja deretan angka itu. Angka-angka itu layaknya deret fibonacci yang memusingkannya. Tertera jelas dengan huruf balok, ditulis dengan tinta hitam, tebal, angka itu.

Tarja diam, dengan ekspresi datar. Sesaat kemudian dia tertawa lebar, keras. Tawa keputus-asaan. 838, nomer yang tembus malam ini. Tarja gagal, untuk kesekian kalinya, dia tetap saja gagal. Tapi kegagalan kali ini berbeda, dia sudah sangat yakin pada mimpinya. Nomer yang dipasangnya pasti tembus. Dia pun sudah mengumbar janji pada Karmin, Kontan, Tumiyah, dan si Ros.

Dihempaskan badannya di dingklik panjang, tubuhnya lemas, dia sudah kehilangan gairah lagi untuk hidup. Seluruh nyawanya seakan sudah ia pertaruhkan untuk 383, nomer keberuntungannya. Dan sekarang dia gagal. Apa kata Tumiyah nanti, pikirnya. Direbutnya botol topi miring yang di genggan Karmin, diteguknya minuman itu hingga hampir tandas. Kepalanya sudah mulai pusing. Dia keluar dari warung itu, masih dengan tawa lebarnya. Jalannya terhuyung-huyung. Entah ke mana lagi dia akan pergi, sudah tak dihiraukannya, dia seret kakinya, tak tentu arah, dia sudah tak peduli. Tarja terus melangkah dengan nafas yang terengah-engah, badannya panas, dipengaruhi minuman keras. Malam yang gelap, dunia serasa gelap, segelap-gelapnya bagi Tarja yang sudah tak mampu menatap dunia fana, dunia yang dielu-elukannya, dalam kesendirian.

Advertisements

8 responses to ““383”

  1. afwan jiddan buat mas h*** yang gambarnya ku pakai, tanpa ijin pula, he..he..

  2. huff,,panjangnya…

  3. Makanya aku potong cerpennya…
    Di baca, hanya untuk buang-buang waktu saja…

  4. yapp
    walaupun panjang
    nice cerpen lah

    numpang lewat yak
    eh salah ding
    yang bener kan numpang baca

  5. @: deadyrizky
    terima kasih atas kunjungannya…
    silakan lewat…

  6. nice post!

  7. kenapa yang dipajang foto ini???mending pajang fotomu waktu di warung itu deh,ato fotonya fatchu pas mabok.ato lebih baik lagi foto semua artis di film itu.ok sob???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s