Islam For All

Rupanya, penampilan masih menjadi batu dasar pijakan untuk menilai seseorang. Paling tidak, seperti inilah yang aku rasakan ketika pandangan mata mereka berteriak protes padaku.

Ketika embun belum juga beranjak dari peraduannya, 4 Ramadhan 1429 H. Masih dalam suasana semangat, awal Ramadhan. Di depan perpustakaan kampus; kajian rutin. Sudah cukup banyak peserta yang hadir ketika aku sampai di lokasi. Masing-masing dengan wajah cerah, berbinar-binar, dan tentu saja mengenakan pakaian “bercirikan” ikhwah – baju koko, kemeja formal, jaket formal, dan celana kain –. Sangat kontras sekali dengan pakaianku kala itu – celana jeans, kaos oblong, dan jaket yang jauh dari kata formal –. Sekilas kulihat mereka menatapku, dengan lirikan mata menyeluruh dari atas ke bawah, terkesan heran dan meremahkan. Kuacuhkan saja, toh aku masih bisa menampakkan senyumku dengan balutan pakaian seperti ini.

Hal yang sama juga dialami seorang kawan, ketika sholat mengenakan celana jeans di masjid ponpes. Lebih parah lagi, tak hanya tatapan mata liar didapatnya, ia langsung ditegur oleh salah satu petinggi ponpes.

Kutanyakan padamu kawan, apa yang salah dengan pakaian seperti itu. Toh, kami masih bisa menutup aurat kami. Kuakui, dengan pakaian seperti itu kesan yang ditimbulkan akan berbeda dengan pakaian model ikhwah tadi. Tapi, apakah Islam semata-mata dilihat hanya dari pakaian. Islam tidak hanya ada pada baju koko, celana ngatung, kemeja, kopyah putih, dan jilbab lebar. Tapi Islam juga hidup pada keringat para kuli, teriakan serak kernet metromini, tarikan urat pengamen jalanan, dan bisingnya peluit tukang parkir pasar. Janganlah kau memandang sebelah mata pada mereka kawan. Hanya karena mereka tidak mengenakan pakaian seperti kebiasaan. Tidak semuanya berpikiran culas dan picik. Pakaian yang melingkupi hati mereka tak akan sama dengan balutan baju di tubuhnya. Gelembung-gelambung ini masih terlalu ringan untuk kita genggam …

Advertisements

5 responses to “Islam For All

  1. yang penting ada jenggotnya nug…

  2. seng nulis neng nduwur wes dowo anune… eh jenggote…. maklum wae…

  3. terima kasih kepada semua teman-teman yang telah berkenan berkunjung dan meninggalkan komentar di blog saya

  4. identitas.

  5. ajining lirih gumantung lathi,,,ajining saliro gumantung ing busono….
    hemhem 🙂 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s