ia menginspirasi

Mataku masih terpaku pada 5 cm ketika ku-nyata-kan sosok itu. Tak terlalu istimewa. Kaus cream dan celana hitam adalah busananya, dengan kepala yang agak botak. Yang membuatku terpaku, dan merasa terkagum, sosok itu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuknya.

Mungkin kalian pikir, tidak ada yang aneh, seseorang membaca Al-Qur’an. Sudah lumrah kita temui.

OK! Bayangkan situasi seperti ini: di dalam supermarket, Bintaro Plaza, di toko buku Gramedia, membaca sambil berdiri. Al-Qur’an itu bukan kepunyaannya, tetapi milik Gramedia yang sejatinya untuk dijual. Tetapi tidak masalah, toh pihak Gramedia sendiri tidak mempermasalahkan pelanggannya yang membaca di tempat, bahkan bangku hitam, nyaman, dan berbusa disediakan sebagai tempat baca.

Penasaran, kudekati dia dengan masih berpura-pura membaca. Suaranya indah, tartil yang bagus. Tak terlalu keras atau terlalu pelan. Dia benar-benar tilawah, bukan sekedar membolak-balik halaman, untuk mengetahui kualitas Al-Qur’an itu, dan kemudian membelinya. Bukan! Kunyatakan sekali lagi, dia benar-benar tilawah.

Kuingat ketika itu ba’da ashar. Terbayang dalam ingatan, dia sholat ashar bersamaku, di mushola kecil, samping Bintaro Plaza. Kuat dugaanku, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menyempatkan tilawah setelah sholat ditagakkan, apapun yang terjadi.

Cerdas sekali kupikir, dia bisa memanfaatkan Al-Qur’an di Gramedia untuk memenuhi janjinya, dan menggapai keridhoan-Nya.

Beberapa lembar halaman, selesai dibacanya. Dia tutup Al-Qur’an bersampul biru “lux” itu dan meletakkannya di tempat semula. Mataku terus mengekor, kemana dia pergi. Rupanya, dia masih ingin berlama-lama di ruangan yang penuh buku itu. Dan tahukah kawan, dia menuju ke jejeran rak yang berlabel “sastra”, bidang yang amat aku gemari. Matanya liar, menatap setiap jengkal jejeran buku di rak “sastra” itu. Sesaat kemudian pandangan matanya berhenti, bibirnya tersenyum, tampaknya dia sudah menemukan buku yang dicarinya. Diambilnya buku itu. Dia beringsut ke pojok ruangan, duduk di lantai keramik dengan posisi ber-sila, dan kembali tekun “tilawah”. Terbaca. Buku itu kumpulan cerpen pilihan kompas. Hm… Selera yang bagus, pikirku. Ingin kudekati dan kujabat erat tangannya. Sayang, tubuh ini tak kuasa melakukannya. Nyaliku terlalu ciut untuk mengungkapkannya. Semoga ia bisa menginspirasi.[nu]

Advertisements

3 responses to “ia menginspirasi

  1. Maddah kehidupan yang tak kan pernah kita dapatkan di bangku kuliah…..

    Bukan siapa tapi apa…..

  2. hmm… dunia mempunyai banyak sisi. walau kadang sisi itu sederhana dan mudah terlewatkan mata…

  3. sosok2 inspiratif memang banyak.
    tak hanya d t4 yg ia-nya ‘wajar’, namun bahkan di t4 yg tak pnh tlintas oleh kita. well, karna qta memang tak pernah menga-azzamkan u/ sengaja mencarinya bukan??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s